My Husband Is A Psychopath

My Husband Is A Psychopath
Psychopath: Promise



Jam 4 dini hari, brave baru saja kembali. Saat brave masuk ke dalam kamarnya, dia melihat istrinya telah tertidur pulas.


Brave melepaskan baju yang di kenakan, lalu naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya, tepat di samping Krystal.


Menarik Krystal, ke dalam dekapannya.


”Maafkan aku.” Gumam brave, memandangi wajah cantik istrinya.


***


Pagi harinya, sinar matahari masuk dari celah-celah jendela, mengenai wajah sepasang suami-istri yang masih tertidur pulas.


Krystal membuka matanya, dan pertama kali yang dia lihat adalah, wajah tampan pria yang telah menjadi suaminya.


”Kapan dia kembali?” Gumam Krystal, karena tidak menyadari kedatangan brave.


Saat, Krystal ingin bangkit dari tempat tidurnya, perhatiannya kembali kepada brave, sesaat dia menyadari luka yang ada di dahi brave...


”Ada apa dengannya?” Gumam Krystal, dengan khawatir menyentuh dahi brave, yang terluka.


Dengan tergesa-gesa, Krystal segera pergi mengambil kotak p3k dan juga air hangat, untuk membersihkan luka brave, dia takut itu akan menyebabkan infeksi.


Tak lama kemudian, Krystal telah kembali. Dia segera duduk tepat di samping brave, yang masih tertidur.


Dengan hati-hati, Krystal memulai membersihkan luka brave dengan air hangat.


Tapi sepertinya itu, membuat brave terganggu dan membuka matanya.


”Sayang..” Panggil brave, memegang tangan Krystal, yang membersihkan lukanya.


”Dari mana luka ini?” Tanya Krystal, menatap brave.


”Ini tidak apa-apa, tidak perlu khawatir.” Kata brave, tanpa menjawab pertanyaan Krystal.


”Aku akan membersihkan lukanya” Ucap Krystal, terlihat begitu khawatir.


Brave diam, menurut apa yang di inginkan oleh istrinya. Brave melihat, Krystal begitu khawatir, hanya karena luka kecil di dahinya.


Dengan telaten, Krystal mengobati luka brave. Setelah selesai, Krystal menatap brave, tatapan yang penuh pertanyaan, yang sangat sulit untuk Krystal pertanyakan kepada suaminya sendiri.


”Ada apa?” Tanya brave, menatap Krystal, yang juga menatapnya.


”Aku tidak tau, dari mana kau mendapatkan luka ini. Tapi bisakah, aku meminta satu hal darimu?” Tanya Krystal.


”Apa yang kau inginkan?” Tanya brave.


”Ku mohon, jangan pernah terluka sedikitpun. Aku tidak ingin, dan tidak akan pernah mau, melihat mu terluka lagi. Bisakah kau lakukan itu untukku?” Pinta Krystal, dia benar-benar tidak ingin, jika pria yang dia cintai terluka.


Brave diam, dengan tatapannya tak lepas dari Krystal. Mendengar permintaan istrinya, yang tidak ingin dia terluka, begitu membuat brave, merasa beruntung memiliki Krystal, sebagai pendamping hidupnya.


Begitu banyak pertanyaan, untukmu. Tapi aku seakan, tidak memiliki keberanian untuk mempertanyakan itu kepadamu?” Batin Krystal.


”Krystal.. Aku tidak bisa berjanji, untuk tidak terluka, kita tidak pernah tau, apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, sebesar apapun aku terluka, aku akan berusaha untuk membuat luka itu sembuh, karena aku memiliki dua wanita yang perlu aku lindungi, yaitu, kau dan ibu.” Kata brave, menatap lembut Krystal.


”Sekarang aku, bisakah aku meminta satu hal darimu?” Tanya balik, brave.


”Apa?” Tanya Krystal.


”Tetaplah percaya padaku, dan apapun yang terjadi kedepannya, tetaplah bertahan.” Pinta brave, menangkup wajah Krystal, dengan kedua tangannya.


”Brave, kau mengatakan hal itu berulang-ulang kali, seakan kau, mengetahui hal yang akan terjadi kedepannya.” Ucap Krystal, merasa brave terlalu sering mengatakan, kata-kata itu.


”Bisakah, kau lakukan untukku?” Tanya brave.


”Jawabanku tetap sama, apapun yang terjadi, aku akan selalu bersama mu, selamanya. Jadi kau tidak perlu khawatir, karena aku ingin menjalani hidupku, hanya bersamamu.” Jawab Krystal, tersenyum menatap suaminya itu.


