
"Aronz."
"Ayah!"
Aronz dan Duke Arland pun berpelukan, saling melepaskan rindu di hatinya,menyapa dari hati ke hati. "Aronz merindukan Ayah."
Kesatria Lio memberikan hormat, tatapannya seolah mengatakan ada sesuatu yang harus di bicarakan. Dia tidak mau membicarakan semuanya di depan Duchess dan yang lainnya karena takut membuat mereka khawatir.
"Kamu tunggu aku di ruang kerja."
"Baik Tuan." Kesatria Lio menuruti perintah sang majikan. Sebelum menemui majikannya, dia menyuruh beberapa pengawal menyelusuri Ibu Kota dan mencari pembunuh bayaran itu.
"Aronz!" Duke Arland menunduk. "Ayah juga merindukan, hem."
"Apa Aronz tidak mau memeluk Ibu?"
Aronz mendongak, ia ingin memeluk Duchess, tapi dia takut Duchess menolaknya. Apa lagi dia anak orang yang telah menghancurkan kebahagiaannya.
Violeta merentangkan kedua tangannya, menyambut tubuh mungil di depannya untuk memeluknya. Terpancar keraguan di mata Aronz, dengan senyum yang mengembang itu. Violeta mampu meyakinkan Aronz.
"Duchess!"
"Aku Ibu mu, Nak. Panggil aku Ibu."
Aronz terisak, buliran itu keluar tanpa perintah. Dia mengungkapkan rasa rindu, sakit dan kesalahannya lewat sebuah pelukan.
Pelukan hangat itu, menjalar di tubuhnya. Seperti sengatan listrik, ia merasakan kenyamanan yang tak pernah ia dapatkan.
Kerinduan sosok ibu, membuatnya lemah. Ia haus kasih sayang, setiap harinya dia selalu iri melihat anak laki-laki lain yang di manja oleh ibunya dan ayahnya. Apa lagi melihat Duchess yang sangat memanjakan Aleta dan Alfred. Ingin sekali, ia merebut semua kasih sayang Duchess untuk mereka.
"Sayang"
Duke Arland dan Kesatria Lio tersenyum, memperhatikan keduanya yang berpelukan, Aronz memeluk Duchess seperti memeluk ibunya sendiri.
Duke Arland pun merasa beruntung memiliki istri selembut Duchess. Selama pernikahannya dulu, Duchess tidak pernah menuntut apapun. Hadiah dan segalanya, wanita selembut Duchess seperti air laut yang menenangkan. Semakin terpesona dengan kelembutannya, semakin tenang dan semakin tak ingin melepaskannya.
"Duchess, aku mau berbicara sebentar dengan Kesatria Lio."
Violeta mengangkat tubuh Aronz, menggendongnya sepertu anak koala. Kedua tangan Aronz melingkar di leher Violeta, kepalanya bersandar di bahu kirinya.
"Vio, jangan terlalu memanjakan Aronz," ujar Duke Arland. Ia takut menimbulkan kecemburuan dari Alfred dan Aleta. Dia belum dekat dengan Alfred dan takut tak bisa mendekatinya.
"Aronz masih anak-anak, jangan terlalu memperketatnya."
"Tapi, Duchess... "
Aronz diam seribu bahasa, ia merasa ayahnya telah berubah.
"Sudahlah, aku tidak akan pilih kasih. Aronz bukan anak kandungnya, tapi aku menyayangi. Sangat menyayanginya."
Aronz tersenyum, tapi benar yang di katakan ayahnya. Ia takut menimbulkan kecemburuan dari diri Alfred dan malah menyulitkan ayahnya untuk dekat dengan Alfred.
"Ibu, biar Aronz turun."
"Tidak sayang, Alfred dan Aleta pasti mengerti. Kamu menyayangi Ibu, kan. Jadi turuti permintaan ibu mu ini." Violeta pun mencium pipi Alfred dengan gemas.
"Ibu," Aleta menuruni anak tangga, ia melihat banyaknya hadiah di ruangan itu. "Ini hadiah dari siapa Bu?"
"Dari Baginda untuk mu,"
Hah
Aleta terkejut tak karuan, benarkah Kaisar Fictor memberikannya."Apa semua ini? yang benar saja, dia pikir rumah ku toko serba ada," ujar Aleta.
"Hem. tidak baik bicara seperti itu. Kamu terima saja Aleta. Baginda baik dengan mu," ujar Violeta.
"Bu, ini seperti acara lamaran. Masak iya, Baginda melamar ku. Saat dewasa nanti aku tidak akan menikah dengannya. Dia sudah memiliki banyak istri."
Violeta hampir tersedak dengan air liurnya sendiri. Aleta berfikir Kaisar Fictor melamarnya. Semua orang pun berbicara seperti itu. Rasanya tidak mungkin dan sangat tidak mungkin.
Sedangkan Duke Arland mulai naik pitam mendengarkan penjelasan Kesatria Lio. Dimana Felica meninggalkan Aronz sendirian dan malah ke kota. Ia curiga, Felica sudah tahu kedatangan Violeta dan merencanakan sesuatu yang buruk.
"Kerahkan semua pengawal, aku tidak mau Felica merencanakan sesuatu dan malam ini, aku akan mengatakan kebenarannya pada Aronz. Dia harus siap mendengarkan semua kejahatan ibunya. Jika Aronz tidak menerima hukuman yang aku berikan pada Felica,Aku terpaksa mengeluarkannya dari kediaman Duke," ujar Duke Arland. Ia khawatir, Aronz tidak akan menerima keputusan yang ia ambil, mengingat Felica ibu kandungnya.