
Di sisi lain..
Kaisar Fictor mengelus dagunya, kedua matanya menyipit. Ia bergidik ngeri melihat wanita di depannya. Keinginannya untuk istirahat pun telah tersia-sia. Niatnya ingin membayangkan Aleta dewasa yang ada malah wanita yang tak di undang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Baginda.."
Bukannya mendengarkan suara merdu, telinganya malah mendengarkan suara aneh.
"Aku lelah dan tidak ingin di ganggu."
"Tapi Baginda." Permaisuri Anne turun dari ranjangnya, ia bergelanyut manja di lengan Kaisar Fictor. Menggesek-gesekkan kedua gunung itu ke lengan Kaisar Fictor.
"Sudah! hari ini aku sangat lelah dan butuh banyak waktu istirahat." Kaisar Fictor menurun kedua tangan Permaisuri Anne. Bibirnya melengkung ke atas, namun hatinya menggerutu yang tidak jelas.
"Ada apa Baginda?" tanya Kesatria Gio.
Kaisar Fictor melirik tajam. "Ada apa? ada apa? kamu tidak lihat wanita yang di dalam."
Kesatria Gio mengingat kembali,beberapa menit yang lalu. Permaisuri Anne masuk ke kamarnya.
"Permaisuri? memangnya Permaisuri berbuat yang sangat lancang. Saya akan menunggu perintah dari Baginda."
"Benar, sangat lancang, aku akan menghukum mu nanti. Melihat caranya dia merayuku, menjijikkan. argh..! sudahlah."
Kesatria Gio mengerutkan keningnya, berfikir tentang menjijikkan, bukankah Kaisar Fictor rajanya ranjang.
"Jangan berfikir macam-macam atau aku akan mengeluarkan otak mu itu."
Baiklah, diam lebih baik.
Kesatria Gio mengekori Kaisar Fictor menuju ruangan khusus untuk dirinya sendiri. Semua istrinya tidak pernah di ijinkan memasuki ruangan itu, termasuk Permaisuri Anne.
Kaisar Fictor menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Tubuhnya hanya terbalut oleh jubah mandi berwarna putih itu. Setiap menikmati bayangan Aleta, pikirannya berkelana saat di kediaman Nyonya Violeta.
Kaisar Fictor berangsur duduk, ia berteriak memanggil nama Kesatria Gio. "Kesatria Gio...!"
"Saya Baginda..."
"Cari tahu tentang kediaman Duke dan istri kedua Duke."
"Untuk apa Baginda?"
"Untuk menenggelamkan mu ke laut. Ya, tentu saja untuk Aleta, memangnya untuk mu. Gak lah..!"
iyakan saja, biarkan dia berbicara semaunya.
"Baik Baginda."
Duke Arland duduk di tepi ranjangnya, berat rasanya, sebuah beban yang paling berat di dalam kehidupannya. Menyusun strategi perang pun lebih muda baginya dari pada harus meninggalkan kediaman ini. Rumah yang di huni oleh istri selama bertahun-tahun, kini ia harus meninggalkannya. Ia tidak sanggup. "Ayah, bersabarlah, kita harus berjuang kan."
Duke Arland tersenyum, dia beruntung memiliki Aronz yang mengerti perasaanya. Walaupun kedatangannya harus memberikan luka di hidupnya dan Duchess Violeta."Dan ayah yakin, ibu mu Violeta akan menerima mu."
"Jujur Ayah, aku lebih menginginkan kasih sayang Duchess. Ayah tau, aku cemburu ke Aleta dan Alfred, mereka beruntung mendapatkan kasih sayang dari Duchess. Sedangkan aku tidak,"
Duke Arland mengerutkan dahinya, bukankah Felica akan menyayangi Aronz, dia ibunya dan Aronz adalah putranya.
"Maksud mu apa? Ayah pernah melihat kemarahan Felica, tapi waktu itu karena... "
"Ayah, bolehkah aku jujur. Aku tidak ingin duduk di posisi ayah, yang seharusnya tidak aku miliki. Aku tidak mau Ayah, bagi ku sudah cukup kasih sayang ayah, aku tidak menginginkannya, tapi ibu selalu memaksa ku untuk menduduki posisi ayah, aku tidak mau, aku ingin bebas. Selama ini aku merasa di kekang."
Aronz menangis terisak, Duke Arland memeluknya dan mencium keningnya. Ia memang memaksa Aronz jika benar Violeta meninggal, tapi sekarang tidak, posisinya hanya untuk Alfred, apalagi sikap Arogantya tercetak di tubuh Alfred.
Violeta mendengarkan pembicaraan mereka dengan jelas, ada rasa iba di hatinya melihat Aronz. Berarti Felica tidak pernah memberikan Aronz untuk berfikir dan santai, anak-anak seumurannya dengannya sekolah atau di didik, tapi ada waktunya bersantai.
"Nyonya.."
Violeta mengangguk dan menjauh dari kamar Duke Arland.
Duke Arland melepaskan pelukan Aronz, dia melihat punggung Violeta yang menjauh ada rasa bahagia di hatinya, Violeta mau mengunjungi dan hal itu menandakan, Violeta masih ada rasa padanya.
"Ayah, itu Duchess."
"Ayo kita ikuti Aronz,"
Aronz dan Duke Arland mengikuti langkah kaki Violeta sampai keduanya mendengarkan dentingan pedang di halaman belakang istana.
Aronz dan Duke Arland tercengang, kedua matanya seakan keluar dari sarangnnya. Apa benar yang mereka lihat, Alfred dengan lihainya menyerang dan menangkis pedang, matanya bertemu pada sosok asing. Laki-laki itu seperti bukan laki-laki biasa, bahkan ayunan pedangnya sangat lihai.
"Ada apa dengan Alfred? tidak biasanya dia seperti ini. Dia melihat gurunya seakan musuhnya," ujar Violeta merasa cemas.
"Ternyata Duchess mendidiknya sangat baik," ujar Duke Arland seraya menyilangkan kedua tangannya di pinggangnya.
Violeta memicingkan matanya, berarti Duk Arland sudah melihat kemampuan putranya, tapi dia juga belum tahu, Aleta juga menuruni sifatnya.
"Bahkan nona Aleta juga tahu Yang Mulia Duke. Nona Aleta tidak kalah saing dengan tuan muda Alfred." Celoteh pelayan Mia.
"Oh, benarkah! Keduanya sangat mirip dengan ku, tidak ada yang mirip dengan Duchess. Sebesar itukah cinta Duchess pada ku, aku semakin tersanjung dan seakan tidur di atas awan."
Violeta memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan laki-laki di sampingnya malah tersenyum,setidaknya ia bisa melihat tontonan yang menegangkan.
"Duchess, aku pulang, tapi bukan berarti aku tidak kembali."