
Musim dingin telah di mulai, semua orang bersemangat menyambut musim dingin tahun ini. Tidak terkecuali keluarga Krystal.
Lucia yang begitu bersemangat, karena ini adalah tahun yang menyenangkan. Tahun pertama bagi menantu kesayangannya ada dalam keluarga Arthur.
“Tahun ini, ibu rasanya begitu bersemangat.” Bisik Alexa, kepada Mark.
“Ibu begitu bahagia sejak kedatangan Krystal.” Ucap Mark, menatap sang ibu yang sedang memantau para pelayan menghias rumah, untuk menyambut musim dingin.
“Hmmm, Kau benar, Krystal, gadis yang special. Aku berharap dia akan abadi bersama dengan Brave.” Harap Alexa, tersenyum menatap foto pernikahan Brave dan Krystal, yang terpajang di ruang keluarga.
“Semoga saja!” Sambung Mark.
Lucia terlihat mendekat ke arah Mark dan Alexa. Terlihat senyuman itu tak luntur sama sekali, sembari berjalan.
“Ibu, kau begitu bahagia.” Kata Alexa, kepada Lucia, setelah duduk di hadapannya.
“Bagaimana tidak, musim dingin kali ini adalah tahun pertama bagi Krystal. Dan ibu berharap, tahun selanjutnya, ibu sudah bisa merayakannya dengan cucu-cucu ibu.” Seru Lucia, dengan bersemangat.
“Termasuk anak kalian!” Lanjut Lucia, menatap ke arah kedua pasangan itu.
“Ibu, menikah saja belum. Sudah memikirkan anak.” Ucap Alexa, merasa jika itu belum pantas di bicarakan.
“Mark! Kau dengar itu? Kapan kau akan menikahi Alexa?” Tanya Lucia, menatap Mark.
Mark, hanya tersenyum. Tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan Lucia.
Alexa menatap Mark, bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa Mark tak menjawab pertanyaan Lucia? Bahkan dia berharap mendengarnya langsung dari mulut Mark.
“Jangan terlalu lama, ibu tidak ingin menunggu lebih lama lagi!” Ucap Lucia, memperingatkan putranya itu.
“Hmmm.” Deham Mark, menatap Alexa yang berada di sampingnya.
“Kau kenapa?” Tanya Mark, melihat wajah Alexa, di tekuk.
“Tidak.” Jawab Alexa, dengan singkat.
Mark tahu ada yang salah dengan Alexa. Mark lalu mencoba membuat Alexa berbicara. Lucia, bahagia melihat Mark, bisa bersama dengan wanita yang dia cintai.
“Jaga cinta mereka Tuhan, kebahagiaan anak-anakku, adalah hal terpenting dalam hidupku. Jika kau bisa menjamin mereka, aku akan pergi dengan tenang.” Batin Lucia, berdoa agar Tuhan selalu memberikan kebahagiaan kepada anak-anaknya.
***
“ Hana sayang, jangan terus berlari! Nanti kau bisa jatuh, dan kau bisa terluka.” Ucap Krystal, memperingatkan keponakan kesayangannya itu. Yang sedari tadi terus saja berlari-larian.
Ya, kini Krystal berada di kediaman keluarga Hemissen. Setelah kembali dari kampus, dia memutuskan untuk ikut bersama Helena. Karena sudah lama, dia tidak melihat kakak dan keponakan cantiknya.
Sebelumnya, Krystal telah meminta izin pada suami dan ibu mertuanya untuk datang menemui kakaknya. Dan Brave, bahkan berpesan agar dia tetap di sana, sampai dia datang menjemputnya.
Kini Krystal sibuk menemani Hana bermain. Tanpa menghiraukan kakaknya yang sedari tadi memperhatikan dirinya, dia lebih fokus bersama si cantik, Hana.
“Mama, Papa. Dia sudah begitu dewasa saat ini, andai saja kalian melihatnya. Tapi dia masih terlihat sama di mataku, dia tetaplah adik kecilku.” Batin Alice, memperhatikan adiknya itu.
“Hahaha..Mama, tolong aku dari bibi. Dia tidak ingin melepaskan aku..Hahaha..” Tawa gadis kecil itu mengelar seisi ruangan, karena Krystal tak hentinya menggelitiki Hana.
Alice tersenyum, lalu mendekat ke arah Krystal dan putrinya. Ikut bergabung dengan mereka yang sedang asyik bermain.
“Krystal.” Panggil Alice, setelah duduk di hadapan adiknya.
Krystal, lalu berhenti menggelitiki Hana. Dan beralih menatap sang kakak.
“Iya kak, ada apa?” Tanya Krystal, menatap Alice.
Alice menggelengkan kepalanya, dan hanya tersenyum menatap Krystal.
“Kakak, ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Krystal.
“Apa kau bahagia?” Tanya Alice, tidak tau kenapa? Tapi dia hanya ingin memastikan, jika adiknya itu bahagia.
“Kenapa kakak bertanya seperti itu?” Tanya Krystal, merasa bingung, karena Alice mempertanyakan itu tiba-tiba.
“Krystal” Panggil Alice, dengan menggenggam kedua tangan adiknya.
“Maafkan aku.” Ucap Alice, meminta maaf pada Krystal.
“Kenapa kau minta maaf kak, kau tidak memiliki kesalahan padaku.” Kata Krystal, menatap Alice.
“ Maaf untuk hari itu. Hari di mana kau meminta untuk piknik bersama mama dan papa, aku tidak ikut. Jika saja saat itu aku ikut, aku berharap bisa menghabiskan waktu bersama.” Kata Alice, dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap adiknya.
