My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Mengabaikan



tok


tok


tok


"Vio, bukan maksud ku berbicara kasar. Aku minta maaf, tolong jangan salah paham." Duke Arland terus mengetuk pintu kokoh itu, kadang memutar handle berwarna ke emasan itu. "Vio, dengarkan aku dulu. Aku minta maaf. Tolong maafkan aku...."


Duke Arland membalikkan tubuhnya, dia menyandarkan punggungnya. "Aku tahu, aku minta maaf."Lirihnya.


Tubuh Duke Arland perlahan merosot ke bawah, ia akan duduk di depan pintu sampai Violeta membukakan pintunya. Rasanya baru kemarin ia berbaikan sekarang harus berjauhan lagi.


Hah


Duke Arland menyandarkan kepalanya, satu kakinya lurus, sedangkan kaki lainnya di tekuk. Perlahan mata terpenjam dan tidur di depan pintu.


"Tuan." Panggil ketua pelayan. Beberapa menit yang lalu ada seorang pelayan yang mengatakan semuanya. "Bangunlah, tidak baik tidur di sini."


Duke Arland mengucek kedua matanya. "Pergilah, jangan mengganggu ku."


Ketua pelayan membungkuk hormat, mana berani ia meminta lagi, yang ada malah kepalanya bisa di penggal.


"Jangan mengganggu Tuan!" perintahnya pada tiga pelayan di belakangnya.


Violeta memutar tubuhnya ke samping, samar-samar ia mendengarkan suara Duke Arland dan ketua pelayan. "Apa Duke masih ada di sini?"


Violeta turun, dia berjalan berjinjit dan perlahan menempelkan telinganya ke pintu.


"Violeta."


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membentak. Tolong mengertilah posisi Aronz, dia tidak bersalah. Akulah yang bersalah, cukup aku yang di benci. Jangan Aronz, dia sudah cukup menderita karena ibunya." Duke Arland menempelkan pipi kanannya ke pintu. Ia tersenyum, telinganya yang tajam bisa menangkap suara kaki dari dalam. Artinya Violeta mendekati pintu itu, ia yakin, Violeta ingin mengecek keberadaannya.


Violeta melangkah mundur, ia berlari dan langsung menaiki ranjangnya, menyelimuti semua tubuhnya dan meringkuk.


"Dia masih ada di luar."


Violeta menyingkap selimutnya sampai ke dada, membenarkan posisi tubuhnya. Menatap langit-langit kamarnya itu. "Biarkan saja, terserah dia mau tidur di sana. Aku ngantuk!"


Violeta memejamkan matanya, ia sudah peduli dengan Duke Arland. Entah mau jadi apa orang itu.


Seorang gadis kecil melangkah dengan senyuman mengembang di wajahnya. Gadis itu memasuki satu kamar dan kamar itu, kamar Alfred, kakak tercintanya.


"Kakak," gadis kecil itu mengguncang bahu sang kakak.


Emm


Alfred memutar tubuhnya, memunggungi Aleta. Ia masih mengantuk dan tak ingin di ganggu.


"Ih, kakak. Ayo bangun. Aku ingin jalan-jalan."


"Aleta, aku masih ngantuk."


Aleta bersendekap dengan wajah cemberut. "Baiklah, aku mengajak ibu. Kakak tidak boleh ikut!"


Aleta melangkah ke luar, namun senyumannya langsung pudar melihat seseorang di depan pintu kamar ibunya.


Aleta melangkah lebar, dia meneliti wajah yang tidur dengan menyandarkan kepalanya ke pintu. "Ayah!"


Aleta menepuk lengan Duke Arland. "Ayah, ayah bangun! kenapa tidur di sini?" tanya Aleta.


Duke Arland membuka matanya, kemudian menguceknya, hingga penglihatannya jelas.


"Aleta." Duke Arland bangkit, dia menggeleng pelan. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing.


"Ayah kenapa tidur di sini?"


Duke Arland menggaruk tengkuknya, ia mencari jawaban yang pas untuk putrinya. Tidak mungkin, ia mengatakan Violeta sedang marah padanya. "Ayah ketiduran sayang."


Aleta mengerutkan dahinya, ia tidak begitu percaya pada perkataan sang ayah.


"Ya, sudah. Ayah kembali ke kamar dulu," ujar Duke Arland.


Aleta memilih diam, antara percaya dan tidak percaya. Ia tidak ambil pusing, yang jelas hari ini ia ingin jalan-jalan dan memilih fokus pada pertemuannya dengan sang ibu.


Setelah berdiskusi, Aleta dan Violeta sarapan bersama. Keduanya sepakat akan keluar, menghabiskan waktu bersama dan Sarapan kali ini berjalan hening, semua orang fokus pada rotinya, tidak ada yang mengeluarkan suaranya, tetapi beda dengan Duke Arland terlihat tidak semangat. Dia sering kali melirik Violeta.