Kau harus memegang janjimu itu, kau tidak bisa melanggarnya!” Batin brave.


Begitulah kehidupan, setiap manusia memiliki rahasia. Di saat dia memiliki seseorang yang begitu dia percaya, seakan dirinya ingin bercerita semua rahasianya, yang selama ini dia simpan. Tapi ketakutan, akan mereka yang tidak bisa menerima rahasia itu, membuat dirinya kembali, memilih bungkam dan menyimpannya sendiri.


Dan itulah, yang saat ini di rasakan oleh brave. Dia ingin sekali mengungkapkan, semua rahasianya kepada Krystal, istrinya. Tapi karena ketakutan terbesarnya, kehilangan Krystal, membuat dirinya memilih untuk menyembunyikannya lebih lama lagi. Brave percaya, jika waktu itu akan segera tiba, cepat atau lambat. Dan dia harus bersiap, menerima apapun yang akan terjadi, saat waktu itu tiba.


”Hmm..” Angguk Krystal.


Yah, Krystal memang akan melanjutkan studinya, di salah satu universitas bergengsi di Amerika serikat, dan yang terpenting, Krystal berada, di satu universitas dengan Helen. Dan hari ini, adalah hari pertama dia masuk kuliah.


”Bersiaplah, aku akan mengantarmu.” Kata brave, dan di balas anggukan oleh, Krystal.


Tapi tiba-tiba, terdengar pintu kamarnya di ketuk.


Tok..tok..tok


Seseorang datang, mengetuk pintu kamar brave dan Krystal.


”Aku akan membuka pintunya.” Kata Krystal, di balas anggukan kecil, oleh brave.


”Selamat pagi nyonya muda” Sapa pelayan Vivi, kepada Krystal.


”Pagi, berhentilah, memanggilku seperti itu!” Kata Krystal, dia tidak suka jika dirinya di panggil nyonya muda.


”Maaf nyonya muda” Ucap pelayan Vivi.


”Huffff, ada apa?” Tanya Krystal, menanyakan maksud kedatangan pelayan Vivi ke kamarnya.


”Nona Felicya datang untuk menemui tuan muda brave, dia telah menunggu tuan muda brave, di bawah.” Jawab pelayan Vivi, memberitahu Krystal, jika Felicya datang, untuk menemui brave.


Mau apa dia datang, sepagi ini?” Batin Krystal.


”Hmm..baiklah, katakan padanya, bahwa brave akan segera menemuinya.” Kata Krystal, kepada pelayan Vivi.


”Baik, nyonya muda” Patuh, pelayan Vivi. Lalu berpamitan, meninggalkan kamar Krystal.


Krystal kembali menutup pintu kamarnya, dan kembali berjalan ke arah brave, yang masih berada di atas tempat tidur.


”Siapa?” Tanya brave, setelah melihat istrinya mendekat.


”Nona Felicya datang sepagi ini, untuk menemui mu!.” Jawab Krystal.


”Ada apa dia datang, tanpa memberitahu aku terlebih dahulu?” Gumam brave, karena dia juga tidak tau, jika Felicya akan datang.


”Kau bersiaplah, aku akan menemuinya terlebih dahulu.” Kata brave, dan di balas anggukan kecil oleh Krystal.


Brave bangkit dari tempat tidurnya, lalu segera berjalan keluar dari kamarnya.


”Brave, tunggu!” Teriak Krystal, memanggil suaminya.


Brave, menghentikan langkahnya. Setelah mendengar suara istrinya.


”Ada apa, sayang?” Tanya brave.


”Apa kau ingin menemui sekertaris mu dengan memakai kimono seperti ini?” Tanya Krystal, dengan raut wajah tidak suka, karena brave hanya memakai kimono tidur, yang memperlihatkan dada bidangnya.


Brave tersenyum kecil, menatap sang istri. Sangat jelas, jika istrinya itu sedang cemburu.


”Ganti bajumu, baru kau boleh menemuinya!” Tegas Krystal.


”Kalau begitu, kita mandi saja.” Ucap brave.


”Haaa?” Bingung Krystal.


”Aaaaa” Pekik Krystal, tiba-tiba saja brave mengendongnya, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


”Kau mau apa?” Tanya Krystal.


”Mandi denganmu.” Jawab brave dengan singkat.


”Tapi bagaimana dengan Nona Felicya?” Tanya Krystal lagi.


”Biarkan saja, karena istriku lebih penting. Kau bisa menemani aku, menemuinya, setelah kita bersiap.” Jawab brave, dan di balas anggukan dan senyuman manis, Krystal.