
Sejak kembali dari kampus Krystal belum juga keluar dari kamarnya, bahkan Lucia belum melihatnya hari ini. Lucia juga sudah mencoba menghubungi Brave dan juga Mark, tapi kedua pria itu tak ada yang bisa di hubungi.
“Apa kalian telah mengantarkan makanan untuk menantuku?” Tanya Lucia kepada pelayan.
“Sudah nyonya, tapi Nona muda menolaknya.” Jawab pelayan.
Lucia benar-benar khawatir dengan Krystal, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada menantunya. Wanita paru baya itu lalu kembali menghubungi Brave, dan berharap putranya itu akan menjawabnya.
Dan benar saja, Brave akhirnya menjawab teleponnya.
“Brave!” Teriak Lucia.
“Ada apa ibu, kenapa kau berteriak seperti itu?” Tanya Brave dari seberang sana.
“Kau di mana? Apa kau sedang ada masalah dengan putriku? Kenapa bukan kau yang datang menjemputnya dan mengantarnya pulang?” Begitu banyak pertanyaan yang di layangkan oleh Lucia untuk Brave.
“Ibu, bertanyalah secara perlahan. Aku baru saja selesai meeting.” Ucap Brave.
“Istrimu belum juga keluar dari kamar sejak pulang dari kampus, bahkan dia belum menemui ibu. Itu membuat ibu khawatir, dia juga menolak untuk makan.” Ucap Lucia yang terdengar begitu khawatir.
“Aku akan segera pulang, sampai jumpa di rumah ibu.” Ucap Brave lalu mematikan sambungan teleponnya dari sang ibu.
..
..
Satu jam kemudian, Brave telah kembali dengan terburu-buru.
“Bagaimana, apakah istriku belum juga keluar dari kamar?” Tanya Brave kepada pelayan dengan berjalan menuju lantai dua.
“Tidak Tuan, Bahkan kami tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam kamar Nona muda.” Jawab pelayan itu.
“Bodoh! Kenapa kalian tidak melakukan apapun sedari tadi, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada istriku?” Bentak Brave kepada para pelayan itu.
Brave pun sampai di depan kamarnya, dan melihat ibunya yang sedang berusaha memanggil Krystal.
“Ibu.”
“Brave. Lakukan sesuatu, ibu tidak mendapatkan jawaban apapun dari Krystal.” Ucap Lucia begitu khawatir dengan putri menantunya.
“Krystal...Krystal apa kau di dalam? Ini aku sayang.”
“Sayang, buka pintunya.” Brave terus mengetuk pintu itu, tapi Krystal tak kunjung membukannya.
Brave pun kehilangan kesabarannya, dia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan istrinya di dalam sana. Akhirnya dia mendobrak pintu kamarnya, dan pintu kamar itu pun terbuka.
Brave dan Lucia segera masuk ke dalam kamar itu, tapi mereka tidak melihat Krystal di dalam sana. Itu membuat Brave dan Lucia semakin khawatir.
“Krystal...Kau dia mana?”
“Nak, kau di mana sayang? Ini ibu.” Lucia mencari ke seluruh ruangan di kamar itu tapi tidak menemukan menantunya.
Brave berjalan menuju kamar mandi, dia berharap jika istrinya itu sedang berada di dalam sana. Saat dia membuka pintu kamar mandi, dia bernafas lega karena melihat Krystal sedang berada dalam jacuzzi.
“Haah, kau di sini.”
“Sayang?” Panggil Brave.
Tapi Krystal tidak menjawab Brave, seolah-olah wanita itu tidak mendengar keberadaan suaminya.
“Krystal?” Panggil Brave lagi, dan berjalan mendekati jacuzzi.
Brave melihat Krystal menutup matanya, dan saat dia menyentuh wajah istrinya, dia merasakan kulit Krystal begitu dingin. Dan merasakan air dalam jacuzzi itu begitu dingin, bukan air hangat.
“Krystal! Apa yang sedang kau lakukan?” Brave segera masuk ke dalam jacuzzi dan mengangkat istrinya keluar. Dia merasakan tubuh Krystal begitu dingin.
“Aaaaa...Apa yang terjadi pada putriku?” Teriak Lucia melihat keadaan Krystal.
“Brave, apa yang terjadi?” Tanya Lucia, wanita paru baya itu benar-benar khawatir.
Brave tidak menjawabnya, kini pikirannya telah kacau karena keadaan istrinya. Dia akan segera membawa Krystal ke rumah sakit.
“Siapkan mobilku sekarang juga.” Teriak Brave.
Lucia menarik selimut yang ada di kamar itu, lalu menutupi tubuh Krystal agar hangat. Brave lalu kembali mengendongnya menuju mobil.
“Apa yang sedang kau lakukan? Jika terjadi apa-apa dengan dirimu, aku tidak akan memaafkanmu!” Batin Brave.
“Brave, ibu ikut.” Ucap Lucia, meminta untuk ikut ke rumah sakit. Dia tidak akan tenang sampai dia mendapatkan kabar baik, jika menantunya itu baik-baik saja.
Lucia duduk di bangku penumpang dengan menjaga Krystal. Sedangkan Brave, dia yang mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
“Krystal sayang, bertahanlah.” Ucap Lucia.
Dan tak lama kemudian, mereka telah tiba di rumah sakit. Di depan rumah sakit, sudah ada yang menunggu mereka, yang siap menangani Krystal.
“Tuan Brave, tidak perlu khawatir.” Ucap kepala rumah sakit itu kepada Brave. Brave meraih kerah baju, kepala rumah sakit itu lalu mencengkramnya.
