
"Alfred! dia adik mu, dia tidak tahu sama sekali."
Alfred menaruh separuh rotinya yang tersisa ke atas piringnya. "Ibu, Aleta harus mengerti. Apa yang tidak di sukai Ibu, dia harus tahu. Ibu jangan memanjakannya."
Violeta tidak terima, hati seorang anak-anak sangat rentan, apa lagi seorang wanita. Hatinya sangat rapuh dan mudah menangis, bohong jika seseorang mengatakan jika wanita itu kuat, dia hanya kuat luarnya saja, tapi hatinya menangis.
"Jangan terlalu keras, adik mu sangat membutuhkan Duke."
"Lalu Ibu menerimanya dengan keterpaksaan. Cukup dulu Bu, cukup dimana ibu menangis setiap malam."
"Ibu menyukai Duke," ujar Violeta. Dia harus menyadarkan hati beku putranya itu.
"Ibu menyukainya aku tidak." Alfred hendak pergi, namun sepasang matanya menangkap sosok Duke Cristin yang menatap nanar.
Alfred membalas tatapan itu dengan sebuah kebencian. Putaran di mana dia di hina melayang di depannya. "Teman-teman ku mengatakan, aku di lahirkan tanpa seorang ayah. Aku diam, aku menerimanya karena Alfred sangat mempercayai ibu. Jujur saja, saat ibu memutuskan pindah ke sini. Aku ingin menolak, tapi semua Ibu lakukan demi Aleta, demi dia. Apa Ibu tidak pernah memikirkan perasaan ku?" tanya Alfred. Suara merendah dan menekan, namun bisa di dengarkan oleh Violeta dan Duke Arland. Semuanya mengatakan aku anak haram. Lahir tanpa seorang Ayah. Aku ingin mengadu, tapi aku takut air mata ibu turun akulah penyebabnya. Lihatlah dia. Bu, sosok yang di kagumi oleh semua orang,banyak orang, bahkan dia di hormati oleh Baginda Kaisar, tapi dia laki-laki lemah yang tidak bisa melindungi istri dan anak-anaknya. Dia memanjakan, memberikan kasih sayang pada anak satunya. Sementara anaknya yang lain harus menanggung semua penghinaan," ujar Alfred. Kali ini dia menangis dan mengepalkan tangannya. Dia benci, benci dirinya yang mudah menangis dan menangis di depan orang yang paling dia benci.
"Bukan salah, Duke. Aku yang memilih pergi."
"Dan kepergian Ibu adalah dia."
Alfred langsung berlari, dia ingin menangis menumpahkan semuanya.
"Sudah, Duchess. Tidak apa-apa, dia kecewa. Ya, dia kecewa." Duke Arland melenggang pergi ke ruang kerjanya.
Kini ketiga orang itu larut dalam kesedihan,kasih sayang, kebencian dan cinta. Semuanya merasakannya, ketiganya pun terisak dalam diam. Mengeluarkan rasa itu di hatinya mereka.
Sedangkan Violeta, dia ingin Alfred dan Aleta merasakan kasih sayang. Ia salah, salah mengira Alfred menerima Duke. Sepertinya dia paham, kebencian Alfred lebih besar dari pada rasa sayangnya.
Apa dia hanya berpura-pura menerima Duke? apa dia ingin balas dendam?"
Violeta tak menginginkan seorang anak membenci ayahnya, begitupun sebaliknya. Walaupun keduanya berpisah, tapi tak pernah dia pikirkan Alfred membenci ayahnya.
"Duchess."
Ketua pelayan pun memberikan hormat. Dia melihat dan mendengarkan semuanya. Kesalahan awal memang terletak pada Duke." Saya sangat senang karena Nyonya telah kembali.Saya minta maaf jika ikut campur, tapi percayalah, Duke sangat mencintai Duchess. Selebihnya untuk nyonya Felica, dia hanya bertanggung jawab. Selama ini nyonya Felica kadang menangis karena Tuan Duke sangat dingin padanya dan mengabaikannya. Dia hanya menerima tuan muda Aronz. Semuanya dia lakukan demi tuan muda saja."
"Apa Nyonya tahu,Nyonya Felica seorang ibu yang tidak mencintai tuan muda Aronz. Kecemburuannya membuat tuan muda Aronz sering di perlakukan semena-mena, tapi tuan muda tidak pernah mengadu, bahkan dia menyuruh para pelayan menutup mulut."
"Aku sudah menerimanya,Aronz tidak bersalah."
"Tapi luka itu masih ada, bukan. Saya mohon, Duke sering menangis, dia sangat berusaha menjadi kuat hanya karena ingin menemukan Nyonya. Di saat semuanya mengatakan nyonya telah meninggal, hanya Tuan yang mempercayai nyonya masih hidup," ujar ketua pelayan. Dia memberikan hormat kemudian berlalu pergi.