My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Pertengkaran Felica dan Duke Arland



"Aku tidak mau, aku tidak setuju." Ketusnya. Matanya lurus ke arah Aronz, seolah ingin mengulitinya. Dia sudah susah payah mengandung dan melahirkan dan sekarang anaknya lah yang di inginkan bukan dirinya. "Lagi pula, buat apa aku pergi. Violeta sudah meninggal."


Duke Arland tak terima, seandainya tidak ada anak kecil di sampingnya. Sudah sejak tadi tangannya melayang ke pipinya. "Bagitukah?" Matanya memicing, menahan gejolak panas di tubuhnya. "Nyatanya, istri ku. Duchess Violeta masih hidup."


Santapan petir menggelagar di ruangan itu, kedua kakinya seakan tak bisa menopang tubuhnya, namun ia sebisa mungkin menopang tubuhnya sekaligus hidupnya. "Tidak mungkin! dia sudah meninggal. Duke tahu sendiri, kereta itu hampir jatuh ke sungai."


"Alibi!"


Semuanya hanya alibi dari kedua pengawal bayaran yang berkhianat pada Duke, yang tidak bisa membunuh Duchess demi bayarannya. Ia sangat yakin, dia sangat yakin. Bahkan saat ini para pembunuh bayaran belum menemukan letak di mana Violeta.


..."Sembunyi di mana tikus itu,"...


"Kenapa kamu sangat yakin atau jangan-jangan kamu ada kaitannya dengan semua ini."


Sengatan listrik demi sengatan listrik seakan menghabiskan semua darah di tubuhnya.


"Aku tidak tahu maksud tuduhan Duke, setelah mengusir ku, menceraikan ku, lalu menuduh ku? pikiran macam apa itu? apa kamu tidak tahu? kamu sangat mengenal ku Duke."


"Baik, aku terima. Akan tetapi, jika ada hubungannya dengan mu, aku tidak akan tinggal diam. Meskipun, dirimu bagian masa lalu ku," ujarnya dengan penuh penekanan.


Hal yang tidak pernah Felica sangka, Duke Arland bisa meregangkan nyawanya hanya demi Duchess. Sedangkan dia, orang yang pertama mengisi kekosongan hatinya, orang yang pertama yang membuatnya tahu arti cinta dan kebersamaan. Kini laki-laki itu siap menusuknya.


"Tega kamu Duke, tega kamu, akulah yang pertama ada untuk mu, aku lah yang mengisi semua hidupnya, makanan kesukaan mu dan yang kamu tidak sukai. Kenapa, hah? hanya aku, hanya aku. Teganya kamu Duke, bahkan kamu mengotori ku dan aku mengandung anak mu, melahirkannya dan membesarkannya." Teriak Felica sambil menunjuk dadanya.


"Dulu," Duke Arland tersenyum miring. "Kamu menjebak ku kan. Aku datang pada mu dengan sejuta minta maaf, berusaha minta maaf, aku datang pada mu dengan baik-baik saja, tapi setelah itu aku tidak ingat. Kamu menjebak ku kan!" teriaknya semakin menggelagar. Ingin sekali dia mencekik leher wanita di hadapannya. "Aku bertanggung jawab pada mu, aku menikahi mu demi dirimu aku kehilangan anak ku dan istri ku, lalu apa hah? aku tidak bertanggung jawab. Hey! aku sudah melakukannya. Masalah Aronz, kamu mengandungnya dan membesarkannya, tapi apa? kamu tidak menyayanginya kan," ujarnya dengan tajam bak singa yang sudah menerkamnya.


"Dia hanyalah wanita kedua, wanita yang tidak baik. Dia hanyalah perebut, dia wanita ja..... "


Duke Arland langsung berlari dan mencekik leher Felica, sehingga perkataanya tidak bisa di lanjutkan. "Katakan sekali lagi Felica! aku akan memutuskan leher mu tanpa menggunakan benda tajam."


Aronz mulai menangis, dia menggeleng seraya memegangi tangan Duke Arland yang mencekik Felica. "Aku mohon Ayah, jangan bunuh ibu ku, jangan bunuh ibu ku. Dia tetap ibu ku, Aronz mohon jangan Ayah. Jangan....."