My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Jangan Memaksa



"Bu,"


Violeta yang tengah membalut luka di telapak kaki kanan Aronz, seketika dia memutar lehernya. Melihat Alfred yang berada di ambang pintu, dia merasakan hawa dingin yang perlahan masuk. Dia tahu, Alfred tidak menyukai Aronz.


"Berbakti sekali dirimu, menyuruh Ibu membalut luka mu." Aronz mengejek dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Tubuhnya berkendut ke kanan.


"Alfred sayang, jangan seperti itu. Tidak baik, dia juga saudara mu."


"Saudara?" Alfred menarik satu sudut bibirnya, seolah senyuman itu mencemoh. Dari dulu dia tidak pernah menganggap memiliki seorang saudara. "Apa Ibu juga melahirkan Dia?"


"Alfred." Violeta berdiri, dia sudah selesai memperban kaki Aronz, lalu mengelus kepala Alfred. "Meskipun Aronz tidak di lahirkan dari rahim Ibu, tapi tetap saja. Darah ayah mu juga ada pada tubuh Aronz."


"Semenjak kapan aku menerimanya sebagai Ayah ku? Bu, aku ikut kesini dan tinggal di sini karena ingin melindungi Ibu, bukan menerima mereka." Kata Alfred menekan setiap kalimatnya yang dia ucapkan. Dahinya berkerut, menahan amarah. "Aku tidak bisa menerimanya."


"Alfred!" Bentak Duke Arland. Dia diam saja Alfred membentak atau memarahi, mencemoh Aronz. Dia tidak memilih siapa-siapa di antara anak-anaknya, tapi dia akan bersikap tegas, jika mereka tidak bisa menjaga sopan santunnya.


Alfred tersenyum, inilah yang dia tunggu, kemarahan Duke Arland. Dia ingin membuatnya marah dan melepaskan amarahnya. "Apa anda tidak terima?"


"Jaga ucapan mu Alfred, dia saudara mu."


"Sampai kapan pun aku tidak akan menerimanya saudara ku. Karena dia, hidup ku menderita. Aku masih ingat, setiap penghinaan semua orang pada ku. Sedangkan dia... "Alfred menunjuk Aronz. "Dia tidak pernah merasakan apa itu di hina."


Duke Arland menahan nafasnya sebentar. Dia tidak boleh terbawa emosi ketika berhadapan dengan Alfred. "Nak, terimalah dia. Ibu mu saja menerimanya."


"Karena Ibu memiliki hati yang lembut dan aku tidak. Saat semua orang mengatakan ibu ku wanita murahan, apa aku bisa menerima mu dan anak mu?" Kedua mata Aronz berkaca-kaca. Setiap Ibunya di hina, perkataan orang itu seperti jarum kecil yang menusuk hatinya.


"Aku tidak akan memaksa mu, tapi hormati dia. Bukan hanya kamu yang keluarga Duke dan ingin di hargai," ujar Duke Arland dengan suara lembut.


"Aku tidak ingin di hargai, aku tidak tahu apa itu menghargai dan di hargai. Bagi ku, kehidupan ibu ku tidak pernah ada orang yang tahu, tidak pernah ada yang memahami atau menghormatinya." Teriak Aronz.


Violeta menahan rasa panas di dadanya. "Jangan membentak atau memarahinya. Karena aku yang berjuang antara hidup dan mati setelah melahirkannya. Saat Alfred lahir, aku yang menggendongnya. Dia sakit, aku yang menjaganya sampai aku tidak tahu kapan waktunya istirahat dan makan. Sudah aku bilang, Alfred butuh waktu. Dia yang tersakiti di sini."


"Aku sudah menerima Aronz, bukan. Jadi jangan memaksa Alfred, suatu saat nanti ada kalanya dia akan melembut."


"Mia!"


"Saya Nyonya."


"Bawa tuan muda Aronz ke kamar lainnya." Perintahnya.


"Bu," Aronz menarik gaun Violeta. Dia takut, Violeta tidak akan menerimanya lagi. Hanya dia, satu-satunya ibu yang ia miliki.


"Aronz sayang, kembalilah ke kamar. Kamu harus istirahat agar luka mu cepat sembuh."


Aronz menerimanya dengan lapang dada, bahwa ibunya sedang marah, kesal dan kecewa. Dia lebih memilih menurut saja, mungkin nanti dia bisa merayu ibunya kembali.


Seakan lupa dengan tujuannya, Duke Arland hanya menatap Aronz sekilas. Padahal awalanya dia ingin melihat keadaan Aronz yang sedang terluka. Salah satu pelayan lah yang memberitahukannya, namun sekarang, pikirannya semakin kacau dan tidak bisa mengingat tujuan awalanya.