
Ekhem
Violeta menghentikan tangannya yang hendak menaruh selai di roti Aronz. Di liriknya Duke Arland yang menyilangkan kedua tangannya sembari tersenyum. Wajahnya tampak berseri-seri.
"Ayah, silahkan duduk. Ibu sudah menyiapkan roti untuk ku. Lihatlah," Aronz melihat setiap piring berisi roti yang lurus dengan satu kursi.
"Oh," Duke Arland menatap semuanya, namun ada yang aneh. Hanya ada tiga piring, berarti untuknya tidak ada. "Untuk Ayah mana?"
Aronz meminta jawaban pada Violeta, sementara wanita itu hanya acuh tak acuh. Melenggang pergi ke lantai atas, berniat membangunkan kedua anaknya.
"Sayang, Alfred. Bangun sudah pagi, ayo ibu bantu."
Alfred membuka matanya, tanpa menjawab dia turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Setelahnya, membantunya mandi air hangat dan bersiap-siap. Pekerjaan pelayan yang seharusnya pun ia kerjakan demi mendekatkan diri seorang ibu pada anaknya ia lakukan.
"Selesai, kita ke kamar Aleta."
Alfred tak menjawab, dia hanya menurut saja, namun sampai di depan pintu, dia sudah melihat Aleta dan pelayan Mia.
"Sayang ayo turun,"
"Iya, Bu." Senyum Aleta.
Sesampainya di meja makan, Aleta dan Alfred duduk di kursi masing-masing, mengambil roti tawar itu lalu mengolesi Selai. Aleta penyuka selai keju, sedangkan Alfred penyuka selai Strowbery.
Sedangkan Aronz mengolesi kedua rotinya dengan selai yang berbeda."Aronz makanlah dengan lahap," ujar Violeta.
Alfred menatap keduanya, ia bingung dengan sikap ibunya, tidak ada angin, tidak ada hujan yang tiba-tiba menjadi perhatian pada Aronz.
"Saya ambilkan rotinya Tuan," tawar pelayan Mia, matanya melihat piring Duke Arland yang terlihat kosong.
Duke Arland diam membisu.
"Ibu, kenapa ayah tidak di ambilkan?" tanya Aronz polos."Kasihan, ayah pasti sudah lapar."
"Mia sudah menawarkannya,"ujar Violeta. "Mia ambilkan untuk Tuan," imbuh Violeta tanpa melihat ke arah Mia. Dia sedang fokus mengolesi rotinya dengan selai.
Mendadak wajah Aronz langsung layu, sulit sekali mendapatkan hati ibunya. Seperti hati yang telah mati.
"Ada apa Aronz?" tanya Violeta yang tanpa sengaja melihat wajah Aronz yang tampak suram.
"Tidak apa ibu." jawabnya.
Violeta mengerti, Aronz merasa dirinya sangat menutupi diri. Ia tidak hanya memperhatikan hati Aronz bukan Duke Arland."Ya sudah, Aronz, Aleta, Alfred masih mau nambah rotinya."
"Aku sudah kenyang Bu,"
"Aku sudah kenyang Bu,"
Violeta menghela nafas, "Apa Duke mau manambah?"
Duke Arland menghentikan giginya yang menancap pada roti itu, telinganya melebar, benarkah yang ia dengar.
"Apa Duke ingin menambah?"
"Ayah, ibu menawarkannya."
"Ah, iya. Aku menambah."
Violeta mengambil roti, lalu mengolesinya dengan selai. Hatinya menangis, di pernikahannya dulu sebelum berpisah, sering kali dia menawarkannya. Ingatan Violeta yang asli dan hatinya merasakan sakit. "Ini."
Duke Arland menyodorkan piringnya, ia langsung mengambil roti itu dengan mata berkaca-kaca.Mengunyahnya dengan pelan melalui perasaannya. "Terima kasih Duchess."
Violeta tak menjawab, matanya menangkap sosok Aronz yang tersenyum. Mengelus kepalanya dengan sayang.
"Ibu, aku sudah selesai." Alfred langsung menjauh menuju kamarnya.
Sedangkan Aleta, ia merasa terharu. Baru saja dia melanjutkan sarapannya kembali. Seorang pelayan mengejutkannya.
"Nyonya, di luar ada Baginda. Katanya ingin bertemu dengan nona Aleta," ujar sang pelayan.
Aleta langsung menoleh, semenjak kapan ia akrap dengan Kaisar,kenal saja baru kemarin.
"Aleta, apa kamu merasa punya salah atau sesuatu yang lainnya?"
"Jangankan punya salah, aku saja baru kemarin kenal."
Aleta mendengus kesal, bukannya dia takut, hatinya malah merasa kesal karena momennya telah di ganggu. Ia pun turun di ikuti Violeta, Duke Arland dan Aronz.
"Baginda." Sapa seorang anak kecil. Dia memberikan hormat layaknya seorang putri bangsawan.
"Aleta, maag mengganggu. Aku datang kesini membawa sesuatu untuk mu."
Aleta mengambil sebuah kotak, matanya langsung berkilau melihat kalung bermutiara putih itu.
"Terima kasih Baginda."
"Ah, syukurlah kamu suka."
"Baginda,"
Violeta dan Duke Arland serta lainnya memberikan hormat.
"Kami juga memberikan hadiah untuk Duchess dan Duke."
Keduanya pun berterima kasih dengan hormat, tapi Violeta sebagai seorang ibu merasa janggal. Ia penasaran dengan Kaisar Fictor yang datang ke rumahnya.
"Begini aku ingin meluangkan waktu dengan nona Aleta."
Violeta dan Duke Arland saling menatap dalam diam.
Kaisar Fictor menyenggol Kesatria Gio karena mulutnya keceplosan.
Kesatria Gio pun langsung menanggapinya. "Maksudnya begini, Nyonya dan Duke. Baginda seperti menganggap nona Aleta seperti anak sendiri," ujarnya dengan canggung.
Apa-apaan dia menganggap Aleta seperti anak ku sendiri, dia adalah jodoh simpanan ku.