My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Tampan Itu Seperti Apa



"Aleta, setelah kamu di sana. Jangan melupakan Kaisar Fictor yang tampan ini."


Aleta melirik ke atas, ia tidak mengerti maksud tampan itu. "Baginda, tampan itu seperti apa?" Tanya Aleta menatap lekat wajah Kaisar Fictor.


Bam


Hujan batu itu langsung jatuh ke tubuhnya. Bagaimana bisa dia mengatakan tampan pada anak kecil, yang Aletanya tahu hanyalah orang baik.


Kaisar Fictor berdiri, dia akan menjelaskan dekripsi tubuhnya. Tentang apa ketampanan itu, setidaknya, Aleta akan mengingat wajah tampannya.


"Seperti diriku, hidung ku mancung, kulit putih, tinggi dan jangan lupakan aku kuat."


Oh


Aleta hanya mengangguk, "Aku tidak butuh orang tampan Baginda, yang aku butuhkan hanyalah orang baik seperti ibu. Kata Ayah, kelak jika aku dewasa, aku harus mencari orang yang baik dan tidak memiliki banyak istri.


Wus


Pedang itu langsung menancap di jantungnya, sakit tapi tak berdarah. Gagal total dia meyakinkan Aleta untuk mengingatnya.


"Baiklah, aku mengalah. Setidaknya ingatlah kebaikan ku."


Aleta mangut-mangut saja, dia mengambil kue di depannya. 


"Bagaimana nanti kalau aku tidak memiliki istri? Apa kamu juga akan menyukai ku?"


"Saya, tidak tahu Baginda."


Susah sekali meyakinkannya, dia selalu menjawab apa yang aku tanya dan jawaban itu meruntuhkan keyakinan ku. Aku tidak yakin bisa bersamanya, apa nanti Aleta akan meninggalkan ku. Oh tidak bisa, Fictor selalu di depan, aku akan membuat siapa saja yang bersama Aleta akan pergi dengan sendirinya.


"Aleta, tidurlah. Ini sudah malam, aku akan pergi menemui Ayah?"


"Apa Baginda memiliki Ayah?"


Kaisar Fictor menepuk dahinya, dia lupa Aleta tidak tahu siapa yang di sebut ayah. "Tidak, aku hanya ingat ayah saja. Ya, menatap sebuah lukisan."


Aleta mengucek matanya, dia memang sudah mengantuk dan sebentar lagi, ia tidak bisa membuka matanya.


Kaisar Fictor membungkuk, ia mengangkat Aleta kecil ke dalam dekapannya. Setidaknya, inilah pelukan terakhir gadis mungilnya itu. "Tidurlah." 


Aleta tersenyum, dia menyandarkan kepalanya ke bahu Kaisar Fictor sedangkan kedua kakinya melingkar di perut Kaisar Fictor.


"Aku menyayangi mu Aleta." Kaisar Fictor mencium kepala Aleta dengan sayang.


Merasa Aleta sudah tidur pulas, ia membaringkan tubuh Aleta ke ranjangnya. Menarik selimutnya sampai ke dadanya.


Cup


Kecupan hangat dan kecupan terakhir di dahi Aleta. 


Kaisar Fictor pun meninggalkan Aleta menuju ruang bawah tanah. Namun, tidak sampai di ruang bawah tanah. Dia melihat Duke Arlan, Kesatria Gio dan Kesatria Lio berjalan ke arahnya.


"Baginda." Sapa mereka serempak.


"Apa urusan kalian sudah selesai?"


Duke Arland tersenyum, ia bersyukur di pertemukan dengan Kaisar Fictor yang sangat baik meskipun terkenal dingin dan kejam. Sisi baiknya, membuat seluruh keluarga dapat terselamatkan. "Saya sangat berterima kasih atas bantuan Baginda."


"Sudah kewajiban ku, lalu apa langkah selanjutnya yang akan Duke lakukan?"


"Saya akan memberitahukan pada Duchess dan meyakinkannya untuk ikut, saya tidak tenang harus jauh dengan mereka. Takutnya, bukan hanya Felica yang mengincar mereka, tapi para musuh-musuh ku."


"Bolehkah aku  tetap bertemu atau sekedar memberi kabar untuk putri mu."


"Tentu saja Baginda."


Hatinya sudah tenang, Duke Arland tidak menjauhkan dirinya dengan Aleta. "Terima kasih."


"Dimana Aleta, Baginda. Saya mau menjemputnya."


"Dia sudah tidur, Duke pulanglah. Yakinkan Duchess untuk ikut dengan mu dan besok jemputlah Aleta dan membawa tahanan itu sebagai bukti."


"Terima kasih banyak Baginda."


Duke Arland dan Kesatria Lio pun pamit undur diri.


"Baginda." Sapa Kesatria Gio seraya melihat Duke Arland dan Kesatria Lio keluar dari istana.


"Ada apa?" Tanya Kaisar Fictor tak berniat menjawab.


Kesatria Gio melihat ke arah langit, cahaya bintang membantu cahaya bulan menyinari dunia. Sama halnya dengan Aleta dan Kaisar Fictor.


"Apa Baginda merasa sedih?"


Kaisar Fictor langsung menendang kaki Kesatria Gio. "Apa kamu tidak melihat aku mengeluarkan air mata? Apa perlu aku harus menangis darah?"


"Tidak perlu juga begitu Baginda." Lirih Kesatria Gio. Niatnya untuk menghibur sang junjuggan, tapi apa? Yang ia dapat malah kesakitan di kakinya. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa di hilangkan oleh Kaisar Fictor. Entah berapa banyak lebam di kakinya.