
Tubuh Alfred gemetar, bukan karena ketakutan melainkan karena amarahnya yang mulai tadi tertahankan.
Dia tidak suka melihat ibunya menangis, apa lagi karena sang ayah. Dia memang begitu mengharapkan kasih sayang dari Duke, tapi jika melihat seperti ini. Rasanya dia tidak membutuhkannya lagi.
"Violeta."
Duke Arland tak melepaskan tubuh yang ia rengkuh, meskipun mendapatkan pemberontakan dari Violeta.
"Cukup!" teriak Alfred.
Duke Arland melepaskan tubuh Violeta karena merasa tatapan Alfred mengibarkan bendera permusuhan padanya.
"Alfred."
"Jika Duke ingin kami tinggal di sini, jaga batasan Duke." Alfred menoleh pada Violeta. "Ayo, Bu. kita masuk."
Duke Arland membiarkan Alfred dan Violeta melangkah lebih dulu. Dia memperhatikan punggung keduanya yang mulai menjauh seiringnya langkah mereka.
Sedangkan Aleta, dia melihat Duke Arland yang ingin mencegah, namun tidak bisa di cegah. Tangannya seperti es yang melayang di udara. "Ayah."
Aleta menarik tangan itu dan menggenggamnya. "Maafkan Kakak, dia memang seperti itu. Tidak ada yang berani menyakiti ibu, karena ada singa di depannya," ujar Aleta terkekeh. Dia ingin mencairkan suasana hening itu. "Sudahlah, ayo masuk. Aku ingin melihat kamar ku."
Duke Arland menurut,dia melangkah sesuai tarikan dari Aleta, putrinya itu..
Sedangkan para pelayan yang melihatnya, merasa kasihan. Mereka tahu bagaimana kehidupan Duke Arland setelah kepergian Violeta.
"Sesuai dengan perintah Duke."
Laki-laki sang kesatria itu memberikan hormat. Dia begitu paham yang di maksud majikannya. Pertama dia menjemput Aronz dan kemudian membawa Felica.
Setelah mengantar Aleta ke kamarnya, Duke Arland melangkah ke kamar yang berjajar dengan kamarnya dan Violeta, kamar yang memiliki banyak kenangan mereka selama pernikahan. Dia menyuruh pada pelayan untuk mengantarkan Violeta ke kamarnya sendiri dengan harapan Violeta mau mengingat semua kenangannya dan mau menerimanya kembali.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya,Duke Arland menatap pintu kamarnya, ia tersenyum. Mungkin Violeta sudah tidur, jadi dia bisa tidur di sampingnya seperti pencuri.
Idenya pun tak ia sia-siakan. Dia pun langsung keluar, melihat kanan-kiri dan kebetulan suasana malam itu hening. Dia memutar handle pintu itu, sejenak dia kembali melihat kanan-kiri, di rasa cukup aman. Dia pun melanjutkan niatnya.
Duke Arland menghampiri ranjangnya dan melihat seorang wanita yang tertidur pulas. Dia menaiki ranjang itu dengan hati-hati,membaringkan tubuhnya di samping Violeta dan menarik selimutnya sampai membungkus tubuhnya itu.
Duke Arland pun memeluk tubuh Viola yang tidur terlentang, kepalanya di sandarkan ke bahu kiri Violeta. Kemudian menjemput alam mimpinya itu.
Di tempat lain.
Felica mengawasi kediaman Duke, ia merasa heran. Tidak biasanya pengawal itu berjaga sangat ketat. Di depan pintu gerbang ada empat penjaga dan empat penjaga lainnya yang mondar-mandir mengelilingi kediaman Duke.
"Ada apa dengan kediaman Duke? Apa ada sesuatu sampai penjagaan ini sangat ketat?" Gumamnya bertanya-tanya. Tidak biasanya Duke Arland melakukan penjagaan yang begitu banyak.
"Aku harus bagaimana untuk memasukinya dan mengawasinya? sebenarnya ada apa dengan Duke?"
"Besok aku akan kembali lagi ke sini. Aku harus tahu, apa yang terjadi di kediaman Duke. Aku harus kembali ke kediaman ini bersama Aronz," Gumamnya melangkah pergi dengan wajah kesal. Malam ini rencananya gagal, entar kapak dia bisa merayu Duke dan kembali ke.kediaman megah itu.