
Alfred tersenyum mengejek, sungguh pemandangan yang indah. Dia tidak sabar melihat wanita itu pingsan dan mungkin meregang nyawa. "Bu,geser sedikit. Aku takut Ibu akan mengenai matanya kanannya," ujar Alfred dengan santai.
Tadinya dia merasa bosan dan memilih berlatih dari pada harus mendengarkan konflik orang tuanya. Sehingga ada satu pengawal yang menjemputnya untuk ke ruangan bawah tanah karena ada ibunya yang sedang menunggu.
Namun selanjutnya, dia merasa senang. Ibunya membuat sebuah permainan yang sangat dia sukai. Dari dulu dia menahan semua amarahnya pada wanita di depannya dan sekarang, Tuhan berpihak padanya. Setidaknya dia bisa bermain secara perlahan-lahan.
"Alfred sayang, jangan berbicara. Aku takut tangan ku tak bisa di kondisikan dan mengenai matanya."
Alfred tertawa iblis. Sudah lama dia tidak merasakan apa itu memanjakan diri. Ibunya menaruh apel di atas kepala Felica. Bukankah itu permainan bagus, melihat wanita di depannya tak gentar. Tak merasakan takut, justru kemarahan dan kemarahan.
"Bu satu kehilangan mata, tidak akan membuatnya mati."
"Kalian, ibu dan anak sama saja. Jangan macam-macam pada ku Violeta atau aku akan membuat mu dan putra mu itu menyesal."
Violeta menjatuhkan anak panahnya, namun masih dalam posisi siap membidik. "Jangan banyak bicara atau anak panah ini akan melesat."
Felica tak tahan, tubuhnya terasa gatal jika tidak bisa mengoyak tubuh Violeta. Dia seorang wanita yang tak mudah kalah. Kenapa dia harus takut? yang takut itu seharusnya adalah Violeta.
"Jangan main-main dengan ku Violeta." Felica memberontak, meskipun dia bersikap berani, tapi hatinya telah di selimuti oleh ketakutan.
"Aronz! Aronz! Aronz! tolong Ibu Aronz, ada yang berbuat jahat pada Ibu!"
Teriakan Felica seakan meruntuhkan ruangan bawah tanah itu. Wanita itu mengeluarkan semua suara yang bisa memutuskan tali pita suaranya itu.
"Duke tolong aku, Violeta dan Alfred mempermainkan ku. Mereka ingin menyakiti ku dan membunuh ku."
Violeta dan Alfred saling melirik, kemudian keduanya tertawa bersamaan. Seolah mengejek wanita yang di ikat itu.
"Beruntung, kamu tidak di bunuh oleh Duke dan tentunya karena permintaan ku. Seandainya aku menyuruh mu mati, sudah di pastikan kamu mati dan aku akan sedih, sangat sedih. Hu.. hu.. hu.. "
Tubuh Felica semakin gemetar, Violeta mempermainkan dirinya. Memang dia siapa? dia dulu yang lebih di cintai oleh Duke.
"Bu, biar aku saja yang memanah apel itu?"
"Alfred, permainannya kurang seru.. Bagaimana kalau kita membuat apel itu mengelilingi tubuh Duchess Felica, oh maaf, lidah ku keseleo sampai aku salah menyebutkan nama."
"Aku akan mengatakan pada Duke dan Aronz, bahwa kalian itu gila."
Violeta tertawa sambil berdecak pinggang, hanya orang gila yang akan mempercayai Felica. Kedua laki-laki yang berbeda umur itu tidak akan percaya lagi padanya.
"Kamu meremehkan ku,aku akan buat mereka percaya. Lihat saja nanti,"
"Tenang saja, aku akan mengatakannya pada Duke dan Aronz. Aku akan membuat mereka percaya dengan kata-kata, misalkan tolonglah aku Duke." Ejek Felica.
"Kamu dasar... "
Tak
Tubuh Felica seketika menegang dan kaku, Melihat buah apel itu jatuh ke tanah di depan kakinya dengan anak panah yang menancap. Dia melihat Alfred, anak itu benar-benar menancapkan sebuah anak panah. "Ka-kamu..."
Violeta melangkah,dia menarik dagu Felica."Kamu pernah mengatakan pada ku, bahwa aku kalah dan kamu menang. Apa kamu kira selama ini permainannya sudah berakhir?"
"Tidak, jujur saja. Sebenarnya aku tidak mau kembali pada Duke, tapi aku kasihan pada kedua anak-anak ku. Apa yang seharusnya menjadi miliki mereka?! harus menjadi milik mereka."
Felica mencerna perkataan Violeta, satu kata ia temukan. Selain balas dendam, Violeta ingin merebut apa yang di miliki Aronz akan menjadi milik kedua anaknya."Sudah ku duga, kamu memiliki hati iblis. Aku Iblis kamu apa? lebih parah dari ku, bukan?"
"Pengawal!" teriak Violeta.
"Saya Nyonya." Kedua Pengawal yang berjaga di depan pintu penjara bawah tanah menghampiri Violeta.
"Taruh buah apel di masing-masing bahunya."
"Kurang ajar, apa yang mau kamu lakukan? lepaskan aku." Teriak Felica memberontak.
"Tentu saja bermain dengan mu."
"Ja-jangan Violeta, kamu tidak tahu memanah. Jangan gila kamu." Teriak Felica murka.