My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Bab terakhir.



"Aku memiliki sebuah ide,"


glek


Kesatria Gio menelan ludahnya susah payah, seluruh tubuhnya terasa mati kering. Sebuah ide yang tak bisa ia bayangkan ide apa itu. "I-ide apa Baginda?"


"Hem," Kaisar Fictor mengelus dagunya. "Semenjak kapan kamu mengintrogasi ku?"


"Ide ku itu sangat berlian sekali."


Semoga bukan pasir.


"Aku akan menyuruh Duke Arland membuat sebuah pesta dan mengungkapkan perasaannya, begitu."


Baiklah lanjutkan.


Kesatria Gio mencerna perkataan Kaisar Fictor, semenjak kapan Kaisar Fictor memiliki sebuah ide cemerlang? bukankah dulu, selalu otaknya yang berputar.


"Aku Genius, bukan?"


Kaisar Fictor menepuk bahu Kesatria Gio, seolah membanggakan dirinya karena memiliki ide cemerlang.


Untungnya


Kesatria Gio menghembuskan nafas dalamnya. Ia merasa lega, tidak ada ide yang akan membuatnya mati perlahan.


"Alfred!"


"Wah, ada ibu ku."


Kesatria Gio mengelap dahinya yang basah oleh keringat. Ia mengikuti Kaisar Fictor menemui Aleta dan Violeta.


"Baginda."


Violeta dan Aleta serta yang lainnya memberikan hormat. Violeta memang berniat mencari Kaisar Fictor untuk menyambutnya, tapi siapa sangka dia melihat pertarungan sengit antara ayah dan anak.


"Selamat datang di kediaman Duke, maaf karena tidak bisa menyambut Baginda dengan baik."


"Tidak apa-apa."


"Aku datang kesini karena ada keperluan, jadi sekalian mampir."


"Duke."


Violeta menatap Alfred yang menunduk, ia tidak membenarkan perbuatan Alfred. Duke Arland harus terluka di kedua lengannya.


"Selamat datang Baginda. Silahkan masuk."


Kaisar Fictor melihat darah segar yang keluar dari lengan Duke Arland. Ia begitu takjub, Duke Arland tidak marah atau pun mengeluh. "Sebaiknya, Duke mengobati dulu luka di lengan Duke."


"Ah, iya."


"Duke," Violeta menggenggam tangan Duke Arland. ia menuntun Duke Arland sampai ke kamarnya setelah berpamitan dengan Kaisar Fictor.


"Mia, panggilkan Dokter."


"Tidak perlu ini hanya luka kecil," ujar Duke Arland. Luka itu tak berarti apa-apa di tubuhnya.


"Benarkah, hanya luka kecil." Violeta menekan luka lengan Duke Arland, hingga meringis kesakitan.


"Kenapa masih meringis? hanya luka kecil kan."


Duke Arland tertawa, ia memeluk Violeta yang duduk di tepi ranjangnya. Mendekapnya dengan erat dan mencium aroma tubuhnya. "Maafkan aku Vio, maafkan aku." Duke Arland terisak, tubuhnya bergetar hebat.


"Ya, maafkan aku Duke."


"Nyonya, Dokter sudah datang."


Violeta mengurai pelukannya. ia melihat seorang laki-laki setengah baya memakai sebuah jas putih. "Silahkan Dokter."


"Duke, aku melihat Alfred dulu."


"Iya,"


Violeta segera menuju kamar Alfred, ia juga khawatir dengan keadaan putranya itu.


"Sayang."


Violeta membuka pintu kokoh itu, matanya tertuju pada Alfred yang sedang berdiri di depan cermin. "Alfred!"


"Sayang."


"Apa aku keterlaluan, Bu?" lirih Alfred. Jauh dalam hatinya, ia menyesal telah berlaku kasar pada Duke Arland. Laki-laki itu tidak pernah membalas serangannya yang semakin brutal.


Violeta berjongkok, lalu memeluk tubuh Alfred dari arah belakang. "Ibu, tahu Nak. Tidak mudah bagimu melakukan semua ini."


"Aku salah, Bu." Alfred memutar tubuhnya, ia langsung memeluk Violeta dan menangis dalam pelukan sang Ibu.


Hiks


Hiks


Hiks


"Maafkan Alfred, Bu."


"Sudah, tidak apa-apa. Ibu mengerti sayang."


Alfred semakin merasa bersalah, Ibunya, Violeta tidak memarahinya, justru mengerti dirinya. Hatinya semakin larut dalam luka yang semakin dalam. Entah, apa yang akan terjadi? seandainya Duke benar-benar tiada. Sebenci-bencinya seorang anak, pasti di dalam hatinya masih ada rasa sayang walaupun sedikit.


Sedangkan di kamar Duke Arland.


Kaisar Fictor menunggu Duke Arland selesai di perban, ia akan menyampaikan idenya yang paling cemerlang.


"Apa Duke sedang marahan dengan Duchess?"


Duke Arland tak menjawab, ia merasa hubungannya akan kembali membaik setelah melihat ketakutan di mata Viola. "Iya, tapi aku yakin hubungan ku dengan Duchess akan segera membaik. Hanya saja, putra ku Alfred."


Bagaimana cara menaklukan hati Alfred, anak itu seperti es beku saja.


"Bagaimana kalau aku memberikan sebuah usulan?"


"Usulan?" Duke Arland mencari sesuatu di mata Kaisar Fictor.


"Begini, bagaimana kalau Duke menggelar sebuah pesta. Lalu Duke mengumumkan Duchess sebagai Ratu di hati Duke, begitu. Duke harus menyiapkan sebuah cincin untuk Duchess."


Baginda, bagaimana kalau Duke menolak? semua orang tahu. Derajat laki-laki lebih besar dari wanita. Tidak akan ada yang mau merendah untuk wanita.


"Benar, aku setuju dengan ucapan Baginda."


Kesatria Gio dan Lio melongo, rahangnya seakan terjatuh, kedua bola matanya seakan melompat. Sebuah ide yang langsung di setujui begitu saja.


Memang, hubungan calon ayah mertua dan menantu tidak beda jauh.