My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kaisar Fictor



Kesatria Gio memenuhi tugasnya, dia mencari seluruh pelosok kota, hingga kedua matanya melihat duo orang pria yang sedang duduk berdua sambil meminum wine.


"Enak bener hidupnya, aku mencari san-sini, kerjaan ku bertambah gara-gara mereka." Kesatria Gio semakin mengumpat. Dia saja sudah sibuk melihat kelakuan Kaisar Fictor yang sibuk berpuisi tanpa ada yang jelas.


"Uh, aku ingin sekali memotong lehernya, sekarang aku bisa melampiaskan kekesalan ku," ujarnya.


"Kalian seret mereka."


Ke empat pengawal itu langsung menarik kedua orang yang sedang duduk santai itu.


"Hey, lepaskan!" Teriak salah satu di antara mereka memberontak.


Ke empat pengawal itu menyeret kedua orang iti secara paksa mengikuti Kesatria Gio.Sesampianya di gang sempit, kedua orang itu menatap Kesatria Gio secara saksama. Keduanya saling menatap, dari pakaiannya saja mereka tahu, Kesatria Gio seorang Kesatria istana. Maka dari itu, semua orang hanya melihat mereka tanpa ada yang berniat membantu.


Kesatria Gio menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. "Apa kalian tahu siapa aku?"


Kedua orang itu menunduk, berpura-pura takut. "Melihat pakaiannya kami tahu, Anda seorang Kesatria," ujarnya.


"Baguslah kalau tahu, aku kira kalian bodoh."


Tangannya mengepal kuat dan siap melayang ke pipinya. Namun ia tidak melakukannya, ia malah menarik pedangnya yang bertengger di pinggang kanannya, ujung pedang itu pun menunjuk ke leher salah satu dari mereka."Katakan, siapa yang menyuruh kalian?"


"Apa maksud tuan? kami tidak mengerti."


Kesatria Gio semakin mendorong ujung pedangnya dan darah segar pun keluar. "Aku tahu siapa kalian? siapa yang menyuruh kalian membuntuti Duke Arland?" tebaknya dan benar saja kedua orang itu semakin gugup.


"Ck, aku tahu kalian ingin mencelakai nyonya Violeta." Kesatria Gio mengembalikkan pedangnya ke dalam sarungnya. "Bawa mereka, biar Baginda yang mengurusnya," ujar Kesatria Gio. Dia tidak mungkin mendahului Kaisar Fictor. Bisa-bisa dirinyalah yang akan menjadi santapan kemarahannya karena lebih dulu menggores kulit mereka.


Keduanya pun di ikat dan di seret oleh kedua ekor kuda dan di jaga oleh kedua pengawal.


"Sial, kenapa kita bisa di tangkap?"


"Sepertinya keluarga Violeta bukan orang biasa, mereka di lindungi oleh Kekaisaran, tapi mengapa? Apa karena Duke?"


"Sepertinya begitu,"


"Cepat!" sang pengawal di belakangnya mendorong mereka agar mempercepat langkahnya.


"Baginda, mereka sudah sampai."


Kaisar Fictor melangkah dengan tegas, ia tidak sabar mencabik-cabik musuhnya itu.


Tap


Tap


Tap


Kaisar Fictor menatap kedua orang yang di ikat terlentang kedua tangannya dengan rantai. Kaisar Fictor mendekat, "Siapa yang menyuruh kalian?"


"Maaf Baginda, kami tidak mengerti," lirihnya.


"Cambuk mereka."


Suara centaran cambuk itu menggelagar, Kesatria Gio mengambil alih cambuk di tangan salah satu sang pengawal. Dia menggunakan kekuatan tangannya, ringisan dan teriakan meminta ampun keluar dari mulut mereka.


"Ck, hanya segitu saja kekuatan kalian. Katakan! jika tidak... "


Kedua pembunuh bayaran itu mengangkat wajahnya, keduanya menunduk dengan keringat membasahi tubuh mereka. Rasa panas dan perih sangat terasa di kulit di kulit mereka.


"Siram tubuh mereka dengan air panas." Perintahnya dengan kejam.


Keduanya melotot, "Tunggu Baginda, kami akan mengatakannya, asalkan Baginda membebaskan kami."


"Baiklah, dengan senang hati," ujar Kaisar Fictor dengan santai."Kenapa masih diam? cepat katakan!"


"Ka-kami di suruh oleh nyonya Felica."


"Huh, berani sekali wanita itu menyentuh Aleta ku dan beraninya dia melukai keluarga ku sekaligus orang yang aku cintai."


Baiklah, Baginda akan memutar lagunya dan telinga ku sudah penuh.


"Baginda, apa sebaiknya kita meneruskan hukuman mereka?" tanya Kesatria Gio. Setidaknya telinganya akan di selamatkan.