My Husband Is A Psychopath

My Husband Is A Psychopath
Psychopath: Callista



Musim dingin telah di mulai, semua orang bergembira karena kembali merasakan musim dingin tahun ini. Termasuk Krystal, dia adalah orang yang paling bahagia. Karena ini adalah musim dingin pertamanya bersama dengan suami dan keluarga barunya.


Malam harinya Krystal berada di balkon kamarnya, menatap salju pertama yang baru saja turun. Krystal tersenyum saat salju berada di tagannya.


“Papa, mama, aku sangat merindukan kalian.” Gumamnya. Tiba-tiba seseorang datang dan memeluknya dari belakang.


“Brave...” Krystal tahu jika itu adalah suaminya.


“Kau bisa masuk angin karena kedinginan.” Ucap Brave memeluk Krystal dengan erat.


Krystal berbalik menghadap Brave, dan menatap suaminya itu dengan tersenyum. Senyuman yang menggambarkan betapa bahagianya Krystal. Bahkan dia tidak bisa mengucapkan kata-kata yang bisa menjelaskan rasa bahagianya.


“Tetaplah seperti ini, karena aku selalu ingin melihat senyumanmu setiap saat.” Ucap Brave, menangkup wajah Krystal, menatap dalam mata wanitanya itu.


“Aku mencintaimu, Brave.” Ungkap Krystal, dan mencium bibir Brave.


“Aku juga mencintaimu.” Ungkap Brave.


***


“Ibu, apa semuanya berjalan dengan lancar?” Tanya Mark yang kini bersama dengan Lucia di ruangan keluarga.


“Seperti yang kau mau, semuanya akan beres dalam beberapa hari. Jadi kau tenang saja, karena semuanya akan beres jika berada di tanganku.” Jawab Lucia, tersenyum menatap putranya.


“Kau yang terbaik ibu, aku mencintaimu.” Seru Mark mencium pipi kanan Lucia.


“Ibu juga mencintaimu, nak.” Balas Lucia.


“Kau hanya perlu bersiap, tidak perlu memikirkan hal yang lain. Dan pastikan saja, jika semuanya berjalan sesuai rencana. Jangan sampai Alexa tahu! karena semuanya akan sia-sia.” Kata Lucia dan di angguki kepala oleh Mark.


“Untuk itu, ibu tak perlu khawatir.” Ucap Mark.


..


..


Di apartemen, Alexa yang kini sedang termenung dalam kamarnya, entah apa yang sedang dia pikirkan. Sejak seharian ini dia benar-benar sedang kacau, bahkan di rumah sakit pun dia tidak bisa fokus bekerja.


“Ayolah Alexa, kenapa kau harus memikirkan hal yang belum tentu benar. Ayo berhenti memikirkan hal-hal yang aneh.” Ucapnya pada dirinya sendiri.


“Ahh... Sial!” Umpat Alexa.


Ya, sejak Lucia bertanya hari itu pada Mark, kapan Mark akan menikahinya? Tapi Mark terlihat acuh oleh pertanyaan Lucia, dan itu mengganggu pikiran Alexa. Dan sejak hari itu, Mark banyak berubah. Mark bahkan jarang menelepon dirinya lagi, dan Mark terlihat acuh padanya. Seharusnya malam ini mereka menghabiskan waktu bersama, tapi Mark tiba-tiba saja membatalkannya tanpa alasan yang jelas.


“Terserah, aku tidak peduli!” Ucapnya dengan menatap langit-langit kamarnya.


“Mark sialan!” Umpatnya pada Mark.


***


“Charles, apa kau benar-benar akan kembali ke Amerika?” Tanya Callista yang kini sedang bersama dengan Charles.


“Iya, aku akan berangkat 2 hari lagi. Aku merindukan keluargaku, selama aku di sini itu membuat aku tersiksa karena berada jauh dari mereka.” Jawab Charles.


“Lalu bagaimana dengan aku?” Tanya Callista dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Callista, apa maksudmu?” Tanya Charles, tak mengerti dengan pertanyaan Callista.


“Kumohon, jangan pergi, aku menyukaimu Charles.” Ungkap Callista. Meraih tangan Charles dia genggam.


