My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Keluar!



#Jangan lupa, baca juga ya... Istri Kedua Mr Duke masih anget...


"Duke... "


Violeta melangkah mundur saat Duke Aland melangkah..Duke Aland pun berhenti, seolah kakinya maju, Violeta akan mundur.


"Vio..."


Violeta melihat ke samping Duke Aland, seorang anak kecil beberapa hari yang lalu yang ia temui di Kota Hunderbugh, Kota yang mengingatkan semua masa lalu. Saat berada di sana pun, hidupnya merasakan kesakitan, Kota yang memiliki kenangan buruk di hidupnya.


"Duchess!"


"Untuk apa kalian datang kesini?" tanya Violeta datar.


"Aku, aku ingin menemui, sudah lama aku mencari mu, Vio." Lirih Duke Aland, dia melangkah menghampiri Violeta dengan gurat kebencian di wajahnya.


"Stop! berhenti Duke!"


Duke Aland menghentikan langkahnya, Bibirnya gemetar, Violeta menghentikannya,berarti dia tidak ingin bertemu dengannya.


"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Violeta menggeleng, "Hubungan kita telah selesai, saat kamu membawanya dan aku mohon jangan mengusik kehidupan ku lagi Duke."


"Vio.. Aku mohon maafkan aku, aku salah, tapi aku ingin meminta penjelasan pada mu. Apa alasan mu tidak menemui ku, aku hancur saat mendengarkan kereta mu jatuh ke sungai."


Violeta tertawa, bukankah dia harus senang? tidak ada lagi yang akan menghentikan atau menghalangi hubungannya. Di sela-sela tawanya, air matanya terus mengalir, bahkan ia tidak bisa menghentikannya. "Seharusnya kamu senang, kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi pada ku. Aku Violeta Aghata meminta bercerai dengan mu. Karena kita sudah bertemu, mari kita akhiri drama pernikahan dulu. Kamu bebas dan aku bebas."


jleb


Hatinya seperti di tusuk oleh sebilah pisau, seakan pisau itu tembus ke punggungnya. "Apa anak ku masih hidup?" Duke Aland mengalihkan pembicaraannya, dia tidak peduli apapun, bagaimana pun, selamanya tidak akan menceraikan Violeta.


"Mau dia mati atau hidup, kamu tidak perlu memperdulikannya."


"Aku yakin dia masih hidup, aku ingin bertemu dengannya."


Tanpa Violeta sadari, Duke Aland berlari dan langsung memeluknya, kedua tangannya mengepal, tubuhnya bagaikan di tusuk oleh duri. "Lepaskan! jangan menyentuh ku!"


"Tidak Vio, aku merindukan mu." Duke Aland melepaskan rasa rindunya yang membuncah, ia mencium harum wangi tubuh Violeta. Mengelus punggungnya dan memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang menebus kulitnya, memasuki aliran darahnya.


"Lepaskan! tubuh kotor tidak berhak bersentuhan dengan tubuh ku,"


Duke Aland membuka matanya, ia sadar, tubuhnya terlalu kotor, bahkan ia tidak bisa menghilangkan kotoran itu, meskipun dia mandi seribu kali dalam satu hari pun. Duke Aland melepaskan pelukannya, kakinya melangkah mundur, menatap dalam kedua mata Violeta, wanita yang sangat ia cinta.


"Vio,"


"Keluar! keluar!"


"Aleta, Alfred!"


Suara Aronz membuat mata Duke Aland beralih pada ujung tangga. Kedua anak kecil yang pernah dia temui, bahkan sudah memasuki kediamannya, namun ia tidak bisa mencegahnya pergi.


Dada Alfred naik turun, ia mengalihkan pandangan matanya, tidak membalas tatapan Duke Aland. Sedangkan Aleta, membalas tatapan sang ayah.


"Aleta, Alfred..."


"Masuk ke dalam, Ibu katakan masuk ke dalam Aleta, Alfred," ujar Violeta dengan nada tinggi. Dia tidak akan membiarkan kedua anaknya menemui Duke Aland atau membawanya.


Aleta dan Alfred menunduk sedalam mungkin, ia mengerti situasi saat ini. Kedua anak itu berbalik dan langsung berlari ke kamarnya.


"Pergi!"


Violeta mendorong tubuh Duke Aland, hingga tubuh itu terhuyung ke belakang. "Pergi Duke! jangan pernah datang kembali."


Duke Aland menggeleng dengan deraian air matanya, bibirnya terasa kelu untuk menjawab. Dalam hatinya, ia memberontak, tidak ingin pergi sebelum Violeta memaafkannya.


"Ayah, ayo kita pergi." Aronz memegang lengan kanan sang ayah, membujuknya meninggalkan kediaman ini. Bukan saatnya sang ayah memaksakan Duchess


"Bagus, bawa ayah mu pergi jauh dari sini dan katakan pada ibu mu,jagalah suaminya dengan benar."


"Ibu, ayah selalu menangisi kepergian Ibu."


"Berhenti! aku tidak suka di panggil ibu oleh mu, kamu bukan anak ku. Kamu hanya anak Duke dan Felica. Darah ku tidak mengalir di dalam tubuh mu."


Violeta terus mendorong tubuh Duke Aland, sedangkan Duke Aland terus berusaha bertahan agar tidak mudah di dorong. Kesatria Lio hanya menatap iba, ia tidak berani ikut campur masalah keduanya.


"Kesatria Lio, kenapa diam saja? bawa tuan mu."


"Hentikan! aku tidak akan pergi. Percuma kamu mengusir ku. Aku tidak akan pergi."


Rahang Violeta semakin mengeras, matanya memerah, tangan yang sedari tadi mengepal, kini terbuka dan siap melayang di pipi Duke Aland.


"Pergilah, aku mohon pergilah." Violeta membalikkan tubuhnya ke samping, lalu memalingkan wajahnya.


"Aku akan pergi, aku akan menunggu di halaman depan sampai kamu membukakan pintu untuk ku." Duke Aland berjalan ke arah luar, ia berdiri di tengah-tengah salju.


"Ayah jangan lakukan ini? ayah akan sakit! ayo kita pulang, kita akan memikirkan cara agar Duchess pulang."


Sejujurnya hatinya juga hancur, Duchess Violeta sudah menegaskan, tidak akan mau menerimanya, tapi ia akan berusaha agar Violeta mau memaafkan ayahnya, tidak masalah jika tidak menerimanya. Ia tidak peduli, demi ayahnya.