
Semangat pagi itu membuat Duke Arland tak pernah berhenti tersenyum, setelah penantiannya, kini ia bisa bersama istrinya, walaupun tak akan seperti dulu, tapi ia akan berusaha mengubah semuanya seperti dulu.
Ck, Duke selalu tersenyum, sementara diriku harus menangisi masa depan ku batin Kaisar Fictor.
Rasanya kurang puas ia bersama dengan Aleta. Baru beberapa jam yang lalu, Aleta bangun dari tidurnya, kemudian di jemput oleh Duke. Semalaman dia tidak tidur karena memikirkan Aleta dan memandangi wajahnya. Berpisah yang lumayan sangat lama, ia takut Aleta akan melupakannya. Bagaimana jika nanti Aleta sudah dewasa dan akan melupakannya?
"Apa Baginda sedih?" tanya Kesatria Gio menatap punggung keluarga Duke Arland yang memasuki kereta.
"Menangislah Baginda,"
"Apa mulut mu tidak bisa di saring? kalau aku menangis, hilang sudah image ku." Bentak Kaisar Fictor.
Salah lagi, apa susahnya menangis meraung-raung. Lagi pula selama ini kelakuannya memang aneh dan aku harus menyadarkan mereka dari keanehan mu Baginda.
"Aku ingin menangis."
Kesatria Gio melihat sekilas dan kembali melihat kereta yang mulai keluar dari gerbang. Diam adalah kunci utama.
"Kenapa diam? seharusnya sebagai seorang sahabat dan bawahan kamu menghibur sahabat mu dan atasan mu."
"Baginda, mulut saya harus di saring sampai halus. Agar Baginda tidak terlalu sedih.."
Maaf, maksudnya harus di saring. Ingin sekali aku mengembalikan semua perkataannya tadi.
"Benar, juga. Kamu tidak akan mengerti kesedihan ku."
Dan orang yang waras pun tidak akan menyukai anak kecil, bahkan mengeklaimnya miliknya. Aku orang waras Baginda.
"Apalah dirimu yang tidak menikah."
"Benar, saya harus menikah agar mengetahui kesedihan dan kebahagiaan Baginda."
Apa Baginda akan menyuruhku menjadi jomblo seumur hidup, terbuat dari apa hatinya.
"Kenapa melihat ku seperti itu? aku sudah kasihan pada mu dan berbaik hati."
Ini bukannya kasihan Baginda, tapi burung ku akan karatan.
Tidak berani, memilih diam dan menunduk,lalu mengangkat kepalanya sambil menunggu Kaisar Fictor memutuskan melangkah ke arah mana.
Tak terasa waktu telah berganti, kini Violeta dam kedua anak-anaknya telah sampai di kediaman Duke setelah berpamitan dengan Kaisar Fictor dan menjemput Aleta.
Kedua kaki Violeta gemetar, tatapannya menyapu setiap sudut kediaman itu. Dimana setiap sisi ruangan itu memiliki sebuah kenangan. Bunga mawar yang dia tanam, bunga itu justru bertambah banyak. Dulu Duke Arland tidak menyukai bunga mawar, tapi dia tetap keukeh menanam bunga mawar di samping kanan kediaman itu dan mengelilingi rumah kaca.
Dia merawatnya dengan sangat baik.
Violeta melangkah, pintu bercat putih itu. Pintu yang menjadi saksi dirinya, setiap saat berharap kepulangan Duke, menyambutnya dengan senyuman terindah,meskipun terabaikan.
Violeta melangkah, kedua anak-anaknya menggenggam masing-masing kedua tangannya.Mereka tahu, ibunya sedang melawan masa lalunya.
Maafkan aku Violeta.
Duke Arland menarik tangan kanan Violeta yang di genggam oleh Aleta. Hingga tubuh itu berbalik dan membentur dada Duke Arland. "Selamat datang satang, selamat datang. Aku sudah lama menunggu mu,.hari ini kamu datang. Sekali lagi maafkan aku, mungkin kata maaf ini tidak bisa membuat mu melupakan semuanya, tapi percayalah. Saat ini aku berusaha agar membuat mu lupa kenangan menyakitkan itu."
Violeta terdiam, seteguh-teguhnya hatinya, ia tidak bisa menahan tangisnya. Tidak ada orang yang kuat, yang mampu menahan kesedihannya.
"Aku membenci semua kenangan itu, tentang dirimu. Aku membencinya."
"Bencilah sesuka mu Violeta, aku sudah mengubah semuanya."