My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Hah, Paman?



"Aleta kamu temani Baginda,saja. Sedangkan Ibu akan melihat Alfred dulu," ujar Violeta.


Duke Arland pun memberikan hormat mengikuti Violeta, ia ingin menghabiskan waktunya bersama Violeta dan Alfred.


Sedangkan Aronz, ia bingung harus kemana, ingin mengejar ayah dan ibunya, tidak mungkin. Dia akan menjadi nyamuk, sedangkan di sini ia merasa menjadi patung berdiri. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya sediri.


Sedangkan Kaisar Fictor menatap sengit ke arah Kesatria Gio. Dalam tatapan itu mengartikan 'tunggu saja, aku akan memberikan hukuman untuk mu'


"Aleta, bagaimana kalau kita ke rumah kaca saja, sepertinya lebih mengasikkan di luar," ujar Kaisar Fictor.


Dia benar-benar batin Kesatria Gio.


"Emm baiklah."


Aleta melangkah canggung, kemudian di susul oleh Kaisar Fictor yang berjalan di sampingnya. sepanjang jalan Kaisar Fictor tak pernah melepaskan senyuman di wajahnya. Bahkan ada beberapa pelayan yang berbisik-bisik.


Sesampainya di rumah kaca, Aleta duduk di hadapan Kaisar Fictor yang masih tersenyum. Tubuh Aleta bagaikan cacing yang hendak kabur, namun sulit untuk merayap.


Ehm


Kesatria Gio berderhem, seketika Kaisar Fictor menegang, menampakkan wajah datarnya.


Ehem


"Terima kasih karena sudah menemani ku Aleta."


Oh, baginda, dia anak kecil bukan orang dewasa jangan sedatar itu.


Kesatria Gio membungkuk, lalu mendekat ke telinga Kaisar Fictor, sesuai dengan arahannya, Kaisar Fictor mengikuti ucapan Kesatria Gio untuk berbicara santai.


"Oh, iya aku ada sesuatu untuk Aleta."


Gadis kecil itu diam, melihat Kaisar Fictor yang merogoh sesuatu dari saku celananya. Dia membuka kotak kain beludru berwarna merah itu. Tangannya menarik sesuatu di dalam kotak, hingga terlihat sebuah kalung.


Aleta terkesima, kalungnya begitu cantik, ukiran bunga tulip dengan mutiara putih dan kedua daun yang di isi dengan mutiara putih. "Waw,cantik sekali."


"Bolehkah aku memaikannya untuk Aleta."


Aleta mengangguk, Kaisar Fictor berjongkok, kedua tangannya melingkar di leher Aleta. Matanya terus tertuju pada wajah Aleta. Ia tidak bisa membayangkan, betapa cantiknya Aleta ketika dewasa, mungkin ia harus mengurung Aleta agar semua laki-laki nanti tidak akan ada yang terpesona. ia membayangkan, akan banyak laki-laki yang menginginkan Aleta dan untuk itu, ia harus lebih mendekatkan diri dengan Aleta semenjak sekarang agar Aleta hanya ingat padanya.


"Terima kasih Baginda."


Kaisar Fictor mengulum senyum, ia mengelus pucuk kepala Aleta."Mari kita berteman."


"Berteman," sahut Aleta. Dia tak merasa canggung lagi, Kaisar Fictor begitu baik. Ia yakin, Kaisar Fictor bisa menjadi tempat curhatnya. Selama ini ia tidak pernah curhat pada siapapun, memendam sendiri apa yang ada dalam hatinya.


"Baiklah, mulai saat ini kita resmi berteman," ujar Kaisar Fictor.


Tapi tidak untuk masa depan..


Aleta mengangguk, "Apa Aleta harus memanggil Baginda paman?"


Seperti badai salju yang langsung menghantam jantung Kaisar Fictor, seketika tubuhnya membeku. Sedangkan Kesatria Gio, menahan tawanya, karena tidak tahan, dia memalingkan wajahnya terkekeh pelan.


"Hah, paman?"


Aleta mengangguk cepat. "Kalau tidak suka, Aleta harus manggil apa, Baginda saja?"


Uh


Wajah yang menggemaskan itu, ia tidak bisa menahannya. Untuk saat ini, untuk berteman saja, tapi setelah itu ia akan menetapkan Aleta sebagai istri satu-satunya."Kesatria Gio!"


Tubuh Kesatria Gio menegang, dia menoleh cepat,memasang wajah datarnya.


"Saya Baginda."


"Awas kau, ya."


Kesatria Gio berusaha menahan bibirnya agar tidak membentuk senyuman.


"Baiklah, Aleta sayang, untuk saat ini kamu boleh memanggil ku, Paman. Tetapi, tidak untuk masa depan. Kamu harus memikirkan cara memanggil istimewa untuk ku."


Aleta bingung, bukankah sekarang dan masa depan harus sama. Dia tak mau ambil pusing.


Sedangkan tak jauh dari sana, seorang wanita tengah memperhatikan Aleta dan Kaisar Fictor. Sebagai seorang ibu, ia takut seperti di zamannya, orang terdekat bisa menjadi masa depannya.


"Duchess ada apa?"


Violeta tak menjawab, ia terfokus dengan putrinya, hatinya di landa keresahan. Kaisar Fictor memiliki banyak istri. Ia menggelengkan kepalanya.


"Violeta sayang ada apa?" Duke Arland memegang bahu Violeta.


"Ah, aku tidak apa-apa."


"Jangan bohong, wajahnya mu seperti orang khawatir. Dari tadi kamu memperhatikan mereka, apa kamu merasa tidak nyaman dengan kedatangan Baginda?"


"Bukan itu, bagaimana kalau.." Violeta tak meneruskan ucapannya, ia memilih menjauh dari Duke Arland.


"Hey," Duke Arland menggenggam kedua tangan Violeta. Menarik dagunya, "Katakan, ada apa? apa yang mengusik pikiran mu?"


"Bagaimana kalau suatu saat nanti Baginda menyukai Aleta?"


Duke Arland menganga, sedetik berikutnya dia menjitak dahi Violeta. "Pemikiran apa itu sayang? Baginda tidak mungkin menyukai Aleta, umurnya sekarang sudah berapa? Baginda juga sudah memiliki istri."


"Sekarang saja, wajah Baginda sangat muda, tampan dan gagah, di umurnya pun yang sudah menua Baginda akan tetap tampan. Siapa yang tidak suka dengan Baginda?"


Tanpa ia sadari, perkataannya menyulut aura hitam di tubuh Duke Arland.


"Tampan?"


"Iya Baginda sangat tampan, aku saja mengakui ketampanannya," ujar Violeta melangkah pergi, ia menghampiri Alfred yang sedang fokus dengan buku di tangannya.