My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Perasaan



"Ke-kenapa Baginda? Apa Baginda tidak mencintai ku?"


Kaisar Fictor menggeleng, dia menggenggam tangan Permaisuri Agneta. "Sudah waktunya kamu bebas Agneta. Maaf aku sudah mengambilnya dari mu. Aku juga akan meminta maaf pada kekasih mu."


Permaisuri Agneta menarik tangannya. Dia tidak bisa, hatinya berat meninggalkan Kaisar Fictor. Dia tidak mau, rasanya dia tidak rela. "Tapi aku tidak bisa, bagaimana dengan Baginda?"


"Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja," ujar Kaisar Fictor meyakinkan. Dia tidak akan mengekang orang yang tidak mencintai dan juga dirinya yang tidak mencintai.


"Tapi Bagiamana kalau aku mencintai Baginda?"


"Apa kamu yakin? apa kamu sudah bisa melepaskannya dan menggantikannya?"


Agneta terdiam, entahlah. Dia tidak tahu dengan hatinya.


"Pikirkan baik-baik Agneta, kamu akan menyesal dan aku sekarang akan fokus pada Kekaisaran. jadi jangan khawatir."


Agneta mengangguk. "Aku butuh waktu Baginda."


"Baiklah, kamu pikirkan."


Kaisar Fictor tersenyum, dia beranjak pergi. Meninggalkan Agneta yang memikirkan perkataan Kaisar Fictor. Jujur saja, hatinya masih menginginkan kekasihnya, tapi Ayahnya hanya haus akan kekuasaan dan kekuasaan.


"Sepertinya besok aku harus menghubunginya."


Agneta tersenyum, dia tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


Sedangkan Kaisar Fictor, ia merasa lega. Dadanya tidak lagi terasa terhimpit. Dia merasa hatinya seakan bebas untuk menari-nari. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Aleta, miliknya.


"Aku akan mengawasi mu dari jarak jauh," ucap Kaisar Fictor. Dia melihat lukisan Aleta kecil yang ia simpan di laci meja kerjanya itu.


"Baginda, saya menerima laporan bahwa nyonya Felica sudah di temukan."


"Baguslah, kalau tidak. Aku turun tangan sendiri, membasmi nenek sihir itu."


"Dasar nenek-nenek tua, beraninya sama keluarga Duke. Tidak sekalian saja dengan keluarga ku. Ck, dia hanya berani dengan anak kecil."


Jangan mengatainya Baginda, buat apa nyonya Felica berurusan dengan keluarga istana. Nyonya Felica tidak memiliki hubungan darah dan lagi, berani anak kecil, lalu Baginda berani mencintai anak kecil. Menurut ku sama-sama parah, heleh....


"Aku kasihan pada mu Duke, tapi lebih kasihan pada Aronz."


"Duke sudah tidur, aku harus melihat Aronz."


Violeta menyelimuti tubuh Duke Arland dengan benar. Berjalan dengan hati-hati sampai tidak menimbulkan suara. Dia kembali menoleh, Duke Arland tertidur pulas. Dia pun melanjutkan langkah kakinya.


"Aronz!" panggil Violeta dengan pelan seraya mengetuk pintu di depannya itu. "Sayang, boleh ibu masuk."


"Tidak ada sahutan,"


Violeta memasuki kamar itu, dia terkejut melihat isi ruangan itu. Pecahan vas bunga, kaca, gorden, seprai dan semua barang di lemari pun berserakah di lantai. "Aronz! Sayang! dimana kamu, Nak. Ini Ibu Aronz."


Samar-samar Violeta mendengarkan sebuah tangisan. Dia pun mengikuti suara tangisan itu dan melihat Aronz yang duduk di sudut ruangan itu, menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. "Aronz!"


Violeta tak memikirkan pecahan vas bunga dan lantai itu, dia menerobos, dan langsung memeluk Aronz. Mengecup dahinya, setelah itu menggendongnya. "Sayang."


Violeta menggendong tubuh kecil itu menuju ke kamarnya. "Mia! Pelayan!"


Tidak melihat pelayan Mia, Violeta memanggil beberapa pelayan dan kebetulan beberapa pelayan lewat di lantai bawah. Mereka langsung ke atas menemui sang majikan.


"Saya Nyonya."


"Bersihkan kamar Aronz dan bawakan obat luka ke kamar ku."


"Baik Nyonya."


Violeta berjanji, dia akan membuat Aronz tak merasakan sakit hati atau pun mengingatnya.


"Felica, kamu benar-benar wanita yang tak memiliki hati." Gumam Violeta.


Violeta mendudukkan tubuh Aronz ke atas ranjangnya. Dia menghapus kedua air mata Aronz. "Sayang, dengarkan Ibu. Jangan mendengarkan perkataannya, kamu putra Violeta, Putra Duchess Violeta, Putra ketiga Duchess Violeta. Siapa pun yang menyakiti mu, Ibu tidak akan membiarkannya tenang. Ibu akan memberikan pelajaran padanya."


Aronz sesegukan, dia memeluk Violeta, mengalungkan kedua lengannya ke leher Violeta. Wanita yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya, malah menyayanginya seperti anaknya sendiri. Sedangkan Wanita itu, dia berjanji akan menyayangi Violeta, menuruti permintaannya. Sekalipun itu adalah nyawanya. Dia sangat menyayangi Violeta melebihi ibunya sendiri.