
Viola menyandarkan tubuhnya di belakang pintu, dia mendengarkan rintihan demi rintihan Duke Arland.
"Vio, dengarkan aku. Waktu aku mengetahui kamu pergi. Aku seperti orang gila mencari mu, aku sangat yakin kamu masih hidup dan keyakinan ku membuah kan hasil."
"Vio, tolong... aku mohon."
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki kecilnya semakin tergesa-gesa, tubuhnya terasa terbakar. Setiap langkahnya, terasa panas. Pelayan yang berpapasan dengannya menunduk dengan wajah pucat pasi.
Tangan kecil itu menarik lengan Duke Arland, tubuh Duke Arland hampir terhuyung, jika dia tidak sadar secepat mungkin.
"Jauhi ibu ku, jauhi dia!" tekan Alfred. Kilatan kebencian di matanya semakin dalam. Dia benci pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
"Dengarkan aku, jauhi dia. Dia.... "
Bruk
Duke Arland terduduk di lantai, matanya yang memerah menatap mata Alfred yang memerah karena kebenciannya. "Aku salah,hukum aku... tapi tolong jangan membenci ku, aku ayah mu Alfred."
Alfred memundurkan langkahnya, "Saat aku menangis dan menyebut nama mu, apa kau ada? Saat ibu menangis karena lelah, apa kau ada? Saat adik ku menangis meminta bertemu dengan mu, apa kau ada? Saat aku sakit dan Aleta sakit, apa Yang Mulia Duke ada?" Teriak Alfred, dadanya naik turun, suaranya terasa memekik di telinga semua orang.
"Anda tahu Yang Mulia, jika pun Anda berbuat baik tidak akan menggantikan semua ini. Semua rasa sakit ibu, Anda malah senang dengan istri muda anda, oh maaf, maksudnya Duchess. Dan dia," Alfred menunjuk pada Aronz yang baru datang. "Dia menikmati kasih sayang anda, tapi aku tidak! Dia bahagia saya menderita, maka sudah cukup. Aku bukan anak kecil yang tidak paham saat anda .... "
Tenggorokannya tercekat, ia tidak bisa meneruskan sebuah kalimat yang menghantam hati mereka.
"Al-Alfred..."
Alfred tak menoleh, kedua tangannya mengepal.
Aronz ingin meraih tangan Alfred yang bergetar, namun tanpa ia sadari Alfred memutar tubuhnya ke samping, menghadapnya. Tangan yang sejak tadi mengepal erat siap untuk membogem pipinya, namun tangan itu berhenti dan tetap melayang di udara.
Alfred menurunkan tangannya, memutar tubuhnya, kemudian melangkah lunglai. Tubuhnya seakan melayang di udara, darahnya terasa berhenti, hatinya begitu sakit.
Kesatria Lio, dia menghapus keringat di dahinya. Perlakuan Alfred tadi sangat membuatnya shock. Alfred lebih bringas dari Duke Arland, bahkan melebihinya. Dia yakin, saat dewasa nanti,Alfred akan tumbuh menjadi sosok yang tak terkalahkan.
Duke Arland tetap bersimpuh, dia juga shock melihat aura hitam di tubuh putranya. Seandainya dia bertarung, mungkin dia akan kalah telak pada putranya itu.
Aronz berjalan menunduk, kedua matanya mulai mengeluarkan air bening yang sudah tertahan mulai tadi. Sakit! rasa sakitnya melebihi saat ibunya menghinanya, saat ibunya memukulnya. Dia tidak meminta untuk di lahirkan, seandainya waktu bisa di putar kembali, dia tidak ingin berada di rahim ibunya, jika membuat hubungan orang kandas.
Sedangkan Alfred, dia melirik Aleta yang menunduk, sejujurnya ia kecewa, tapi mau bagaimana lagi? yang di kecewakan adalah adiknya sendiri.
"Kak!"
Alfred menghiraukannya, dia memilih menaiki ranjangnya dan tidur.
Aleta menarik nafasnya, dia mengikuti langkah Aronz yang menuju ranjang yang berbeda."Maafkan Aleta kak, Aleta tidak bermaksud begitu, Aleta menolongnya karena iba."
"Ibalah pada mereka, tapi jangan lupakan perlakuan mereka. Ingatlah setiap tetesan air mata ibu, ingatlah saat kita bertanya pada ibu, namun ibu menjawab dengan tangisan."
Aleta menggigit bibir bawahnya, kedua pipinya pun telah basah. Dia berangsur membaringkan tubuhnya membelakangi Alfred. Dia bersalah, tapi dia hanya mengikuti kata hatinya, seandainya ada seseorang yang sekarat di depan mata kita, tapi orang itu, orang yang paling di benci oleh kita.
Hening
Keheningan terus berlanjut, hingga malam tiba. Pelayan Mia meluncurkan semua makan malam di bawa ke kamar masing-masing karena malam ini semua pemghuni rumah mengurung diri di kamarnya.
tok
tok
tok
"Masuk!" Suara berat dan dingin yang menjadi khas sifatnya.
"Ini makan malamnya Tuan," ujar pelayan Mia. sebenarnya tadi dia sudah menawarkan pada semua orang yang sedang kalut itu, namun mereka malah menjawab akan memakan di kamar masing-masing.
"Apa Violeta sudah keluar?"
"Sebaiknya Yang Mulia Duke menjauh dari Nyonya." Seru pelayan Mia yang tak mengalihkan pembicaraannya. Percuma saja dia menjawab, tidak akan ada yang berubah dan kenyataannya, majikannya mengurung diri. Seandainya jika tidak menjaga etika, sudah dia usir dari tadi.
"Aku ingin kembali, aku ingin memulainya.."
"Kembali, heh.. Duchess sudah memiliki hati yang lain, tuan muda Alfred juga tidak mau. Sudahlah,saya harap Yang Mulia Duke tidak memaksa Nyonya, sudah ada Nyonya Felica."
Duke Arland ingin menjawab, namun bayangan tubuh pelayan Mia telah hilang di balik pintu itu.