My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kegilaan Kaisar Fictor.



Kesatria Gio mangut-mangut saja, mendengarkan dengan serius, percuma saja dia protes, ia hanya seorang bawahan sedangkan di hadapannya sang penguasa.


"Bagaimana? apa kamu setuju?" tanya Kaisar Fictor menjelaskan sedetail-detailnya.


Ingin sekali dia berteriak dengan lantang 'tidak', namun ia masih ingin hidup esok harinya.


"Saya hanya bisa menyetujui perintah Baginda saja," ucap Kesatria Gio dengan lantang.


Kaisar Fictor langsung menendang salah satu kaki Kesatria Gio. "Aku masih punya telinga, jangan berbicara keras-keras." Bentaknya tak terima, telinganya langsung berdering. Ia tidak ingin kehilangan pendengarannya, apa lagi belum menikah dengan Aleta.


"Maaf Baginda."


"Maaf, maaf, kalau terjadi sesuatu dengan telinga ku, kamu mau bertanggung jawab." Sentak Kaisar Fictor.


Mau tidak mau aku harus melakukannya bukan.


"Saya siap Baginda."


"Baiklah, aku akan memotong salah satu telinga mu."


"Jangan Baginda, mohon maafkan semua kesalahan saya." Kesatria Gio membungkuk hormat. Kemudian berdiri kembali dengan tegap.


Dih


Kaisar Fictor berdecak kesal, tadi bilang sanggup sekarang malah omong kosong yang berlalu di bawa angin. Kesatria Gio sangat tahu sifatnya, semenjak kecil dia sudah di latih dengannya. Anggap saja, dia adalah teman hidupnya sampai menikah.


"Kamu membuat ku kesal saja." Kaisar Fictor memutar bola matanya. "Jangan lupa, berikan pengawalan yang ketat untuk Aleta ku, jangan sampai kulitnya tergores sedikit pun. Aku tidak mau terjadi sesuatu dan iya, kamu harus awasi kediamannya. Akhir-akhir ini aku merasa tidak nyaman." Kaisar Fictor bangkit dari kursinya. "Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi, insting ku tidak pernah salah."


Kesatria Gio mengiyakan perkataan Kaisar Fictor, laki-laki di depannya selain gagah dan tampan, bertarung dalam musuh tidak bisa di remehkan. Instingnya terlalu kuat, waktu berumur 11 tahun, dia sudah turun ke medan perang, bagaikan singa yang haus akan darah. Semenjak itulah, kejayaan Kekaisaran ini tidak akan pernah pudar selama ada singa yang siap menerkam siapa saja yang mengusik miliknya.


"Saya akan memberikan pengawasan yang ketat Baginda untuk keamanan nyonya Violeta, tuan muda Alfred dan nona muda Aleta."


"Hah, aku merindukannya."


Blam


Kesatria Gio langsung di santap petir, tubuhnya bagaikan kehilangan nyawa. Rindu, sungguh keajaiban bagi Kaisar Fictor, tapi buruk baginya. Baru saja mereka bertemu dan sekarang sudah merindukannya.


"Aku sangat merindukannya."


Baiklah, anggap saja suara nyamuk yang sedang merutukinya batin Kesatria Gio.


"Besok aku akan menemui Aleta, bawakan semua barang yang bagus, gaun, sandal, sepatu dan semua perhiasan yang sangat berkualitas."


Mulai lagi, beginilah hidup dalam budak cinta. Yang salah jadi benar dan yang benar malah sebaliknya.


"Kenapa diam saja? apa perlu aku menyumbal mulut mu itu?"


"Tidak Baginda, saya akan melaksanakannya."


"Bagus." Kaisar Fictor tersenyum sendiri, ia tidak sabar menunggu hari esok. Dimana dia akan bertemu dengan Aleta, gadis pujaan hatinya yang selalu meredup-redup.


Di tempat lain.


Duke Arland telah sampai kediamannya, begitupun dengan Aronz. Keduanya telah memasuki halaman itu dan kini beranjak ke dalam kamar masing-masing untuk menghapus lelah, udara malam di iringi salju yang membekukan kulit mereka.


Para pelayan pun dengan sigap melayani sang majikan, namun ada rasa takut di hati mereka. Bagaimana jika sang majikan sudah tahu lukisan sang nyonya yang telah hangus, malam ini, malam dimana para pelayan tidak bisa tidur nyenyak.