My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Tanpa Duke



Dadanya terasa berdenyut, benarkah Alfred sangat membutuhkan sosok Duke. Apakah dia terlalu egois? Kedua matanya tak pernah lepas dari Aleta yang tertawa renyah. Seolah dunia ini hanya milik mereka.


"Lihatlah, setidaknya kamu paham. Dia membutuhkan mu dan Duke. Maaf, maksud saya Duchess," ujar laki-laki itu. Ia baru sadar, wanita yang selama ini menolongnya adalah seorang Duchess.


"Tidak perlu formal, kita sudah saling mengenal."


"Baiklah, aku ingin menjenguk Alfred."


Violeta mengangguk, tangan kanannya meraba kaca bening itu, seolah tangan itu meraba Duke Arland dan Aleta. "Seandainya, seandainya tidak ada rasa sakit, mungkin kita bisa bersama."


Sedangkan di halaman depan.


"Ayah-ayah lihat, saljunya sudah menumpuk di tangan ku," ujar Aleta, kedua sudut bibirnya melengkung ke atas dan menatap tangannya yang ia tengadahkan. Bulir demi bulir salju itu berjatuhan ke atas tangannya.


Duke Arland menghapus air mata di kedua sudut matanya, mengecup gemas kepala Aleta. Perkataan Aleta membuatnya panas dingin. Kedua tanganya mendekap tubuh Aleta, berulang kali bibirnya mengecup setiap bagian wajah Aleta. Rasanya ia belum puas menciumi wajah Aleta yang sangat mirip dengan Violeta.


"Sayang, tetaplah panggil aku ayah. Aku ayah mu Nak dan Aronz adik mu."


"Apa aku lebih tua dari Aronz?" Tanya Aleta polos.


Duke Arland mengangguk tak yakin. Entah siapa dulu yang hamil, tapi ia yakin Violeta lebih dulu hamil daripada Felica.


"Oh berarti aku memiliki adik."


"Benar, aku sudah lama ingin memiliki seorang kakak." Sambung Aronz dengan antusias.


"Ayah aku ingin turun..."


Duke Arland menuruti permintaan Aleta, dia menurunkan Aleta di depan Aronz. "Berarti sekarang kamu adik ku dan aku menjaga mu."


Kedua bola mata Aronz berkaca-kaca, Aleta mau menerimanya meskipun dia bukan terlahir dari ibu yang sama. Sungguh tidak dapat di percaya, Aleta mau bersikap ramah setelah apa yang di lakukan oleh ibunya.


Aku berjanji kak, aku akan membawa ibu pergi dari kehidupan kalian.


"Mereka tambah akrap, aku harus apa kalau sudah seperti ini? Apa aku egois memisahkan mereka?"


Ia merasa Aleta sangat membutuhkan sosok seorang ayah, pernah dia di lamar oleh salah satu bangsawan, namun dia tolak karena dirinya masih berstatus seorang istri dan lagi, hidupnya sudah cukup ada Aleta dan Alfred.


Violeta membiarkan ketiga orang itu bersanda gurau, ia pun kembali memasuki kamar Alfred.


Krek


Hah


"Alfred, benarkah kamu sangat merindukan Duke, demi menjaga perasaan ku, kamu membentengi hidup mu, bersikap kasar dan dingin."


Krek


Violeta menoleh, dia melihat Aleta di gendong oleh Duke Arland dan Aronz yang menggenggam tangan kiri Duke.


Melihat ibunya, Aleta bergegas turun. Langkah mungilnya mendekati Violeta. "Ibu.. itu... "


"Maaf tadi aku menggendong Aleta, jangan memarahinya. Akulah yang tadi memaksanya." Sanggah Duke Arland. "Bagaimana keadaan Alfred? Apa dia merasa kesakitan? Apa dia tadi bangun? Em, aku akan tidur di sofa untuk menjaganya?"


"Tidak perlu! Aku yang akan menjaganya."


"Tidak perlu Vio, kamu istirahat saja di kamar mu."


"Justru kamu yang tidak perlu, dari dulu tanpa di jaga oleh Duke aku bisa hidup sendiri," ujar Violeta dingin. Dia memperjelas posisi Duke Arland di kehidupannya.


"Emm, aku ingin menjaga kalian.. "


"Setelah apa yang Duke lakukan? Apa Duke masih bisa bersikap seperti ini?"


Violeta semakin membuat api di tubuhnya meluap-luap.


Duke Arland menghela nafas, tidak bisa yang ia lakukan selain menerimanya. "Maaf Duchess, tapi aku akan tetap di sini. Entah Alfred dan kamu setuju atau tidak, yang jelas aku ingin menjaga Alfred."


"Kapan Duke akan pulang?" Tanya Violeta. Secepatnya dia harus mengusir Duke Arland, kedatanganya ke rumah ini menghidupkan luka yang sudah mengering.


"Setelah Alfred sembuh, aku janji akan pulang, tapi tiap akhir pekan aku akan kesini menemui kalian."


Violeta mengalihkan penglihatannya pada anak kecil dengan wajah yang menunduk


"Aleta, kamu istirahatlah. Ibu akan menjaga kakak mu di sini."


"Baik, bu."


Aleta melegang pergi, sedangkan Violeta memutari ranjang Alfred, dia perlahan menaiki ranjang Alfred, menarik selimutnya sampai ke atas dada, kemudian membaringkan tubuhnya.