
Felica terlonjak kaget, mendapati seorang yang tengah mendekati meja makan. Mulutnya seolah tak bisa terkatup dengan rapat. Tubuhnya langsung kedinginan, ia takut Duke Arland mengetahui semuanya, lukisan itu, namun ia berusaha bersikap tenang.
"Tuan." Ia mendorong pelan kursinya, berdiri untuk menyambut kedatangan Duke Arland.
Duke Arland menatap sebentar, ia duduk tanpa mengucap sepatah kata apapun.
Felica ikut duduk, buru-buru dia meminum segelas susu di sampingnya. Ia penasaran dan ingin menanyakan tentang kepergiannya, ada rasa keberanian, namun setengahnya saja.
"Apa Aronz juga ikut pulang?"
"Iya!"
Tak butuh waktu lama, Felica melihat Aronz yang menghampiri mereka. "Sayang, kamu baru pulang. Ibu sangat merindukan mu." Tersenyum manis melebihi manisnya madu.
Seketika hati Aronz menghangat, ibunya masih mau menanyakan keberadaanya. Memikirkan senyuman itu, sudut bibir yang tertarik ke atas, kini perlahan turun.
"Sayang, apa ada sesuatu yang mengganggu mu?"
"Tidak ada Bu,"
"Setelah ini aku ingin berbicara dengan mu dan juga Aronz." Putus Duke Arland yang langsung berdiri meninggalkan meja makan itu.
Felica mencari sesuatu dalam pikirannya, "Aronz, apa ada sesuatu yang kamu ketahui? sebenarnya kamu dan ayah mu kemana dan kalian tidak ada di sini."
"Apa ibu menyuruh orang untuk mencari kami?" tanya Aronz dengan tatapan menyelidik.
"Ah, tidak. Ibu hanya tahu saja, maksudnya Ibu tanpa sengaja mendengarkan dari bangsawan. Mereka hanya menebak seperti itu."
"Tidak masuk akal, apa ibu tadi tersenyum dan menyambut manis Aronz hanya karena ingin menanyakan sesuatu?" Tuduh Aronz membuat Felica mati kutu.
"Tidak Aronz, tidak seperti itu. Ibu tulus pada mu dan menyambut mu, hanya itu saja."
Aronz merasa jengah, bisa-bisanya dia terlena pada senyuman ibunya. "Aku menyusul Ayah, secepatnya Ibu juga menyusul."
"Pelayan! Pelayan!" Teriaknya menggema di seluruh ruangan.
Tubuh Felica menggigil, dia tahu teriakan Duke Arland. Pasti karena ruangan pribadinya yang telah terbakar. Para pelayan dari dapur dan semua pelayan berlari ke ruang tamu.
Para pelayan berbaris rapi, di tengah semua pelayan. Ada ketua pelayan yang gugup.
Duke Arland berjalan ke kanan dan ke kiri, kedua tangannya dalam posisi menyilang di belakang punggungnya. Matanya menyorot semua pelayan yang berwajah tegang.
"Apa kalian tahu kesalahan kalian?" tanya Duke Arland. Awalnya dia ingin memasuki ruang kerjanya, namun karena merindukan Violeta, langkah kakinya berbelok ke arah ruangan pribadinya. Matanya langsung mengeluarkan api, mana kala dia melihat ruangan pribadinya seperti kebakaran, semua lukisan Violeta ada yang terbakar dan tinggal separuhnya saja. Dan buru-buru, ia langsung meneriaki para pelayan di ruang tamunya.
"Maaf Tuan, kami tidak menjaga ruangan tuan dengan baik."
"Siapa pelayan yang bertanggung jawab mengurus ruangan itu."
Kedua pelayan maju dengan menunduk, kedua saling melirik dalam dan ketakutan. "Maafkan saya Tuan," ucap mereka kompak dan langsung menjatuhkan diri dalam posisi duduk di lantai marmer putih itu.
"Aku akan... "Tenggorokannya tercekat, dia pernah memarahi salah satu pelayan yang tampa sengaja menumpahkan teh ke bajunya, lalu Violeta datang dan mengatakan 'Duke ada apa? Huem jangan marah-marah, mereka tidak sengaja kan' senyuman itu mampu meluluhkan amarahnya.
"Lain kali jangan ulangi," ujarnya kemudian.
Kedua pelayan itu saling menatap Duke Arland tidak memarahinya walaupun tadi sempat membuat mereka menegang. Selama lima tahun ini baru kali ini mereka melihat Duke Arland tidak melanjutkan amarahnya atau menghukumnya yang terbilang sangat tak bisa di maafkan.
"Bubar!"
Kedua pelayan itu sangat berterima kasih, keduanya bisa melanjutkan hidupnya. Padahal mereka sudah menyangka tidak akan merasakan kehidupan lagi. Semua pelayan pun di buat terkejut oleh tindakan sang majikan yang tidak menghukum mereka.
Duke Arland melihat sosok wanita di masa lalunya. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu." Ekor matanya melihat Aronz yang menghampiri keduanya. "Kebetulan Aronz sudah datang, aku akan segera menceraikan mu dan Aronz akan tinggal di sini."
Darah Felica mendidih, bagaikan gunung yang siap meletus saat ini. Dia tidak salah dengar, selain menceraikannya, Aronz akan tinggal di sini, sedangkan dirinya akan menjadi gelandangan. Tidak, hidupnya dari dulu sudah susah mendapatkan Duke dan sekarang dia harus kehilangannya.