My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Seperti sebuah keluarga



Keesokan harinya.


Violeta membuka kedua matanya,di lihatnya sekeliling kamar itu. menarik nafasnya, kemudian beringsut duduk dan mengusap wajahnya.


Di lihatnya ke arah sofa, Duke Arland tertidur pulas,berbantal kepala sofa dan tangan kanan menutupi kedua matanya, sedangkan tangan kirinya terjatuh, jari-jarinya menyentuh lantai.


Violeta menginjakkan kakinya ke lantai marmer itu, dia menuju lemari Alfred untuk mencari sebuah selimut.


"Ah, ini." Violeta mengambil selimut itu, merangkulnya dan berjalan ke arah Duke. Ia pun menutupi tubuh Duk Arland dengan selimut tebal itu. Saat tubuhnya berbalik, matanya menangkap tangan Duke Arland yang masih dalam posisi semula. Ia pun kembali, menyibak selimut itu,dengan hati-hati ia menaruh tangan Duke Arland di atas perutnya. Kemudian di lanjutkan dengan menutupi kembali tubuhnya dengan selimut berwarna putih itu.


Violeta memandang wajah Duke Arland, kemudian tersenyum. Bagaimana pun juga, laki-laki itulah yang mengajarinya tentang cinta dan luka.


"Vio.. "


"Bahkan saat tidur pun, kau masih bisa menggumamkan nama ku."


Tanpa ia sadari, Aronz mengintip di balik pintu, ia yakin seluka apapun Duchess,wanita itu masih memiliki sebuah kebaikan. "Aku berharap kalian bersatu, seperti dulu.."


Violeta berdiri, ia menghampiri Alfred yang masih terpenjam."Tidak ayah, tidak anak, wajah kalian sangat mirip, bahkan tidur kalian pun juga mirip," ujar Violeta merasa dongkol, Alfred juga melakukan hal yang sama, menutupi matanya dengan salah satu tangannya. Sebuah ciri khas yang tidak bisa hilang dari keduanya.


Aronz terkekeh kecil,ia mendorong pintu itu dan berpura-pura terkejut. "Ayah!" pekik Aronz.


Seketika Violeta terkejut, ia langsung menghampiri Aronz dalam posisi berjongkok dan menutup mulutnya. "Ada apa? jangan berteriak mereka masih tidur," ucap Violeta setengah berbisik dan menurunkan tangannya yang membekap mulut Aronz.


"Oh, maaf.," Aronz menunduk menyesal, dia meremas baju tidurnya berwarna putih itu.


"Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan Aronz?"


"Tidak! aku mencari ayah karena tidak ada di kamarnya."


Violeta paham,"Ayah mu tadi malam menjaga Alfred, ya sudah kita bicaranya di luar agar tidak mengganggu mereka."


Aronz menurut, dia menoleh pada sang ayah dan tersenyum.


"Tidak mau, dingin sekali," ujar Aronz. Ia memang malas mandi jika musim salju, tubuhnya terasa seperti batu es.


"Hah, ayo aku akan memandikan mu. Aku menyiapkan air hangat untuk mu."


"Tidak mau," keluh Aronz. Sebenarnya ia tidak malas, hanya sebuah alasan agar bersama dengan Violeta. Mengenalnya lebih dalam.


"Hey, jadi laki-laki tidak boleh lemah dan tidak boleh takut apa pun,"


"Sama dengan ayah kan,"


Violeta menghentikan langkahnya, sekilas dia menoleh pada Aronz, ia pun menggeleng, Aronz tidak akan mengerti tentang masalahnya, lalu melanjutkan langkahnya kembali.


"Aku tahu, ayah ku tidak lemah dan tidak takut apapun selama untuk memperjuangkan Duchess."


Sampai di ujung anak tangga di lantai bawah, Violeta memutar tubuhnya, memegang kedua bahu Aronz, perlahan tubuhnya memposisikan berjongkok."Saat dewasa kamu akan mengerti, Nak." Violeta mengusap pucuk kepalanya, lalu beranjak melangkah.


Satu langkah dia hentikan, ketika sebuah tangan kecil melingkar di kedua lututnya."Bolehkah aku memanggil mu, ibu. Aku menginginkannya."


Violeta tak tega, ia ingat betapa keras dan kasarnya ucapan serta perbuatannya pada Aronz. Namun anak itu bukannya membenci, justru merasa bersalah."Iya, terserah Aronz saja."


Di lantai atas.


Duke Arland menjauhkan tangannya, matanya samar-samar melihat selimut putih, ia pun menyingkapi selimut itu. Duke Arland memutar otaknya, tadi malam dia hanya tidur dan tidak membawa selimut dan itu artinya..


Duke Arland melihat ke arah ranjang, kedua sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman. Selimut yang ia gunakan berarti Violeta yang memberikannya.


Duke Arland langsung bergegas turun, mencari sosok wanita yang ingin ia lihat setiap paginya."Dimana Duchess?" tanya Duke Arland berpapasan dua orang pelayan.


Pelayan itu saling pandang, entah apa yang di pikirkan mereka. Sedetik kemudian mereka menjawab. "Nyonya sedang ada di dapur Tuan."


Duke Arland berjalan ke arah dapur, semenit itu ia tertegun. Sungguh pemandangan langkah, matanya langsung berair. Violeta begitu lembut memberikan roti yang belum di lapisi oleh Aronz dan anak itu dengan senang hati menyambutnya. Rasanya seperti sebuah keluarga bahagia, dimana ada dirinya, Aleta, Alfred, Aronz dan juga istrinya.