My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Bertemu



...


"Ayah, sudah cukup! Ayah istirahatlah, besok kita akan bertemu dengan Duchess. Pikiran Ayah harus jernih." 


Duke Aland tertawa seperti orang gila, besok adalah hari di mana dia akan bertemu dengan Violeta setelah sekian lamanya. "Kamu tahu," Dia tertawa, kemudian membanting botol di tangannya. "Apa dia mau memaafkan ku?" Duke Aland mengguncang tubuh Aronz, "Katakan!" Hatinya berguncang.


Aronz mematung, memejamkan matanya membuat air yang menggenang itu keluar dari pelupuk matanya. Hatinya berkeping-keping melihat kerapuhan sang ayah, kini tidak ada lagi Duke Aland yang tegas dan dingin, hanya ada laki-laki yang rapuh.


"Ayah." Dalam deraian air mata, Aronz merangkup kedua pipi Duke Aland. "Percaya pada ku, aku akan melakukannya untuk Ayah, aku akan berusaha, ayah percaya pada Aronz?"


Mata Duke Aland menatap dalam kedua bola mata Aronz, matanya seakan menebus hati Aronz. Kepercayaan di mata cokelat itu begitu dalam.


Deg


"Percaya pada ku, Ayah!"


"Pelayan!" Teriak Aronz.


Sang pelayan yang berjaga di luar pun masuk dengan kepala menunduk.


"Saya, Tuan muda."


"Tolong bantu aku memapah tubuh ayah ke ranjang."


"Baik Tuan Muda." Jawab pelayan itu.


Kedua pelayan itu memapah tubuh Duke Aland, membantunya membaringkan tubuhnya dengan hati-hati.


Duke Aland terus merancau tidak jelas, kadang tertawa kadang menangis, membuat kedua pelayan itu merasa iba. Mereka baru tahu, Duke yang terkenal sedingin es itu juga memiliki sisi kesedihan. Mereka juga baru mengetahui, Duke Aland mendatangi istana hanya karena ingin menemukan wanita yang telah lama dia cari.


"Kalian boleh pergi!" Titah Aronz. Ia berdiri di samping sang Ayah, begitulah tiap malam Duke Aland, hanya ia yang tahu, hanya ia yang menemaninya. Kesedihannya pun ia sangat mengetahuinya, setiap malam Duke Aland akan mengucapkan sebuah nama, Violeta.


Meskipun ia sakit hati karena Ayahnya tidak mencintai ibunya, ia mencoba menerima, pernah ia mencoba membuat sang ayah dekat dengan ibunya, namun bukan dekat, Duke Aland tambah murung. Ia pun menyadari, permintaannya yang sederhana itu membuat Duke Aland tertekan.


Aronz mengusap pucuk kepala Duke Aland yang baru saja memejamkan matanya, "Aronz, akan mendukung apapun yang ayah lakukan selama membuat ayah bahagia." Aronz mendekat, dia mencium pucuk kepala Duke Aland dengan perasaan mendalam.


Sang Surya telah menyapa di iringi salju yang masih turun, pagi itu cuaca sangat dingin, entah apa yang terjadi pada tubuhnya. Tidak biasanya dia bangun jam 04.00 pagi. Jantungnya semakin berdetak tak karuan, akhirnya ia memilih duduk di dekat perapian seraya menggambar desain selanjutnya.


Tok


tok


tok


"Masuk!"


Pelayan Mia akhirnya bernafas lega, majikannya memang benar ada di ruang perapian. Dia memasuki ruangan itu dan tersenyum, Majikannya sangat fokus pada lukisan gaun di depannya, tangannya sangat telaten membaut garis yang membentuk model yang ada dalam pikirannya itu.


"Nyonya, teh hangatnya."


Violeta menatap sebuah nampan di sampingnya, kemudian matanya beralih melihat pelayan Mia. Dia pun mengambil cangkir berisi teh hangat itu.


"Mia, apa anak-anak sudah bangun?"


"Belum, Nyonya. Mungkin karena musim dingin, jadi nona muda dan tuan muda."


tok


tok


tok


"Masuk!'


Seorang pelayan pun memasuki ruangan itu dengan wajah menunduk, lalu mengangkat wajahnya. "Di luar ada beberapa orang istana yang ingin bertemu dengan Nyonya."


Violeta mengerutkan dahinya, Ia tidak pernah berurusan dengan orang istana, bahkan ia sangat menghindari yang namanya orang istana.


Violeta beranjak berdiri, namun tiba-tiba jantungnya berdetak, tubuhnya panas dingin. Mendadak hatinya gelisah tak karuan.


"Maaf tuan, ada apa?" tanya Violeta. Laki-laki yang memakai baju Kesatria itu berdiri dari tempat duduknya.


"Maaf kami mengganggu waktu Nyonya. Seseorang ingin bertemu dengan Nyonya." Sang Kesatria itu menoleh, melihat ke arah pintu. "Tuan, silahkan masuk."


Bibir yang awalnya tersenyum, kini langsung memudar, matanya berkaca-kaca. Air matanya pun terjatuh, ia segera menghapus air matanya.


"Maaf saya permisi dulu, Nyonya dan Yang Mulia Duke," ujar sang Kesatria berlalu pergi.