
Setelah memperhatikan Violeta dan Alfred yang sudah memejamkan matanya,Duke Arland perlahan membaringkan tubuhnya,matanya menatap lurus ke langit-langit berwarna biru itu, perlakuannya dulu sampai perlakuannya sekarang, ia masih ingat. Saat Violeta datang ke dalam rumahnya, dia justru pergi begitu saja membiarkan Violeta di ambang pintu dan para pelayanlah yang memberitahukan.Selama itu dia tidak pernah menyentuh Violeta dan istrinya itu tetap bersikap lemah lembut, pada akhirnya dia luluh pada pesona, hatinya bergerak ke arah lain. Sering kali dia mengabaikan Felica,hatinya seolah tidak menganggap Felica.
Hingga suatu hari dia berhasil memutuskan pilihan hatinya Violeta, dia berjanji pada dirinya akan membahagiakan Violeta. Hari-harinya begitu lancar, hidupnya seakan berwarna. Violeta sangat mengutamakan dirinya, bahkan pakaiannya saja, Violeta lah yang turun tangan sendiri. Hidupnya seolah bagaikan raja, namun hari itu menghancurkan semuanya. Karena kecerobohannya sendiri, Violeta pergi dan Felica datang hamil anaknya.
"Aku merindukan Violeta ku yang dulu." Lehernya berputar ke kanan, sedikit mendongak, melihat Violeta dan Alfred yang tertidur lelah. Tangan Violeta merangkul perut Alfred dan sedikit miring.
Duke Arland bangkit, dia beringsut turun, langkah kakinya perlahan mendekati Violeta. Berjongkok, menatap lekat wajah yang selama ini dia rindukan. Jari telunjuknya menyentuh dahi Violeta kemudian turun sampai jarinya menyentuh bibirnya. "Aku yang salah, banyak sekali aku menyakiti mu, maafkan aku Vio. Waktu itu aku tidak berdaya, Aronz darah daging ku dan kamu istri ku. Aku tidak bisa memilih di antara kalian."
Duke Arland menunduk sampai dahinya menempel di sisi ranjang.Air matanya mengalir deras sampai seprai itu basah karena air matanya.
Violeta terusik, ia membuka matanya, kemudian melirik ke arah kanan. Sosok yang ia kenali menangis di sampingnya.
"Aku menyesal, aku ceroboh Vio.. Kamu tidak pantas memaafkan aku, tapi aku janji akan tetap menjaga kalian."
Violeta menggigit bibirnya,agar tidak membuka mulut dan membuat Duke Arland tahu bahwa dirinya sedang mendengarkan keluh kesannya.
"Aku akan menceraikan Felica, Aronz juga setuju. Setelah ini kamu bebas sebagai seorang Duchess."
Terima kasih Duke atas penyesalan mu, tapi luka itu masih ada. Aku kadang sangat kagum pada orang di sekitar ku dulu, ada yang pernah di selingkuhin terang-terangan, tapi tetap bisa mempertahankannya dan hidup bahagia, tapi aku tidak bisa, rasanya sangat sulit. Aku tidak akan menghalangi mu untuk bertemu Alfred dan Aleta. Mereka juga berhak atas dirimu.
Melihat pergerakan kepala Duke Arland mulai terangkat, Violeta langsung menutup matanya.
"Tidurlah sayang." Duke Arland mencium kening Violeta kemudian mengusap pucuk kepalanya.
Sedangkan disisi lain.
Seharian ini Felica mondar-mandir, baru saja dia mendapatkan kabar bahwa ada surat yang datang dari istana dan itu berarti mereka juga tidak tahu keberadaan Duke yang tiba-tiba menghilang.
"Tidak bisa! aku takut dugaan Duke benar. Dia masih hidup."
"Bagaimana kalau iya, aku akan tersingkirkan dari kehidupan Duke. Dia cinta ku, laki-laki yang selalu aku utamakan dan sekarang aku harus membiarkan semuanya."
Felica memanggil pelayannya dan menyuruhnya membawakan jubah hitam. Setelahnya, dia mengambil beberapa koin emas.
"Temani aku keluar!" perintahnya.
"Kita turun di kedai xxx."
Akhirnya kereta kuda itu berhenti di salah satu kedai biasa, namun penghuninya bukan orang biasa. Dia hanya menyamar sebagai kedai biasa bahkan di bilang sebuah toko tapi sangat lusuh.
"Nyonya apa yang ingin kita lakukan?" tanya sang pelayan ketakutan. Dia melihat sekelilingnya yang sepi. Kedai itu terletak sangat jauh dan memasuki gang sempit.
"Setelah ini tutup mulut, kalau tidak! bersiaplah untuk kehilangan nyawa. Ikut aku.."
Felica pun memasuki kedai itu, lalu melepas jubahnya yang menutupi kepalanya dan tersenyum tipis.
"Oh Nyonya, silahkan masuk nyonya," ujar seorang pelayan yang mengenali wajah Felica.
Felica memasuki sebuah ruangan khusus yang terletai di lantai atas. Dia duduk dengan santai menunggu kedatangan orang dan pelayannya berdiri di sampingnya.
Selang beberapa saat seorang pria datang, wajahnya terdapat luka sayatan dari alis kanannya sampai ke sudut bibirnya.Badanya tidak di ragukan lagi, berotot keras dan bertubuh tegap.
"Heh, Nyonya sudah lama tidak bertemu." Matanya tajam melirik seorang pelayan. Seperti Felica pikirkan, tidak akan ada orang yang berani datang kesini.
"Tenang saja, dia pelayan setia ku, dia tidak akan membocorkannya."
"Langsung saja,aku ingin kamu mencari informasi keberadaan Duke karena saat ini Duke menghilang dan aku takut dia menemukan wanita masa lalunya. Kamu tahu sendiri kan,wanita itu rasanya belum mati."
"Bukankah dia sudah mati," ujarnya yakin.
"Itu hanya menurut keyakinan mu saja. Insting ku tidak pernah salah, sepertinya dia masih hidup karena selama ini Duke tidak pernah menemukan mayatnya dan akhir-akhir ini aku merasakan hal yang berbeda. Kamu harus mencarinya."
"Baiklah, bayaran kali ini lebih mahal. Nyonya tahu sendiri, yang aku selidiki bukan orang biasa melainkan seorang Duke yang bisa membahayakan nyawa ku."
"Baiklah, ini." Felica melemparkan sekantong koin emas di atas meja itu.
"Aku butuh dua hari.."
"Baiklah, kami akan secepatnya memberikan informasi itu."