
Di tempat lain.
Aronz membanting semua yang ada di kamarnya, pecahan Vas bunga berserakah, kaca rias pun pecah dan jatuh ke lantai. Gorden berwarna putih itu pun berada di lantai dengan acak-acakan. Seprai yang awalnya rapi kini juga menutupi lantai marmer itu. "Aku membenci mu, Bu. Aku anak mu..Kenapa aku seperti bukan anak mu? Apa jangan-jangan aku anak buangan?"
Argh!!!
Aronz berteriak histeris,dia tidak terima. Kenapa harus dirinya? kenapa harus hidupnya. Kenapa bukan orang lain saja?
Aronz duduk memangku, menutupi wajahnya dengan kedua lututnya, bersandar di sisi ranjangnya.
"Apa salah ku?"
"Apa Ayah dan Ibu Vio akan terus menyayangi ku kalau aku bukan anaknya? apa mereka akan tetap bersama ku? kesalahan ibu ku yang tidak bisa di maafkan."
Aronz menangis terisak-isak, dia malu pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Semua orang akan mengejeknya, lebih lagi teman-temannya.
...****************...
Sama halnya dengan Duke Arland. Dia menangisi kisah masa lalunya, yang seharusnya di kenang dengan walaupun sudah tergantikan. Dia akan bahagia seandainya Felica hidup bahagia dan melepaskannya. Dia akan membantu Felica jika ada sesuatu yang mengusiknya.
Sebagai seorang laki-laki, dia orang egois dan tak berperasaan, tapi kali ini sikapnya yang egois dan tak berperasaan menyelimuti hatinya. Dia tak menyangka, sikap egoisnya dan tak berperasaanya dulu sangat melukai Violeta. Istri telah menanggung banyak beban karenanya.
Karena dia juga, istrinya hampir di celakai oleh orang masa lalunya. Seandainya terlambat, dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Menyesal karena telah mencintai orang yang salah, sangat salah.
...****************...
Sedangkan Felica, menatap tajam ke arah wanita di depannya. Dengan angkuhnya wanita itu meninggalkannya. Dia bersumpah di kehidupan yang akan datang, dia akan membuat Violeta dan kedua anak-anaknya menderita melebihi dirinya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu." Teriak Felica. Tangan kanannya kesakitan, dia tergores oleh anak panah yang di mainkan oleh Violeta. Wanita itu benar-benar kerasukan iblis. Dia tidak menyangka, Violeta sangat berubah. Bahkan wanita itu bisa memegang anak panah. Tidak ada penyesalan di hatinya yang sudah membuat Violeta menderita. Justru tekadnya semakin kuat untuk membuat Violeta menderita.
...****************...
tok
tok
tok
Ketukan pintu itu tak membuat beralih, keduanya matanya begitu detail memeriksa laporan istana.
"Baginda,"
Seorang pelayan pun masuk, dia mengatakan sesuatu terjadi pada Permaisuri Agneta. Kaisar Fictor menghentikan aktivitasnya,dia ingin melihat kondisi Permaisurinya itu.
"Permaisuri ada apa dengan mu?" tanya Kaisar Fictor. Dia melihat wanita itu meringis kesakitan saat kaki kanannya di perban.
"Aku tidak apa-apa Baginda, kaki ku terkilir."
"Lain kali berhati-hati lah," ujar Kaisar Fictor.
"Kalian boleh pergi," ujar Permaisuri Agneta setelah Dokter istana selesai memperban kakinya. "Maaf membuat Baginda khawatir."
Kaisar Fictor tersenyum,dia duduk di tepi ranjang Permaisuri Agneta. Wanita yang memasuki haremnya dengan paksaan. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu."
Kaisar Fictor diam."Maaf karena telah membuat mu menderita, memaksa mu untuk datang ke sini."
Permaisuri Agneta terdiam. Dia sudah menerima semuanya dan kini ingin menjadi istri yang sesungguhnya untuk Kaisar Fictor.
"Aku tidak memaksa mu untuk mencintai ku. Aku ingin membebaskan mu."
Seketika Permaisuri Agneta meneteskan air matanya. Perasaannya tak menentu, dia tidak tahu dengan perasaannya itu.