My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Menemui Aleta.



"Kesatria Gio, apa kamu sudah memikirkan hadiah besok, untuk Aleta ku. Calon istri ku."


Kesatria Gio menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman seperti bulan sabit, namun dengan hati yang berat dan melelahkan. Dia saja tidak tahu harus memberikan hadiah apa? yang jatuh cinta majikannya, yang harus memikirkan hadiah adalah dirinya. Nasibnya sebagai seorang bawahan.


"Kenapa diam? apa perlu aku menyobek mulut mu." Sentak Kaisar Fictor.


...Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan...


"Baginda,apa saja yang di berikan oleh Baginda pasti di sukai oleh Baginda," ujarnya dengan sabar menuntun otak Kaisar Fictor agar tidak semakin tenggelam dan dia yang harus menjadi korban untuk menyelamnya.


"Oh iya, Aleta ku pasti suka apa saja yang aku berikan."


"Benar Baginda."


...Tidak benar, walaupun tidak suka, mana mungkin nona Aleta akan mengatakannya Baginda. Tidak ada orang yang berani memerintahkan seorang Kaisar dan mengabaikan pemberian seorang Kaisar....


"Bagaimana kalau Aleta ku tidak suka?"


Dhuk


"Kamu mau bertanggung jawab."


Kesatria Gio tetap berdiri tegap, meskipun tulang keringnya seakan retak.


Sabar Gio,hadapilah dengan senyuman.


"Baginda, apa Baginda tadi tidak menanyakan kesukaan nona Aleta?" tanya Kesatria Gio. Ia pikir, percuma saja mengobrol panjang dan lebar, namun satu hal yang harus sang majikan ketahui tidak tahu.


"Oh iya." Kaisar Fictor mengelus dagunya. "Dia menyukai bunga mawar merah, kue kesukaannya kue cokelat."


Setidaknya sesuatu di kepalanya bisa di gunakan dan tidak tenggelam.


"Kenapa Baginda tidak memberikan saja kue kesukaan nona dan iya, bunga mawar."


Kaisar Fictor mengusap kedua telapak tangannya, ia pikir idenya kali ini sangat cemerlang. "Ide ku tidak buruk."


Baiklah, ide mu, tapi otak ku yang bekerja.


Kaisar Fictor menatap tajam. "Tunggu apa lagi? cepat laksanakan tugas mu. Beri tahu pada ketua pelayan istana untuk membuat kue cokelat yang terbaik." Sungutnya.


Oh Tuhan...


Kesatria Gio langsung memberikan hormat, lalu mempercepat langkahnya.


"Malam ini aku harus minum Wine, agar otak ku kembali berfungsi dengan benar."


Sedangkan Kaisar Fictor, dia sibuk dengan pemikirannya sendiri, ia sudah merancang seperti apa masa depannya dengan Aleta dan yang terpenting memiliki beberapa anak.


Waktu terus bergulir ke tempat semula, seperti saat ini, matahari telah menyapa semua makhluk hidup, bunga-bunga telah siap bermekaran. Harum bunga menyerbak di seluruh istana.


Semua penghuni istana sangat antusias memulai hari dan bulan baru di musim semi. Termasuk salah satu seorang penguasa yang sedang asik bercermin, setengah jam dia berdiri di depan cermin hanya ingin mengoreksi penampilannya itu.


"Apa aku tampan?"


"Baginda sangat tampan." Jawab Kesatria Gio dengan mantap. Bahkan ia sudah lelah melihat Kaisar Fictor yang terus memarahi pelayan ini dan itu. Merasa tidak cocok, di ubah lagi, lalu kembali ke semula. Sangat pas, bahkan melebihi seorang wanita.


"Baginda, Baginda." Suara dari arah pintu membuat Kaisar Fictor melotot.


"Apa Baginda sudah siap? Baginda sangat tampan."


Cling


Seperti sinar matahari yang memukau. "Aku memang tampan," ujarnya dengan sombong.


"Ah benar, Baginda sangat tampan. Saya beruntung yang menjadi istri Baginda," ujar seorang wanita yang tersenyum.


"Kesatria Gio, ayo kita berangkat."


"Baginda mau kemana?"


"Saya ingin menemui Aleta,"


"Aleta?" Dahi wanita itu menyatu, wajahnya di penuhi banyak pertanyaan..


Kesatria Gio langsung turun tangan mendapati tatapan tak bersahabat dari Kaisar Fictor. Dalam tatapan itu, menyuruhnya mengusir sang Ratu.


"Putri dari Nyonya Violeta dan Duke Arland, Ratu. Baginda sangat menyukai nona Aleta karena menganggapnya sebagai putrinya sendiri," ucap Kesatria Gio. Ia acuh dan acuh melihat Kaisar Fictor.


"Kemarin paman, sekarang anak, dia memang bosan hidup." Gumam Kaisar Fictor.


Wanita itu tersenyum, "Oh begitukah, aku tidak sabar memberikan anak untuk Baginda."


Kaisar Fictor menatap malas, sudah beberapa bulan ini. Dia tidak berhubungan lagi dengan para istrinya, yang ada di otaknya hanya Aleta dan Aleta. Entahlah, burung juniornya seakan malas untuk bangkit.


"Emm, nanti malam. Giliran saya Baginda, saya akan memberikan kejutan untuk Baginda."


"Baiklah, nanti malam aku akan menemui dan sekarang aku akan berangkat."


Kaisar Fictor pun pergi, meninggalkan wanita itu yang hanyut dalam lamunannya. Membayangkan anaknya dan Kaisar Fictor.


"Kesatria Gio, berikan campuran obat tidur untuk Permaisuri. Jadi aku tidak perlu melakukan apapun."


"Baik Baginda," ujar Kesatria Gio.


Di tempat lain.


Aronz memandangi taman yang berukuran sedang, musim semi seharusnya ia tertawa bersama dengan Duke, seperti musim sebelumnya. Bercanda bersama, melihat bunga bermekaran dan kini bunga bermekaran itu tak terasa indah di hidupnya. Kesepiannya terus melanda hatinya, ia sangat merindukan kehangatan itu. Rasanya seperti bertahun-tahun dia merindukan Duke Arland.


"Ayah, aku merindukan mu. Semoga kamu bahagia, Ayah."