“Callista, jangan bercanda! Kau tahu, aku hanya menganggapmu temanku saja.” Ucap Charles menatap Callista.


“Apa hanya itu? Apa kau masih mencintai wanita yang menjadi istri dari sahabatmu?” Tanya Callista, dengan air mata yang bercucuran membasahi wajahnya.


“Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku tidak pernah mencintaimu dan tidak akan pernah bisa! Karena aku hanya menganggapmu sebagai temanku.” Ucap Charles menegaskannya pada Callista, lalu pergi dari sana setelah mengatakan hal itu.


“Hiks..Hiks.. kau benar-benar jahat Charles.” Tangis Callista, menundukkan wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.


..


..


2 hari kemudian. Seperti yang di katakan oleh Charles, dia akan kembali ke Amerika hari ini. Kini dia telah siap, dia akan segera berangkat ke bandara. Sejak 1 jam yang lalu, dia telah menunggu kedatangan Callista yang tak kunjung datang. Bodoh! jika Charles masih mengharapkan Callista datang memberikan ucapan selamat tinggal, setelah kejadian malam di mana Callista mengatakan bahwa dia mencintai dirinya.


“Maafkan aku, Callista.” Gumam Charles.


Charles lalu beranjak dari tempat duduknya, dan mengambil koper yang telah siap. Dan berjalan keluar, meninggalkan apartemen yang selama ini dia tinggali selama berada di sana.


“Aku kembali untuk memperbaiki semuanya.” Batin Charles.


Charles kini telah meninggalkan apartemennya, dia menumpangi taksi untuk menuju bandara. Hanya 1 jam lagi waktu yang dia punya sebelum meninggalkan New Zealand. Dia masih berharap jika Callista datang menemui dirinya untuk yang terakhir kalinya.


Tak butuh waktu lama, Charles tiba di bandara. Sebelum dia masuk ke dalam, dia menunggu beberapa saat, sampai dia benar-benar masuk.


“Callista, aku berharap untuk bisa bertemu dengan kau suatu hari nanti. Maaf, dan selamat tinggal.” Gumam Charles berjalan masuk ke dalam bandara.


15 menit lagi dia akan segera masuk ke dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Amerika.


“Charles!” Teriak seseorang yang memanggil dirinya.


“Callista...” Ucap Charles tersenyum menatap wanita itu akhirnya datang juga.


Callista berlari ke arahnya, dan langsung memeluk dirinya.


“Aku berharap kau akan tetap di sini, tapi itu tidak mungkin.” Ucap Callista menatap Charles.


“Terima kasih, karena kau sudah mau datang menemui diriku.” Ucap Charles tersenyum menatap wanita yang ada di hadapannya.


“Pergilah, aku tidak bisa menahanmu lagi. Aku hanya berharap, waktu bisa mempertemukan kita kembali.” Kata Callista tersenyum pilu menatap Charles.


“Jaga dirimu baik-baik, aku juga berharap untuk kita bisa bertemu kembali.” Ucap Charles.


Perhatian, para penumpang pesawat .... dengan nomor penerbangan .... tujuan Los Angeles dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.


Pemberitahuan keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi oleh Charles akan segera berangkat.


“Pergilah, aku akan baik-baik saja.” Ucap Callista, tersenyum menatap Charles.


“Hmm..” Deham Charles.


“Callista, jaga dirimu baik-baik. Aku pergi, bye..” Ucap Charles sebelum dia pergi. Dan itu hanya di balas anggukan oleh Callista.


“Bye..” Ucapnya dengan melambaikan tangannya kepada Charles.


Charles juga melambaikan tangannya kepada Callista. Sesaat kemudian, Charles benar-benar sudah tak lagi terlihat dari pandangan Callista. Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya luruh juga. Dia masih belum menerima pria yang dia cintai pergi.


“Charles ... aku tidak tau apakah aku akan ikhlas atau tidak? Aku takut jika, aku tidak bisa melupakan cintaku padamu. Tapi aku akan selalu berdoa pada Tuhan agar kau selalu bahagia di mana pun kau berada. Dan jika kau di takdirkan bersamaku, kita pasti akan kembali bertemu. Aku tidak peduli, akan berapa lama aku menunggu. Aku akan tetap menyimpan dirimu dalam hatiku." Batin Callista.