My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kepergian Aronz



Duke Arland menurunkan tangannya, tapi bukan berarti dirinya mengalah. "Lihat! anak yang kamu telantarkan, hari ini menyelamatkan nyawa mu."


Felica tak menjawab, ia sibuk mengatur nafasnya. Memegangi lehernya yang sakit, air matanya tadi langsung mengalir karena cekikan Duke Arland sangat kuat.


"Aku tidak menelantarkannya, justru aku ingin membuatnya hebat, seseorang yang bisa kamu banggakan agar kamu melihatnya, jika suatu saat nanti anak mu kembali."


"Aronz, kamu ikut ibu, Duke Arland akan berubah, dia tidak akan menyayangi mu seperti dulu. Ingat posisi kita, kita hanya sebuah kesalahan di matanya."


"Jangan mencuci otak putra ku dengan pikiran picik mu, Felica."


Felica tersenyum sinis, jika ia tidak bisa tinggal di sini. Setidaknya Aronz ikut dengannya.


"Aronz kamu harus tinggal di sini." Tegas Duke Arland.


"Tidak Aronz, kita hanya menumpang. Ibu hanya memiliki mu saja. Apa arti hidup ibu tanpa dirimu Aronz." Bujuk Felica.


"Ayah, aku akan ikut dengan ibu."


Duke Arland menganga, hampir saja jantungnya copot. "Ke-kenapa Aronz?" Duke Arland berjongkok, dia memegangi kedua bahu Aronz dan sedikit mengguncangnya. "Apa kamu tidak menyayangi Ayah?"


"Tidak Ayah." lirih Aronz. "Bukan begitu, tapi sudah ada Duchess, Aleta dan Alfred."


Duke Arland memejamkan matanya, walaupun mereka ada, ia akan berlaku adil pada mereka. Aronz putranya, sekaligus Aleta dan Alfred. "Aronz, dengar Nak. Ayah tetap menyayangi mu, tidak akan ada yang berubah Aronz."


"Bohong Aronz, kamu tidak tahu kedepannya kan. Lihat pada diri ku, dulu Duke begitu mencintai ku, tapi sekarang apa? dia justru mencintai Violeta."


"Sayang dengarkan ayah, jangan dengarkan dia. Dia hanya ingin memisahkan kita."


"Aronz dengarkan ibu, sampai kapan pun ibu yang sangat mengerti dirimu, ibu yang melahirkan mu, jadi ibu tahu dan paham perasaan mu. Kamu tidak ingin mereka datang ke sini kan, kamu ingin ibu dan ayah baik-baik saja seperti yang lainnya kan."


"Cukup Felica!" Duke Arland berdiri dan


plak


"Sudah cukup! pantas aku tidak memilih mu, akhirnya kamu menunjukkan sikap mu dan sifat mu."


Felica memegangi pipinya yang panas dan perih, dia tidak akan kalah dan tentunya tidak akan kalah. Cukup dulu dia kalah, namun tidak sekarang.


"Bunuh saja aku Duke, tampar aku sepuas mu. Terserah kamu mau apakan aku," ujar Felica, dengan begini Aronz akan melihat penderitaannya.


"Sudah cukup Ayah! aku akan ikut dengan ibu. Aku tidak mau tinggal di sini."


"Kenapa Nak? bukankah kamu sangat menyayangi Violeta, kamu ingin menjadikan dia sebagai ibu mu kan."


Aronz berusaha bersikap tenang, ia tahu ayahnya mengkhawatirkan keadaannya. Bukannya ia tidak suka tinggal bersama mereka, apalagi memiliki seorang kakak. Dia begitu sangat bahagia, tapi dia ingin mengawasi ibunya, takut sewaktu-waktu ibunya tidak bisa di kendalikan.


"Aku mohon Ayah, aku ingin ikut ibu. Semua yang Aronz lakukan hanya demi ayah dan ibu Violeta, ayah dan ibu bisa kapan saja melihat ku."


Aronz meneteskan air matanya, ia juga berat, namun inilah yang terbaik. Ia yakin, ayahnya akan mengerti.


"Tolong Ayah, Aronz mohon, mengertilah."


Duke Arland memilih diam, bukannya ia setuju, tapi hatinya rasanya sangat berat mengatakan iya atau tidak. "Percayalah, ayah tetap menyayangi mu, semuanya tidak akan berubah."


"Aronz percaya pada ayah."


Duke Arland berdiri, ia mengatur nafasnya sedalam-dalam mungkin. "Paviliun di daerah Thabes akan menjadi milik mu dan Aronz."


Felica tersenyum, tidak sia-sia dia membawa Aronz. Setidaknya hidupnya tidak perlu susah. "Dan ingat, aku berubah karena aku mencintai mu, itu sama seperti dulu."


Duke Arland mengabaikannya, ia memilih memerintahkan beberapa pengawal dan pelayan untuk Felica dan Aronz, setelah itu keduanya berpamitan. Aronz melangkah di iringi air mata yang terus mengalir, dia benar-benar berpisah dengan ayahnya. Ia berharap pengorbanannya tidak sia-sia.


"Maafkan aku ibu Vio, semoga dengan ini, ibu bahagia, maafkan aku yang sudah membuat Ibu dan Ayah berpisah, seandainya tidak ada aku, mungkin kalian sudah bahagia."


Sedangkan Duke Arland, langsung masuk dan duduk di sofanya dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya. Hidupnya kacau balau, semenjak kehilangan Violeta hidupnya seakan tak ada sinar terang lagi.


Ia pun menghapus air matanya, besok pagi ia harus menemukan Violeta dan membawanya. Tidak peduli Violeta menolaknya, yang jelas setidaknya demi Aronz dan kedua anaknya.


Ditempat lain.


Seorang pria tengah serius mendengarkan salah satu pengawalnya yang di perintahkan oleh Kesatria Gio untuk mencari informasi dari kediaman Duke dan benar saja, ia mencium bau-bau perempuan licik.


"Jadi sebentar lagi aku akan berpisah dengan Aleta, oh aku tidak sanggup memikirkannya. Jarak sangat jauh, hati ku sangat dekat."


Puisi macam apa itu, tidak nyambung batin Kesatria Gio


"Lalu bagaimana? apa ada sesuatu yang aneh?"


"Kami terus menyelidikinya Baginda," ujar salah satu pengawal itu.


"Tetap awasi dia."


"Baik Baginda," ucap mereka serempak dan membungkuk hormat. Keduanya pun pergi menjalankan perintah Kaisar Fictor.


"Hah, kenapa harus cepat. Ada rasanya aku bahagia dan sedih."


perasaan hidup Baginda selalu datar, pikiran dari mana itu batin Kesatria Gio.


"Besok aku harus bertemu dengannya, setidaknya aku menghilangkan rasa rindu ku."


Dikit-dikit rindu, kapan selesainya tugas mu Baginda.