My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Bukan Berarti



Violeta meremas jarinya, melihat ke arah gerbang seraya mondar-mandir, perasaan gugup menghantam relung hatinya.Dia takut terjadi sesuatu dengan Duke Arland. Entahlah, hatinya mengkhawatirkan Duke Arland dan tak yang seharusnya ia khawatirkan.


drap


drap


Kereta kuda memasuki gerbang mewah itu, di ikuti Kesatria Lio dan beberapa pengawal. Duke Arland melangkah dengan cepat, kaki jenjangnya terus melangkah sampai di hadapan Violeta.


Tatapan laki-laki itu mengembun dan beberapa detik kemudian, dia merobohkan tubuhnya ke dalam pelukan Violeta.


"Duchess."


"Hemmmpz..."


Violeta mengusap punggungnya, Duke Arland pasti kecewa dengan suaminya. Wanita yang dulunya pernah di cintai, dia sayangi kenyataannya wanita itu telah berubah karena kehadirannya.


"Dimana Aleta?"


"Dia sudah tertidur, aku tidak tega membangunkannya."


Violeta mengurai pelukan hangatnya itu, meskipun dalam keadaan terluka,tapi ia merasakan betapa hangatnya pelukan Duke sama seperti dulu.


"Begitukah? Duke kecewa?"


"Sangat-sangat kecewa." Duke Arland menunduk, ia malu melihat wajah Violeta. Wanita yang ia sakiti masih bersikap lembut dan tulus.


"Masuklah, kita bicara di dalam."


Duke Arland pun menuruti perintahnya, Violeta duduk di hadapan Duke. Sedangkan Duke Arland memilih duduk di lantai dan membaringkan kepalanya di paha Violeta. "Jangan seperti ini," ujar Violeta yang merasa tidak enak. Para pelayan melihatnya dan membuat mereka langsung pubar.


Violeta merangkup kepala Duke Arland dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Dia memeluk Duke Arland yang menangis. "Sudahlah,tidak ada yang terluka."


"Ini salah ku, aku terlalu baik padanya. Dia ingin menyakiti kalian. Dia ingin membuat ku kehilangan kalian. Apa kebaikan ku selama ini tidak ada artinya?"


Duke Arland semakin mengeratkan pelukannya."Aku bersalah, aku bodoh, aku sangat bodoh. Maafkan aku Duchess,"


Duke Arland mengangkat wajahnya, Violeta melihat air matanya terus mengalir. "Ayo kita pulang, aku membutuhkan mu. Kamu tahu, hari-hari ku sangat gelap seakan aku tidak melihat sinar lagi. Kamu boleh melakukan apapun, jangan demi aku, tapi demi Aleta. Dia sangat berharap kita bersama, tapi dia takut mengatakannya. Ayo! kita buat hidup anak-nak kita lengkap. Aku mohon." Duke Arland menggenggam kedua tangan Violeta,


"Aku sudah memikirkannya, aku akan ikut dengan mu, tapi kita tidur berpisah. Selesaikan masalah mu dengan Felica dan bawa Aronz, dia orang yang tersakiti di sini," ujar Violeta. Sejak tadi ia memikirkan Aronz, anak itu pasti kecewa. Semenjak kecil tidak mendapatkan kasih sayang dan setelah beranjak dewasa dia harus menerima kenyataan pahit tentang ibunya.


"Terbuat dari apa hati mu, Violeta? Aronz bukan anak kandung mu, tapi kamu sangat menyayanginya."


Dia benci kenyataan itu, tapi melihat Aronz yang memohon padanya dan tangisannya. Dia tidak tega menyakiti. Tidak ada seorang anak yang berharap hadir ketika orang tuanya tak berniat untuk menghadirkan dirinya.


"Aku kasihan pada hidupnya. Aku menerimanya, bukan berarti aku menerima masa lalu mu. Kita tinggal satu atap, tapi bukan berarti aku akan memulai hidup baru dengan mu."


Sakit dan berat, namun ia lakukan demi kebaikan ketiga anak-anaknya. Ia akan melakukan sesuai kemauan Violeta, tidak menyentuhnya atau menganggapnya orang asing. Asalkan setiap harinya bisa melihat Violeta, Aleta, Alfred dan Aronz. Ia akan menjadi pedang dan benteng untuk mereka.


"Tidak masalah, aku berjanji tidak akan menyentuh mu." Duke Arland berdiri."Maaf tadi aku menyentuh mu, aku tidak akan menyentuh mu tanpa seijin mu. Aku akan bersiap-siap untuk besok," ujar Duke Arland. Dia berusaha menahan tangisnya di setiap langkah kakinya.


"Maafkan aku Duke, aku belum bisa menerima mu. Ini hanya demi anak-anak, bukan demi pernikahan kita."


Tidak jauh dari sana, Alfred melihat dan mendengarkan semuanya. Ia tersenyum sinis pada Duke Arland. Kesakitan itu tak seberapa di bandingkan dengan kesakitan ibunya.


"Dan aku belum menerima mu sebagai ayah ku." Alfred pun memilih pergi, di depan Violeta dia akan memasang wajah menerima, tapi di belakangnya justru sebaliknya.