My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kekhawatiran Duke Arland



Alfred terus mengayukan pedangnya, hingga pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu 'aku pulang' Alfred langsung menoleh, dia tidak fokus pada ayunan pedang di depannya dan benda tajam itu mengenai lengan kanannya.


"Alfred!" teriak Violeta,


cress


Darah segar keluar dari lengannya. Alfred melihat tangan kanannya, darah itu keluar hingga membasahi pakaian yang berwarna putih.


"Maafkan paman Alfred, kenapa kamu tidak fokus Alfred?"


"Alfred, tangan mu berdarah." Violeta memegangi tangan kanan Alfred.


"Cepat panggilkan Dokter!" teriak Violeta. Pelayan Mia berlari keluar, dia akan membawa Dokter untuk sang tuan muda.


"Apa yang kamu lakukan, hah? apa kamu tidak bisa melihatnya? Putra ku terluka!" teriak Duke Arland.


Laki-laki setengah baya itu tampak shok. Jadi selama ini muridnya memiliki seorang ayah dan sekarang dia melihat diri Alfred ada pada diri laki-laki di depannya.


"Berhenti! ini salah ku, jangan memarahi guru ku."


"Kamu tidak marah, tapi aku Alfred." Duke Arland melihat lengan Alfred, "Lukanya sangat dalam, ayo sayang!"


Duke Arland membopong tubuh Alfred dan berlari,ia mendudukkan tubuh Alfred ke sofa. Hatinya mencolos sakit, anaknya terluka, tapi ia tidak bisa melakukan apapun.


"Dimana Dokternya?" Alfred mengusap kepalanya dengan kasar, kemeja panjang berwarna putih itu terciprat luka di lengannya, bahkan separuh lengannya sudah berlumuran darah.


"Sayang, ini pasti sakit. Aku akan meniupnya agar sakitnya menghilang." Duke Arland berjongkok, dia meniup luka Alfred.


Deg


Tubuh Alfred menegang, Duke Arland meniupkan luka di tangannya, lalu menatapnya menanyakan sakit atau tidaknya. Jelas tangannya sakit, tapi mendapatkan tiupan dari mulut Duke, mendadak rasa sakit itu menghilang. Perasaannya tak menentu, seolah merasakan bersalah. Mengingat betapa kasarnya dia berbicara pada Duke


"Alfred, apa masih sakit? apa yang harus ayah lakukan?"


Duke, sebegitu perhatiannya dirimu pada Alfred.


"Ayah, Dokter sudah datang!" teriak Aronz, dia berlari menghampiri Duke Arland.


Violeta hanya melihat kedua laki-laki itu begitu panik, sejujurnya dia juga panik bahkan lebih panik dari pada mereka, entah berapa kepanikan mereka, ia tidak tahu, melebihinya kepanikan mereka atau berkurang.


"Sayang.. "


"Dokter hati-hati, jangan sampai anak ku menjerit."


Ck


Alfred merasa bosan, dia memang anak kecil, tapi pikirannya sudah dewasa. Apa lagi hanya luka seperti ini, sudah biasa baginya. "Aku baik-baik saja, Duke tidak perlu khawatir."


"Apanya yang baik-baik saja? lihatlah luka mu, apa kamu masih berfikir baik-baik saja? lihat wajah Duchess, dia sangat khawatir, bahkan bibirnya mengatup rapat. Apa kamu sangat sering membuatnya khawatir?"


"Aku bukan anak kecil, luka seperti ini sudah biasa bagi ku."


Duke Arland terdiam, laki-laki ini mirip dengannya bahkan lebih kuat darinya."Kuatkanlah hati mu dan kuatkan hati kedua orang tua mu yang sangat khawatir."


"Hey pelan-pelan, anak ku meringis, apa kamu ingin membunuhnya."


"Duke!" sentak Violeta. Dia merasa malu karena wajah Dokter itu tampak kesal. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berniat membunuh keluarga yang sangat baik bagi semua orang. Ingin sekali ia mengusirnya.


"Apa Duchess? apa kamu juga merasa sakit? tenanglah dia tidak akan apa-apa."


Violeta menarik lengan Duke ke sampingnya. "Diam! biarkan Dokter yang mengobatinya, dia tidak akan konsentrasi karena mendengarkan ocehan mu."


Duke Arland terdiam, ia menuruti perkataan istrinya, namun hatinya meringis melihat luka yang amat dalam itu.


Selang beberapa saat, Dokter itu telah bernafas lega. Ia bisa menghentikan pendarahan di lengan Alfred. "Jangan terlalu banyak bergerak dan lukanya tidak boleh sampai terkena air untuk beberapa hari ke depan."


"Terima kasih Dokter karena sudah mengobati Alfred."


"Ini sudah menjadi tugas ku nyonya," ujarnya tersenyum.


"Dan ini obatnya nyonya." Dokter itu pun memberikan obat pada Violeta. Untungnya dia membawa semuanya tanpa kekurangan apapun.


"Baiklah, saya pamit nyonya."


"Iya."


"Alfred, apa masih ada yang sakit." Duke Arland kembali berjongkok. Kepala Alfred tiba-tiba merasa pusing mendengarkan celoteh Duke Arland.


"Tidak ada!" Ketus Alfred, kemudian berdiri.