My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Jangan Menyalahkan



Felica menyandarkan tubuhnya ke sisi pintu itu sembari melipatkan kedua tangannya di dada, ia menyeringai, tidak lama lagi Duke akan menjemputnya.


"Merindukannya... "


Aronz menoleh, dia melihat sang ibu yang menatap seperti ejekan.


"Jangan merindukannya, dia sudah berpaling. Dengar Aronz, hanya ibu yang menyayangi mu dari pada ayah mu. Dia tidak akan menyayangi mu lagi karena dirimu sudah di gantikan oleh Aleta dan Alfred."


Aronz yang mulai jengah, setiap saat ibunya memanasinya telinganya. "Apa ibu ingin aku membenci ayah dan Duchess? Bu, sudah cukup! apa Ibu tidak lelah? aku saja lelah dan bosan melihat ibu yang tidak berubah."


"Apa begini rasa terima kasih mu pada ku, Aronz?" Felica melangkahkan kakinya ke arah Aronz. "Ingat, kamu hanya memiliki diriku, tidak ada yang peduli lagi dengan mu."


"Dan aku tidak peduli dengan Ibu,"


Ingin sekali Felica menggempar Aronz, namun ia harus ingat tujuannya. Semuanya harus berjalan mulus tanpa ada duri. "Sudahlah, aku akan ke kota."


"Untuk apa?" tanya Aronz mulai curiga. Butuh empat jam dari kediaman barunya ke Kota.


"Ada beberapa hal yang perlu ibu beli." Sahutnya santai.


"Jangan macam-macam, Bu."


"Aku tidak akan macam-macam, sudahlah jangan mencurigai ku. Aku tidak akan lagi mengganggu mereka."


"Jangan mengganggu Ayah, Bu. Mereka berpisah karena ibu."


"Jangan menyalahkan ku, kamu juga ikut andil dalam perpisahan mereka. Seandainya tidak ada kamu, aku tidak akan mengganggu kehidupan Duke, o iya, mungkin satu hari ke depan aku akan menginap di Kota," ujar Felica melangkah ke luar. Dia harus bertemu dengan para pembunuh bayaran itu.


Aronz memejamkan matanya, kenapa rasanya sangat sakit. Ibunya tidak memperdulikannya. Dia memang lahir tanpa cinta, tapi bolehkah dia berharap kasih sayang walaupun keduanya telah berpisah.


"Ayah..." Aronz memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak.


Di tempat lain.


Kaisar Fictor telah turun dari kudanya, memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, hanya bagian depan yang tak terlihat. Ia mengedarkan pandangannya ke halaman itu. Harumnya bunga mawar membuat semangatnya membara seperti lambang warna merahnya.


"Ayo!" Kaisar Fictor berjalan di ikuti Kesatria Gio.


Samar-samar keduanya mendengarkan kekehan dari seseorang yang mereka kenal.


"Itu Aleta," Secepat kilat Kaisar Fictor mencari asal suara itu, dan benar saja, dia melihat Aleta yang sedang mencium bunga mawar dari batangnya. "Oh dia sangat manis,"


Kesatria Gio mematung, anggap saja angin lewat yang tidak jelas. Kesatria Gio membuang muka, melihat sekelilingnya yang terasa nyaman dan asri.


"Aleta." Sapa Kaisar Fictor.


Para pelayan pun kalang kabut, mereka langsung memberikan hormat. Sedangkan Aleta malah melongo, terkejut dan jantungnya hampir copot.


"Paman ngapain di sini,"


Kaisar Fictor berdiri, ia memilih duduk di kursi putih di dekatnya. Duduk santai dan memandang Aleta kecil.


"Baginda, untuk apa Baginda datang kesini?"


"Memangnya aku tidak boleh datang kesini," sungut Kaisar Fictor menatap tajam.


Seketika Aleta merinding,ia duduk di samping Kaisar Fictor yang melipat kedua kakinya. "Maaf Baginda, bukan begitu, tapi saya tidak enak."


"Oh, ya sudah saya pergi. Saya gak jadi datang kesini."


"Baginda." Aleta memegangi lengan Kaisar Fictor. "Maaf, baik. Baginda kesini mau apa? apa ada sesuatu?"


"Tidak ada, aku berniat tadi ingin kamu mengajak jalan-jalan," ujarnya di buat-buat.


"Emm, baiklah. Kita jalan-jalan, Baginda. Bagaimana? tapi ijin dulu dengan ibu,"


Seketika taburan kelopak bunga mawar terasa menerpa tubuhnya, wajahnya bagaikan bunga yang baru mekar. Ingin sekali dia berteriak dan mengatakan 'aku berhasil'.


"Oh, Baginda. Saya sebagai bawahan Baginda, turut senang." Kesatria Gio melongos pergi. Mana mungkin dia akan melihat dan mendengarkan kegilaan Kaisar Fictor lebih lama lagi.


"Semakin bertambahnya usia, Baginda semakin menjadi-jadi, jika suatu saat nanti aku punya anak, aku akan menjauhi anak- anak ku dari laki-laki yang sudah berumur tua." Gumamnya dengan nada kesal.


"Kesatria Gio!"


Laki-laki itu menoleh, lalu memberikan hormat.


"Anda.. "


"Maaf Nyonya, kami datang dengan Baginda."


Violeta merengut, matanya melihat kanan kiri ke samping Kesatria Gio, mencari keberadaan Kaisar Fictor.


"Baginda sedang menemani nona Aleta, Nyonya, karena tadi mendengarkan suara nona Aleta. Maaf tidak menyambut Nyonya."


Walaupun merasa aneh dan tidak suka, Violeta berusaha tetap tenang. Tidak mungkin dia mengusir Kesatria Gio dan Kaisar Fictor. "Tidak masalah, mungkin Baginda sangat menyukai Aleta."


"Nona Aleta sudah di anggap sebagai putri Baginda sendiri, Nyonya. Nona Aleta sangat menggemaskan dan lucu, sehingga menarik perhatian Baginda."


Biarkan saja, sudah masuk ke dalam jurang, sekalian terjun ke dalam jurang.


"Baiklah, aku akan menemui mereka. Aku sangat senang karena Baginda begitu menginginkan seorang anak seperti Aleta." Hatinya yang resah tanpa tahu penyebabnya, kini merasa lega hanya karena ucapan Kesatria Gio.