My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kedatangan Untuk Berpisah



Kaisar Fictor menghentikan langkahnya, tangannya mengusap dahinya dengan kasar. Ia lupa menanyakan keberadaan Aleta dam sekarang dia bingung harus kemana. Ingin kembali, justru ia akan terlibat dengan penjahat itu, ia tidak mungkin meninggalkan mereka dan waktunya akan terbuang-buang.


Ia pun bingung, mana yang lebih pentinga Aleta atau kedua tawanan itu. Keduanya sama-sama menyangkut keluarganya.


"Menemui Aleta lebih dulu setelah itu menemui ayah mertua."


"Pelayan!" Teriak Kaisar Fictor. Kedua pelayan berlari dan menunduk.


"Saya Baginda," ucap pelayan itu.


"Apa kamu melihat Aleta? Anak kecil bersama Duke tadi?"


Kebetulan kedua pelayan itu lah yang tadinya mengantarkan Aleta ke kamar tamu dan di temani oleh satu pelayan.


"Mari saya antar Baginda."


Kaisar Fictor mengangguk, setiap langkah itu di hiasi oleh senyuman kecil di bibirnya. Ia tidak sabar melihat Aleta dan mengobrol bersamanya. Melihat wajahnya yang menggemaskan di tambah lagi wajahnya. Rasanya dunianya hanya milik Aleta.


Kaisar Fictor menarik nafasnya, dadannya terangkap dan mengepis setelah nafasnya di hembuskan.


Kedua pelayan itu saling melirik diam, ia tidak pernah melihat tingkah aneh dari Kaisar Fictor. Seumur hidupnya menjadi pelayan, mereka hanya melihat sikap datar, dingin, cuek dan ketus dari Kaisar Fictor. Tetapi kali ini, perubahan Kaisar Ficyor seakan membuat dunia akan runtuh. 


"Baginda, apa perlu kami memanggilkan Dokter? Sepertinya Baginda sakit?" 


Kaisar Fictor mengubah ekspresinya, dari wajah yang gugup berubah menjadi kesal. "Apa kalian ingin mengatakan aku sakit begitu?"


Tanpa menunggu jawaban kedua pelayan itu, Kaisar Fictor memasuki ruangan itu membuat kedua pelayan mengelus dadanya.


"Aku salah, aku pikir Baginda berubah," ujar sang pelayan yang enggan mengalihkan penglihatannya dari pintu di depannya itu.


"Dan aku pun juga berfikir begitu, aku tidak yakin Baginda akan berubah."


"Sudahlah, jangan sampai ada yang mendengarkan percakapam kita. Bisa-bisa kita di grek," ujar pelayan berambut pendek itu, tangannya menggorok lehernya dengan telapak tangan kanannya.


Sedangkan di dalam ruangan, Kiasar Fictor tersenyum. "Aleta… " Sapa Kaisar Fictor, suaranya sedikit berteriak, bahkan kedua pelayan di depan pintu itu mendengarkan teriakan Kaisar Fictor.


"Apa telinga ku tidak salah dengar? Suara Baginda seakan manis dan lembut?"


"Aku juga mendengarkannya."


"Aleta apa yang kamu lakukan?" Kaisar Fictor melihat Aleta yang berdiri dan memberikan hormat. "Kamu pergilah, biar aku yang menemani Aleta." Kode keras pun berjalan. Sang pelayan langsung berlari dengan kepala menunduk.


"Maaf Baginda, saya datang kesini hanya ingin menemani Baginda." Aleta ingin berbicara jujur, namun ia malu jika mengatakan kebenarannya.


Segurat kecewa muncul di wajah tegas dan kaku itu. "Apa kamu tidak merindukan ku?"


Aleta menggeleng, dia tidak berani mengatakannya. "Tidak Baginda."


Kaisar Fictor duduk di depan Aleta yang masih berdiri. "Apa tidak ada sedikit saja rasa rindu?"


"Emmm itu… "


Seketika Kaisar Fictor menyondongkan wajahnya. "Benarkah?"


Aleta mengangguk.


"Duduklah,"


Aleta menurut, dia menjatuhkan bokongnya, namun di hentikan oleh suara laki-laki di hadapannya. "Jangan di situ, tapi di sini." Tangan kekarnya menepuk sofa berwarna putih itu.


"Ba-baik Baginda."


"Aleta, apa aku boleh bertanya?"


"Bertanya apa Baginda?" Tanya Aleta tanpa rasa gugup. Kini hatinya lebih rileks dari pada sebelumnya.


"Seperti apa wajah yang kamu sukai?"


"Maksudnya?"


"Aleta, suatu saat nanti kamu akan menikah dan aku ingin tahu laki-laki seperti apa yang kamu idam-idamkan."


"Seperti Ayah dan Kakak." Jawabnya polos. "Suatu saat nanti aku menikah dengan laki-laki seperti ayah dan kakak, wajahnya dan tingkah lakunya serta kelembutan mereka."


Aku harus mencari tahu kesukaan Duke Arland dan Alfred 


"Oh begitu,"


"Emm, Aleta… Apa yang kamu sukai dari ku?"


Aleta menatap Kaisar Fictor seolah mencari jawbaan. "Aleta suka semuanya, Baginda baik,"


Heh, aku akan mengatakan pada Kesatria Gio bahwa Aleta menyukai ku.


"Terima kasih, karena sudah menyukai ku."


"Oh, iya… "


"Apa Aleta suatu saat nanti masuk ke istana?"


Aleta tersenyum, semua orang ingin memasuki kediaman megah itu, namun mereka hanya sebatas bangsawan saja yang bisa memasukinya, itu pun jika ada rapat. "Semua orang ingin memasuki istana Baginda, termasuk saya."


Kaisar Fictor semakin di mabuk cinta, Aleta menerimanya. Bahkan tanpa ragu dia mengatakan sangat menyukai istana. "Bagaimana kalau kamu bermalam saja di sini?"


"Tidak Baginda, ada sesuatu yang ingin Aleta sampaikan. Terima kasih atas kebaikan Baginda pada saya dan ibu saya serta kakak saya. Terima kasih banyak, Aleta minta maaf jika merepotkan Baginda."


"Tidak, aku tidak merasa repot. Justru aku senang."


"Aleta datang kesini hanya ingin memberikan salam perpisahan. Aleta akan ikut dengan Ayah."