
cit
cit
Violeta membuka matanya, suara itu. Suara yang sering dia dengar di masa lalunya waktu pagi hari. Suara yang begitu ia rindukan, menikmati langit cerah kebiruan dan semilir angin yang sangat dingin.
Violeta merasa ada sesuatu yang menumpu tangan kanannya. Ia tidak bisa bergerak dengan mudah. Kedua matanya melirik. "Hah, Duke!" Violeta ingin menghindar, namun pelukan Duke Arland membuatnya tidak bisa berkutik. "Duke!"
hm
Hanya lenguhan, bukannya melepaskan. Duke Arland semakin mengeratkan pelukan ke pinggangnya sedangkan kepalanya malah mendusel-dusel ke lehernya itu.
"Duke, bangunlah."
Violeta semakin kesal, membangunkan Duke Arland sangat tidak mudah baginya.
"Emm, Vio.."
Violeta menghentikan tubuhnya yang bergerak memberontak. Ia merasa kasihan melihat Duke Arland yang tertidur pulas.
"Vio.. "
Duke Arland menggumankan namanya, dahinya berkerut dan kepalanya bergerak gelisah. "Vio... "
"Vio jangan pergi."
"Vio."
Violeta mengusap dahinya yang penuh keringat, mengelus punggung Duke Arland sampai raut wajahnya tenang. "Apa yang kamu mimpikan Duke?"
Violeta mengusap pelan keringat itu, kemudian mengelus dadanya seperti seorang bayi."Shut... Tidurlah.."
Duke Arland merasa nyaman, dia kembali tidur dengan pulas. Dengan pelan-pelan, Violeta menjauh dari Duke Arland. Dia membenarkan selimutnya sampai ke dada Duke Arland, lalu berlanjut ke kamar mandinya.
Seusai membersihkan tubuhnya, Violeta kembali menghampiri ranjangnya."Dia masih tidur."
Violeta memutar tubuhnya, namun sebuah panggilan dengan nada serak itu mengurungkan niatnya.
"Duchess."
Violeta menghampiri Duke Arland,melihat orang di hadapannya dengan penampilan berantakan. Dia sangat gemas, ingin sekali mencubit pipinya itu.
"Vio."
Duke Arland menyibak selimutnya, kemudian langsung memeluk Violeta, membenamkan kepalanya di perut sang istri."Vio.."
"Tapi, aku ingin memeluk mu." Duke Arland tak mengubris, dia masih nyaman dengan pelukannya.
"Jika seperti ini semuanya akan salah paham."
Duke Arland mendongak. "Kamu istri ku, apanya yang salah paham."
Violeta langsung meninggalkan Duke Arland sendiri. Ia terlalu malas untuk menjelaskannya.
"Selamat pagi sayang," ujar Violeta menyapa Putrinya Aleta dan Alfred."Bagaimana tidur kalian sangat nyenyak?"
"Iya, Bu. Aku sangat senang kita bisa berkumpul lagi. Tadi malam aku mimpi indah sekali, aku melihat kita berada di taman dan ibu menggendong seorang bayi laki-laki. Katanya dia adik ku,"
Violeta tersenyum tipis, dia tidak mungkin mengatakan bahwa kehidupan mereka baik-baik saja.
tak
Suara dentingan sendok itu membuat kedua wanita itu menoleh pada Alfred.
"Kakak kenapa? apa rotinya tidak enak?" tanya Aleta.
Alfred menatap tajam Aleta, dia tidak suka dengan perkataan adiknya itu. Di masa lalu dan di masa sekarang, Duke Arland telah membuangnya dan tidak akan mengubah apapun."Perkataan mu yang membuat ku tidak nyaman."
"Maksud kakak,"
"Dengar Aleta, apa yang kamu harapkan dan kamu inginkan tidak semuanya harus menuruti mu. Jadilah adik yang bijak, maka kamu akan mengerti."
"Alfred!"
Anak laki-laki itu menatap sang ibu. "Kenapa Bu? apa Ibu akan memanjakannya? apa Aleta memikirkan perasaan Ibu? tidak, kan."
"Alfred dia adik mu!"
"Jika dia adik ku, dia akan mengerti ucapan ku."Alfred kembali menyantap rotinya dengan cepat.
"Apa kakak tidak menerima ayah?"
Ucapan Aleta membuat Alfred menghentikan suapannya.
"Kalau kamu tahu, jangan memaksa ibu seperti kemauan mu."
Aleta mengeluarkan air matanya. Dia langsung pergi, namun langkahnya berhenti saat melihat sang ayah yang berdiri di depannya. Aleta melewati Duke Arland begitu saja. Bukan hanya Aleta yang merasakan sakit, tapi juga dirinya.