“Bagaimana bisa aku tidak khawatir melihat keadaan istriku seperti itu?”
“Brave! Hentikan.” Tegas Lucia, melepaskan tangan Brave dari kepala rumah sakit itu.
"Nyahlah dari sini!" Kata Lucia, dengan menatap tajam kepada kepala rumah sakit itu. Dan dia pun segera pergi dari sana.
“Ibu, Brave.”
“Alexa.” Alexa tiba, setelah dia mendapatkan kabar jika Krystal masuk rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada Krystal?" tanya Alexa.
“Brave, tenanglah. Aku yang akan menanganinya.” Alexa mengelus lembut lengan adiknya itu, lalu segera masuk ke dalam ruangan di mana Krystal sedang di tangani.
Di dalam sana, Alexa memeriksa keadaan Krystal. Dan dia menemukan sesuatu yang janggal. Karena merasa belum yakin, dia kembali memeriksanya, dan sesaat Alexa tersenyum kecil.
"Pindahkan dia ke kamar inap." Kata Alexa kepada perawat.
Di luar sana, Brave dan Lucia menunggu dengan rasa takut, mereka berdua akan sangat menyesali dan menyalahkan dirinya jika sesuatu terjadi kepada Krystal. Tapi tak lama kemudian, Alexa telah keluar dari ruangan itu.
“Kak, bagaimana? Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Brave menghampiri Alexa.
“Brave, tenanglah. Krystal baik-baik saja, dia akan segera di pindahkan ke ruang inap. Dan ada kabar baik untukmu.” Ucap Alexa tersenyum kepada adiknya itu.
“Kabar baik apa?” Tanya Lucia.
Dan pintu ruangan itu kembali terbuka dan melihat Krystal yang akan di pindahkan ke ruangan inap. Brave segera mengikuti istrinya, tanpa mendengar kabar baik yang akan di sampaikan oleh Alexa.
“Ayo ibu, aku akan memberitahukan kabar baik itu saat tiba di kamar inap Krystal.” Ajak Alexa untuk segera menyusul Krystal.
Setelah tiba di kamar inap Krystal, Brave duduk tepat di samping istrinya. Menatap wajah Krystal yang begitu pucat.
“Ibu, tadi sudah menghubungi Alice.” Kata Lucia.
“Brave, Ibu.” Panggil Alexa.
“Ada kabar bahagia untuk kalian.” Lanjut Alexa.
“Apa kabar bahagia itu, nak?” Tanya Lucia.
“Krystal sedang hamil, Brave kau akan segera menjadi seorang ayah, dan ibu kau akan segera mempunyai cucu.” Ucap Alexa, dan itu membuat Brave menatap ke padanya.
“Aaaa, apa kau serius Alexa?” Tanya Lucia, wanita paru baya itu benar-benar bahagia mendengar kabar kehamilan menantunya.
“Iya ibu, aku telah mengeceknya berulang kali. Dan Krystal positif hamil.” Jawab Alexa.
Brave, pria itu terdiam dengan menatap istrinya yang masih menutup mata. Apa yang baru saja dia dengar itu sungguh membuat dirinya bahagia, sangat bahagia. Dia akan menjadi seorang ayah?
“Aku, aku akan menjadi seorang ayah?” Ucap Brave, dengan mengulurkan tangannya ke perut Krystal yang masih terlihat datar.
“Brave.” Lucia pun segera memeluk putranya itu.
“Ibu, aku akan menjadi seorang ayah. Kami akan segera menjadi orang tua.” Imbuhnya dengan begitu bahagia.
“Selamat nak, ibu sangat bahagia dengan kabar baik ini.” Ucap Lucia.
“Selamat Brave.” Ucapnya kepada adiknya itu.
“Terima kasih, kak.” Ungkap Brave menatap Alexa. Lalu kembali menatap istrinya.
“Cepatlah sadar, aku akan memberitahukan kabar bahagia untukmu.” Bisiknya kepada Krystal.
..
..
Malam itu, Charles yang baru saja tiba di bandara Los Angeles. Sebuah mobil yang sudah menunggu kedatangannya, di luar bandara.
“Selamat datang kembali Tuan.”
“Siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?” Tanya Charles, karena dia merasa jika tidak ada yang mengetahui akan kembalinya dia ke Amerika. Dan tiba-tiba saja dia melihat salah satu anak buah Brave datang menjemput dirinya di bandara.
“Tuan Brave.” Jawab salah satu dari mereka.
“Brave?”
“Kau membuatku merasa malu, Brave.” Batin Charles.
“Silakan masuk Tuan.” Charles pun masuk ke dalam mobil, dan dalam sesaat mobil itu telah meninggalkan bandara.
“Di mana Brave saat ini?” Tanya Charles.
“Di rumah sakit Tuan.” Jawabnya kepada Charles.
“Rumah sakit? Ada apa? Siapa yang sedang sakit?” Tanya Charles merasa khawatir.
“Nona muda Krystal, Tuan.”
“Krystal?”
“Bawa aku ke sana sekarang.” Ucap Charles.
“Baik Tuan.”
>>..<<
..
..
..
..
Hay, maaf semuanya karena baru saat ini bisa update lagi. Maaf banget, karena kemarin sempat janji untuk update tapi, faa tidak menepati janji. Kali ini faa tidak akan janji apapun, tapi cerita ini akan tetap lanjut. Walaupun kemarin sempat ada masalah, yang rencananya cerita ini akan di pidahin, tapi itu di batalkan. Akan tetap ada di platfrom NovelToon, dan tidak akan ada di platfrom lain.
Terima kasih banyak, karena sudah mau setia menunggu cerita yang selalu tidak jelas kapan updatenya, Heheh...