My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kaisar Fictor 2



My Ex Mr Duke. Eps 52


"Panggil Duke Arland, dia harus tahu," ujar Kaisar Fictor.


Syukurlah batin Kesatria Gio bernafas lega.


Dia lebih memilih menghindari daripada bertahan, seandainya itu cinta, mungkin ia memilih bertahan dari pada menghindari, masalahnya bukan cinta, tapi sesuatu yang akan meledakkan telinganya.


Sedangkan Kaisar Fictor, dia melanjutkan acara umpetannya, sampai kedua pengawal itu melihat Kaisar Fictor bukan laki-laki, tapi perempuan. Celotehnya seperti seorang wanita yang tengah memarahi para pelayan.


"Apa lihat-lihat?" Kaisar Fictor menarik pedang di pinggang pengawal yang berdiri tak jauh di sampingnya. Ujung pedang itu, ia condongkan ke salah satu mata tawanannya. "Aku ingin sekali mencongkel mata mu itu," ujar Kaisar Fictor.


"Ma-maaf Baginda, ka-kami tidak bermaksud seperti itu. Ka-kami … "


Kedua matanya meminta bantuan temannya di sampingnya itu.


"Kami salut dengan cinta Baginda." Entah perkataan dari mana, yang jelas mulutnya tak bisa di filter. Dia melihat Kaisar Fictor seperti orang yang jatuh cinta. Sedangkan temannya yang di condongkan pedang itu malah melongo, salah bicara saja matanya yang akan menjadi taruhannya.


Kaisar Fictor menurunkan pedangnya. "Dari mana kamu tahu kalau aku jatuh cinta?"


Tubuhnya lemas seketika, perkataan yang keluar dari mulutnya ternyata benar. "Be-begini Baginda. Kami melihat Baginda sedang bahagia. Jadi.. "


"Jadi kami ikut senang Baginda." Sanggah temannya dengan tersenyum.


Setidaknya Kaisar bodoh ini bisa melepaskan aku


Apa mereka tahu cara meluluhkan hati perempuan? Aku bisa memanfaatkan mereka, setidaknya aku bisa menambah beberapa ilmu.


Tanpa mereka sadari, keduanya saling memanfaatkan. Kedua pembunuh bayaran itu memanfaatkan kebodohan cinta yang sedang bersemi sedangkan sang Kaisar memanfaatkan karena kehausan ilmu cinta. Jika dulu dia memiliki banyak istri tanpa harus repot merayu dan mereka datang dengan sendirinya, dia hanya tinggal diam dan tidak perlu melakukan apapun. Dengan kekuasaanya, dia bisa memilikinya, namun kali ini berbeda, ia merasa Aleta tidak akan melihat kekuasannya apa lagi di lihat dari cerminan Violeta. Jika Violeta haus akan kekuasaan, wanita itu tidak perlu repot-repot menghilang dari kehidupan Duke Arland. Karena secara tidak langsung, Violeta sudah memiliki penyokong yang kuat yaitu anak-anaknya.


"Apa Baginda membutuhkan sesuatu? Misalkan cara merayu,"


"Merayu, bagaimana caranya?" Tanya Kaisar Fictor dengan serius.


Dengan senyum liciknya, keduanya bisa memanfaatkan kesempatan ini.


"Baginda harus tahu semua kesukananya, warna kesukananya, makanan, minumannya dan lain-lainnya."


"Betul Baginda, Baginda harus menyukai apa yang dia sukai dan apa tidak dia sukai."


"Kalau begitu aku sudah tahu," ujar Kaisar Fictor dengan sombongnya. Tanpa dia sadari, otaknya masih memerlukan otak Kesatria Gio.


"Apa Baginda sudah melamarnya?"


"Bagaimana aku bisa melamarnya? dia tidak akan menerima ku," ujar Kaisar Fictor sambil memikirkan Aleta yang masih kecil. Bagaimana bisa dia melamar anak kecil?


Kaisar Fictor duduk di kursinya, seraya memikirkan tentang lamaran.


"Apa Baginda sudah mengenalnya? Maksudnya mengenal luar dan dalam."


"Maksud mu?"


"Menghabiskan waktu bersama, seperti malam bersama begitu."


Kaisar Fictor berdiri, matanya seperti panah berapi yang siap membakar kedua otak mereka. Bisa-bisanya mereka menyuruh dirinya menghabiskan malam bersama dengan seorang anak kecil.


Kaisar Fictor melangkah, tepat di hadapan mereka. Kaki melayang pada tulang kering mereka secara berurutan.


"****! Sakit Baginda." Adu mereka yang meringis.


"Bisa-bisanya kalian menyuruh ku menodainya, apa kalian pikir wanita ku perempuan murahan bagitu?"


"Bu-bukan begitu Baginda, kami hanya memberikan solusi."


"Solusi kalian tidak bermutu!" Pekik Kaisar Fictor.


"Ekhem, Begini Baginda, seorang laki-laki mencintai seorang wanita dia harus membuktikannya Baginda, ya setidaknya itulah cara bermutu meluluhkan hati.."


"Apa kalian sudah tidak sabar ingin aku bunuh!"


Kedua tawanan itu menelan ludahnya susah payah, padahal keduanya sudah memberikan ide super jitu. Seorang wanita akan luluh dengan cinta satu malam dan tidak akan mau melepaskan si laki-laki.


"Begini saja Baginda, kami akan memberikan ide yang lainnya." Tawar mereka.


"Aku tidak butuh dan bersiaplah kalian akan mendapatkan kemarahan dari calon ayah mertua ku."


"Tunggu Baginda, biarkan kami pergi! lepaskan kami Baginda, kami sudah jujur dan memberikan ide."


Kaisar Fictor berlalu pergi, ingin sekali ia membelah mereka menjadi dua bagian, namun ia memikirkan Duke Arland yang akan memberikan hukuman pada mereka.


"Apa jadinya jika aku bermalam dengan anak kecil? apa watak mereka sudah tidak waras? untunglah aku waras dan aku langsung menolaknya."