“Kak, apa yang kau katakan. Kau tahu, setelah kejadian hari itu, aku berterima kasih kepada Tuhan karena kau selamat. Andai saja saat itu kau ikut bersama kami, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu. Hari itu, cukup mama dan papa yang pergi! Tapi jika kau juga, mungkin aku akan mengila.” Jelas Krystal, menatap Alice.
“Ayo lupakan semuanya kak, jangan terbebani lagi untuk semua yang terjadi di masa lalu kita. Kau telah memiliki keluarga yang harus kau jadikan prioritas hidupmu. Dan aku pun juga.” Lanjut Krystal, mengusap air mata Alice, yang sudah tak bisa dia tahan lagi.
“Bagaimana, kau bisa menjadi sekuat ini?” Tanya Alice, karena melihat adiknya itu benar-benar telah tumbuh menjadi wanita yang kuat, dan juga dewasa.
“Karena mu, dan orang-orang yang menyayangiku, mengasihiku tanpa batas. Karena mereka, aku bisa sekuat ini. Dan kau yang berperang penting dalam kehidupanku, setelah mama dan papa.” Jawab Krystal, dengan senyuman yang tak hilang dari wajah cantiknya.
Alice lalu menarik Krystal ke dalam pelukannya.
“Aku sangat menyayangimu.” Ungkap Alice.
“Aku juga begitu menyayangimu kak.” Balas Krystal, mengelus lembut punggung kakaknya.
Mereka pun melepaskan pelukannya, tersenyum menatap satu sama lain. Lalu beralih menatap Hana, yang tetap asyik bermain sendiri.
“Hana sayang, masih ingin bermain dengan bibi?” Tanya Krystal, menatap gadis kecil itu.
“Ya, bibi harus menemaniku bermain.” Celetuk gadis kecil itu, walaupun cara berbicaranya belum begitu jelas terdengar.
“Baiklah.” Ucap Krystal, lalu kembali menemani Hana bermain.
Tak berapa lama kemudian, Helena datang dari lantai 2, menghampiri Alice, Krystal dan Hana.
“Hay.” Sapa Helena, pada mereka bertiga.
“Hay.” Balas Krystal, tersenyum dengan kedatangan Helena.
“Helena, apa kau telah menemukan pria yang kau suka?” Tanya Alice, kepada adik iparnya.
“ Ada apa kak, kenapa bertanya seperti itu?” Tanya balik Helena.
“Tidak apa, apa kau sudah menemukannya?” Tanya Alice lagi.
“Aku belum memikirkan hal itu!” Jawab Helena, tanpa menatap Alice.
Krystal, yang mendengar jawaban Helena pun, ikut memberikan tanggapannya.
“Why? Bukankah, kau mengatakan jika ingin menikah muda?” Tanya balik, Krystal.
“Aku telah mengubahnya, aku tidak ingin memikirkan hal itu sebelum aku puas dengan masa mudaku.” Jawab Helena.
“Dan jangan bertanya lagi, akan hal itu padaku!” Lanjut Helena, menegaskannya.
“Baiklah.” Ucap Krystal.
“Aku selalu memikirkannya setiap saat.” Batin Helena.
Pukul 11 malam, Krystal masih berada di kediaman Hemissen. Dia sudah tertidur dari 1 jam yang lalu, di kamar Helena. Entah, dia sudah lama menunggu Brave menjemputnya, tapi suaminya itu tak kunjung tiba. Hingga membuat dia tertidur.
Tepat pukul 11.30, Brave, tiba di kediaman Hemissen. Brave segera masuk ke dalam, setelah pelayan di kediaman Hemissen, membukakan pintu untuknya.
“Selamat datang tuan.” Sambut pelayan.
“Di mana istriku?” Tanya Brave.
“Nona Krystal berada di kamar nona Helena. Apa perlu saya panggilkan?” Kata pelayan, dan menawarkan untuk memanggil Krystal.
“Apa dia tidur?” Tanya Brave.
“Iya tuan, nona Krystal telah tidur sejak 1 jam yang lalu.” Jawab pelayan itu.
Helena datang dari lantai 2, menghampiri Brave.
“Kak Brave, kau sudah tiba. Sejak tadi dia mencoba untuk menghubungimu, tapi tak bisa. Mungkin karena kelelahan, menemani Hana bermain, dia tertidur.
“Ahh, iya. Ponselku mati sejak tadi, aku lupa untuk mengisinya” Ucap Brave, menjelaskannya pada Helena.
“Aku akan membawanya kembali, bolehkah aku masuk ke kamarmu?” Tanya Brave, meminta izin Helena untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Silahkan.” Jawab Helena, memberikan izin pada Brave untuk masuk ke dalam, membawa istrinya pulang.
Brave berjalan naik ke lantai 2, ke arah kamar Helena, dan tak lama kemudian dia sudah keluar dengan mengendong Krystal, yang sudah tertidur pulas.
“Helena, Terima kasih. Tolong sampaikan salam ku pada Alice dan Kakak mu. Maaf karena tak bisa menemui mereka.” Ucap Brave, pada Helena.
“Iya, aku akan menyampaikannya nanti.” Jawab Helena.
“Kami pamit.” Kata Brave, berpamitan kepada Helena.
“Iya, hati-hati di jalan.” Ucap Helena, mengantarkan Brave dan Krystal hingga ke pintu utama.
Setelah berpamitan, Brave dan Krystal kini telah meninggalkan kediaman Hemissen.