My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kepergiannya



Seusai berpamitan dengan Violeta, Alfred dan Aleta. Sedangkan Kaisar Fictor telah mendahului berpamitan dengan mereka, kini giliran Duke Arland lah yang berpamitan.


Wajah Violeta berubah sendu, hati kanannya berbisik tidak rela, sedangkan hati kirinya berbisik merelakannya. Pikirannya bercabang, keduanya bercampur seperti teh dan susu.


Memandangi wajah Duke Arland, laki-laki yang pernah menjadi suaminya, cintanya dan sekarang harus pergi. Laki-laki gagah dengan sejuta pesona, dia terikat dengan pesona ketampanannya dan matanya yang berwarna biru.


"Alfred, Aleta jaga ibu kalian untuk ayah. Secepatnya ayah akan kembali dan membawa kalian pulang. Janji ayah, " salah satu tangannya menepuk pundak Alfred.


"Ayah secepatnya kembali." tidak ada sahutan dari mulut Alfred, namun kedua matanya menyorot seolah menyetujuinya.


Sedangkan wajah seorang gadis di samping Alfred, nampak sedih, wajahnya murung., kerutan di dahinya terlihat jelas. "Aleta sayang, ada apa? huem.. "


"Haruskah secepatnya."


Duke Arland memilih tersenyum. Ia harus menyelesaikan semuanya, masalah yang menjadi benalu semasa hidupnya. "Ayah akan kembali, setelah ini, ikutlah dengan ayah."


"Sama dengan Ayah, ayah juga begitu merindukan mu. Ayah masih ingin bersama mu, ibu mu dan juga kakak mu, tapi ada sesuatu yang mendesak, yang mengharuskan ayah pergi."


"Pulanglah dengan cepat ayah."


"Iya."


Duke Arland kembali melihat ke arah Violeta, ia berharap ada sesuatu yang muncul di mulut Violeta. Keduanya kakinya masih setia berdiri, menunggu satu ucapan yang ingin ia jadikan sebagai oleh-oleh di pertemuan pertamanya. Detakan jam terus berlanjut, sampai dia paham. Violeta hanya menemani kedua anaknya mengantarkan kepergiannya, bukan untuknya.


"Ibu," Aronz menyapa Violeta. "Aku pergi, aku ingin kita lebih lama bersama, tapi sepertinya tidak,"


"Berhati-hatilah, Nak."


Aronz memeluk Violeta, kepalanya bersandar di perut Violeta, hatinya begitu menyayangi Violeta dari pada ibunya, entahlah, hatinya berlainan. Biasanya setiap anak akan mencintai ibunya, tapi hatinya tidak. Dia menginginkan Violeta menjadi ibunya, mungkin karena dia haus akan kasih sayang.


"Violeta, aku pulang bukan untuk tidak kembali, tapi aku pulang untuk kembali."


Duke Arland dan Aronz berjalan beriringan, langkahnya terasa berat. Setiap langkah keduanya di iringi air mata. Aronz mengusap pipinya yang basah, sedangkan Duke Arland dia menghentikan langkahnya, ingin sekali dia berputar dan memeluknya, namun keberaniannya tersisa hanya bisa.menolehkan lehernya saja, menatap jauh gadis pujaannya.


Keduanya pun menaiki kereta, lalu menghilang di balik gerbang besi itu. Violeta langsung memutar tubuhnya, dadanya seperti di remas, sesak dan sakit. "Aku harus kuat, dia akan bahagia tanpa aku. Hidup di masa lalu.. " Violeta menghentikan ucapannya. Dia Helena bukan Violeta, bagaimana jika Violeta begitu mengharapkan kehadiran Duke dan malah mengharapkan Duke? Ia tidak pernah berfikir ke arah sana, di pikirannya hanya ia fokuskan kehidupannya sebagai Helena, bertindak sebagai Helena.


"Aku... Aku sangat takut."


Di tempat lain.


Pecahan kaca dan vas bunga berserakah di mana-mana. Orang yang ia suruh mencari keberadaan Duke tidak di temukan sama sekali. Ia sudah menghabiskan beberapa banyak uang, namun hasilnya tidak ada sama sekali. Baru saja dia di beri kabar lewat salah satu pembunuh bayaran yang menyelinap masuk ke kamarnya


"Dia harus di temukan, kalau tidak." Giginya mengelatup, bergetar hebat.


"Kami akan berusaha mencarinya nyonya," ujarnya orang berjubah hitam.


Argh


"Sialan! aku sudah membayar kalian mahal. Aku tidak mau tahu, kalian harus mencari. Jika Duke datang kesini, ikuti dia, kemanapun dia pergi."


"Baik Nyonya," ujarnya. Lantas dia langsung pergi, menghilang di balik jendela balkom.


Orang berjubah hitam itu bisa memasuki kediaman Duke Arland yang super ketat karena sebagian pengawal dari mereka mengikuti Duke Arland.


"Dimana dia? aku khawatir semuanya seperti pikiran ku."


"Duke Arland milik ku, aku, Aronz dan Duke Arland bisa hidup bahagia."


Di sisi lain.


Kaisar Fictor uring-uringan di ranjang kebesarannya, bolak-balik, memposisikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, kadang tengkurap, kadang terlentang menatap langit-langit kamarnya dan kadang duduk, kemudian menjatuhkan tubuhnya secara kasar.. Semenjak itulah hidupnya semenjak kepulangannya dari rumah Violeta Aghata.


Perkataan paman membuatnya tak jelas, bak anak ayam yang berlari mencari ibunya. Bagaimana kalau Aleta menganggapnya sebagai paman atau temannya? bisa hancur masa depannya. Bahkan dia sudah menyiapkan semuanya, tempat tidur untuk Aleta di masa depan, kamar yang luas dan berbeda, taman yang indah serta rumah kaca dan tak lupa dia merancang sebuah labirin sebagai tanda cintanya untuk Aleta di masa depan.


"Tidak! aku harus memikirkan bagaimana caranya, Aleta bergantung pada ku. Ya, itu., hanya itu, tapi apa dan bagaimana?"


Kepalnya terasa pecah dan otaknya berceceran entah kemana. "Bagaimana kalau aku membuat salah satu pelayan di sana berpihak pada ku. dam aku akan menyuruhnya mengawasi Aleta. Misalkan Aleta membutuhkan sesuatu dan aku akan sigap sebagai seorang pahlawan yang datang padanya, membawakan sesuatu yang dia perlukan."


Wajah Kaisar Fictor berubah berseri-seri, dia sudah menemukan jawabannya. Dia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk membahas ide berliannya itu, namun sampai di ambang pintu dia menemukan selirnya dan permaisurinya.


"Baginda saya.."


"Aku sibuk, sangat sibuk dan tidak bisa di ganggu gugat. Kalian pergilah jangan mengganggu ku, ah salah mengganggu kehidupan ku." Kaisar Fictor berlalu pergi. Dia pusing dengan para istrinya yang saling menyindir dan selalu meminta ini dan itu, bahkan ia sampai memesan seorang perhiasan demi mereka yang sibuk berselisih dan hal itu membuatnya jengah. Ia tidak peduli, selama mereka tidak mengusiknya dan mengusik miliknya. Seandainya bisa, dia lebih mengusir mereka, namun ia harus memiliki bukti jika ingin mengeluarkan mereka. Tetapi untuk saat ini, ia biarkan saja. Dirinya akan fokus sebagai pahlawan Aleta.