
Violet berdiri di depan jendela seraya mendengarkan penjelasan Duke Arland.
Duke Arland meneguk air liurnya, hatinya sudah pasrah entah apa yang akan terjadi selanjutnya kecuali hanya satu kata. Ia tidak bisa, bajkan tidak sanggup."Vio... Aku minta maaf atas semuanya. Jujur, aku tidak berniat... "
"Aku bisa memaafkan Duke, tapi tidak bisa menghilangkan lukanya."
Duke Arland menerima perkataan Violeta, semuanya memanglah kesalahannya."Duchess ingat, seminggu kita baik-baik saja dan berjanji akan bersama, tapi kenapa semuanya harus sirna bertahun-tahun. Malam itu, benar aku menemui Felica, tapi sebagai pertanda pengakhiran hubungan kita. Felica selalu mengirimkan surat, aku tidak membalasnya, hingga surat terakhir dia ingin bertemu dengan ku. Aku minta maaf, aku menemuinya untuk yang terakhir kalinya. aku menemuinya hanya sebatas menemuinya dan tidak ada maksud apapun dan aku tidak tahu kenapa malam itu bisa terjadi, aku hanya meminum Wine dan setelah itu aku hanya melihat mu, kemudian ke esokan harinya aku bersamanya. Percayalah pada ku, aku di jebak."
"Dan malam itu membuahkan hasil bukan, Aronz. Aku tahu, aku tahu semuanya. Felica memberikan surat pada ku, awalnya aku tidak mempercayainya, tapi melihat dengan mata kepala ku sendiri baru aku mempercayainya."
"Aku melakukannya hanya sebatas bertanggung jawab, tidak lebih. Karena akulah yang menodainya untuk pertama kalinya, aku minta maaf Duchess," ujar Duke Arland seraya mengeluarkan air matanya. Dialah penyebab luka itu, dia lah penyebabnya.
"Felica selalu mengancam ku memberitahu mu, aku takut. Aku memang memindahkan mu ke rumah yang baru, rumah yang aku rancang sendiri khusus untuk mu. Aku memang berniat memberikannya pada mu dan pindah ke ibu kota. Kamu selalu mengatakan, suka berjalan-jalan di kota kan. Aku memindahkan mu, bukan karena Felica. Aku takut, Felica akan memberitahu mu, aku sangat takut kamu pergi. Maka aku memutuskan menjauhkan mu dari Felica, bahkan Felica pun tidak tahu rumah itu."
"Percayalah pada ku dan aku tanya kejadian yang sebenarnya selama di perjalanan mu."
"Ada orang yang menginginkan aku mati, dua orang yang mengawal ku berkhianat, akhirnya aku lolos dan aku tidak tahu keberadaan mereka sekarang."
"Kita pulang yaa.. Kamu suka rumah itu, aku akan memindahkan Felica."
"Tidak!" tegas Duke Arland. "Hubungan kita bukan masa lalu, tapi masa depan. Aku sudah memutuskan memilih mu dan masa depan ku adalah kamu Violeta."
"Aku tidak bisa,. aku sudah bahagia di sini, ceraikan aku."
"Mati pun aku tidak akan pernah menceraikan mu, kamu ingin di sini kan, aku akan memberikan mu waktu, tapi setiap akhir pekan aku akan datang kesini. Entah kamu, Aleta dan Alfred menyukainya atau tidak, yang jelas aku memiliki hak untuk kalian. Besok aku akan kembali, tapu ingat satu hal, aku tidak mencintai Felica tapi aku hanya mencintai mu."
Duke Arland melenggang pergi sampai di pertengahan tangga, dia bertemu dengan Aleta. Keduanya saling menatap dan diam, Duke Arland berjongkok, dia langsung memeluk Aleta dan menangis di pelukan anak itu. Anak yang tidak pernah dia manja dan ia gendong, anaknya tumbuh dengan baik. Ia bersyukur, Violeta mau merawat mereka, meskipun hasil dari tubuhnya.
Laki-laki yang dia benci mengalir di tubuh Aleta dan Alfred. "Maaf, maafkan ayah, putri ku. Maafkan ayah, maafkan ayah." Duke Arland menghapus air matanya, kemudian mengurai pelukannya. Ia tersenyum, tangannya menyentuh pipi Aleta. Semua wajahnya mirip dengan Violeta, ia tidak kebagian apapun. "Ayah menyayangi mu dan mencintai mu. Ketahuilah, Ayah tidak menginginkan semua yang terjadi pada ayah."
Aleta hanya mengangguk dan langsung berlari ke kamarnya. Sejujurnya, pelukan hangat itu yang paling ia inginkan dan ia rindukan."Aku ingin sekali di peluk Duke, tapi aku tidak bisa.. Ibu ku akan sedih. Tuhan, aku jujur, aku ingin mereka bersatu, semua anak menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh. Seandainya bisa di perbaiki, lebih baik di perbaiki daripada harus usai."
"Aleta!"
Buru-buru gadis cantik itu menghapus air matanya."Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang bisa melukai ibu, jika ingin kamu bersamanya, ikutlah. Kali ini aku tidak melarang mu, tapi ingat satu hal, jauhi ibu ku." Tegas Alfred, ia langsung menutup pintu kamar itu dengan keras.