My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Permohonan



Violeta memilih memasuki kamar Aleta lebih dulu, dia harus menenangkan putrinya manjanya itu."Sayang, hem."


Bocah perempuan itu menatap ibunya. Kedua matanya memerah dan bengkak. Hidung mancungnya pun memerah dan sembab. "Sudah jangan di pikirkan perkataan Kak Alfred. Dia begitu, karena takut Aleta lebih menyayangi Ayah daripada Kakak."


"Benarkah?" tanya Aleta polos.


"Iya sayang." Violeta meyakinkannya.


Aleta kembali teringat perkataan Alfred. Dia ingin bertanya dan mungkin ini pertanyaan terakhir, jika ada jawaban. "Apa Ibu sangat menyayangi ayah?"


"Aku ingin Ibu dan Ayah bersama, Aleta sangat tahu, Ayah menyayangi Ibu. Setiap kali melihat Ibu, dia pasti sedih." Tutur Aleta jujur. "Jika Ayah punya salah, maafkan dia Bu. Aleta senang kita bisa hidup bersama."


"Iya sayang, Ibu senang kita hidup bersama," ujar Violeta sedikit menjawab ucapan Aleta. Dia bingung, harus mengatakan sayang atau tidak. Hidupnya tidak semudah dulu.


"Kamu istirahat,jangan memikirkan apa-apa."


Aleta mengangguk, dia membaringkan badannya ke atas ranjang dan Violeta membenarkan selimutnya, menutupi sampai di atas dada. Kemudian memberikan sebuah kecupan di dahinya. "Istirahatlah,"


Aleta pun mengangguk,selepas menangis. Kedua matanya panas dan lelah. Ingin sekali terpenjam.


Violeta keluar, dia menuju kamar Duke Arland yang di tempati di masa pernikahan awal dan kamar pribadinya.


ceklek


Violeta mengedarkan pandangannya, ruangan itu sangat gelap. Seluruh gorden tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari memasuki kamar itu. Di lihatnya ke atas nakas, hanya ada satu lilin yang menjadi penerangannya.


"Duke," ujar Violeta. Dia melihat Duke Arland berdiri di depan lilin itu dan kepalanya mendongak. Dia pun mengikuti arah pandang Duke Arland dan melihat sebuah lukisan. Lukisan pernikahannya, lukisan yang menjadi saksi awal pernikahan mereka.


"Duke,"


Violeta menyentuh bahu kanan Duke Arland."Hemmp, sudah jangan di pikirkan perkataan Alfred."


Duke Arland memutar tubuhnya, menghadap Violeta. Kemudian memeluknya dengan erat."Aku salah, aku salah."


Violeta membalas pelukannya, entah dia sadar atau tidak. Sedikit demi sedikit hatinya mulai terunyah. Seolah benteng itu perlahan runtuh. "Semuanya akan baik-baik saja."


"Aku bukan ayah yang baik dan suami yang baik." Duke Arland melepaskan pelukannya. Tubuhnya merosot ke bawah, dengan sigap Violeta menahan kedua lengannya. "Jangan seperti ini."


"Berikan aku satu kali kesempatan, jika aku mengecewakan mu. Kamu boleh meninggalkan ku dan aku akan membebaskan mu, seperti apa yang kamu inginkan."


Violeta menatap haru, demi kesempatan kedua. Duke Arland menjatuhkan harga dirinya. Bahkan dia rela duduk di lantai, memohon padanya. Violeta tak menjawab, namun dia memeluk Duke Arland.


Begitupun Duke Arland, rasa bahagianya, seakan membawanya melayang. Masalah Alfred, ia akan menaklukan hati anaknya itu, yang terpenting sekarang adalah Violeta dan Aleta dan setelahnya, dia akan menceraikan Felica.


tok


tok


tok


Violeta melepaskan pelukannya."Tunggu di sini, aku akan keluar." Violeta pun membantu Duke Arland duduk di tepi ranjang.


ceklek


"Ada apa?" tanya Violeta.


"Di luar ada kiriman hadiah untuk nona Aleta. Sepertinya dari Kekaisaran."


Violeta mengernyit bingung, dari Kekaisaran untuk Aleta. Setahunya, Aleta tidak memiliki seorang teman dari istana."Sebentar lagi aku akan turun."


"Baik Nyonya."


"Aleta memiliki teman, tapi siapa? dia tidak memiliki teman dari istana.


"Sayang." Duke Arland memeluk Violeta dari belakang. Ia tidak canggung lagi karena Violeta mau memberikannya kesempatan. Meskipun tidak ada ucapan atau sebuah kalimat pernyataan cinta.


"Ada apa, sayang?"


"Aleta menerima sebuah hadiah, tapi hadiah dari siapa?"


"Duke, beristirahatlah. Aku akan menemui mereka."


"Aku ikut." Duke Arland melepaskan pelukannya, dia berjalan bergandengan tangan dengan Violeta, mengenang ataupun mengulang masa lalu yang pernah terukir.


Sampai di ruang tamu, Duke Arland dan Violeta malah terkejut. Bagaimana tidak terkejut, dia melihat beberapa kotak dan beberapa gaun. Bisa di bilang, seluruh hadiah itu memenuhi satu kamar Aleta. "I-ini dari siapa?"


"Dari Baginda Kaisar Fictor, Nyonya. Baginda juga memilihkan beberapa gaun dan barang serta perhiasan dari sini dan yang lainnya di kirim dari Kekaisaran Fictor." jelas salah satu pengawal dan satu wanita yang di beri tanggung jawab oleh Kaisar Fictor untuk menyampaikan semua hadiahnya.


"Apa Baginda begitu menyayangi Aleta? aku rasa semua barang di toko itu, dia bawa kesini."


Di sisi lain.


Seorang laki-laki tengah tersenyum bahagia, dia tidak bisa membayangkan raut wajah Aleta yang senang karena pemberian hadiahnya. "Gio, Aleta pasti senang, dan Duke serta Duchess pasti sangat bahagia."


"Iya Baginda, mereka sangat senang."


Bukan hanya senang, Baginda. Mereka akan pingsan geram Kesatria Gio. Siang malam dia berkerja bukan urusan istana, melainkan menemani kegilaan Kaisar Fictor yang ngotot ingin memberikan hadiah.