My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kedatangan Aleta



Di tempat lain.


Kesatria Gio menjelaskan semuanya pada Violeta dan Duke Arland, yang mana membangunkan sisi kejamnya Duke Arland. Sedangkan Violeta, ia tidak menyangkan Felica menemukannya dan mengincar nyawanya sekaligus anak-anaknya.


"Aku akan ikut dengan mu, Vio aku pergi. Jaga anak-anak,"


"Ayah aku ikut!" Seorang anak kecil berlari menuruni tangga, ia mendengarkan semuanya dan hatinya tiba-tiba bergerak ingin bertemu dengan Kaisar Fictor.


"Aleta sayang, ini sudah malam dan waktunya Aleta tidur," ujar Duke Arland.


"Aku ingin ikut ayah, bolehkan bu."


"Besok saja ya sayang," ujar Violeta membujuknya. Bagaimanapun juga, ia tidak mau Aleta mengganggu Kaisar Fictor atau Duke Arland.


"Ibu, setidaknya aku ingin melihat istana."


Nona Aleta ingin ikut dan kalau ikut…


Kesatria Gio berperang dalam pikirannya, kalau Aleta ikut, dia akan kembali menderita.


"Ayah… " Rengek Aleta menahan tangis.


"Vio, aku akan membawanya. Aku tidak tega melihatnya menangis."


Duh, Duke mulai luluh.


"Apa sebaiknya Nona istirahat saja?" Sanggah Kesatria Gio, ia ingin mencegah badai kegilaannya yang akan mendekatinya.


"Tidak aku mau ikut…" Aleta bersikeras membujuk Duke Arland dengan tatapan mengiba. Sehingga siapapun yang melihatnya tidak akan sanggup.


"Baiklah, Aleta boleh ikut, tapi harus ada di pengawasan Kesatria Lio dan beberapa pengawal." Violeta menimpali dan tersenyum.


Tamatlah riwayat mu Gio…


"Baiklah, ayo kita berangkat."


"Mia, bawakan pakaian hangat untuk Aleta."


"Baik, nyonya."


Aleta, Duke Arland dan Kesatria Gio bersarta Lio pun berangkat ke istana. Mereka menggunakan satu kereta dan empat kuda.


Selama di perjalanan, Aleta tersenyum ke luar jendela. Ia tidak sabar bertemu dengan  Kaisar Fictor yang menurutnya sangat menjengkelkan itu, namun hatinya merasa nyaman dan tenang jika berada di dekatnya.


"Ada apa Aleta? Apa kamu sangat menyukai istana?" Tanya Duke Arland. Dia memperhatikan Aleta yang tersenyum kadang menunduk dan kadang menatap kembali ke luar jendela.


"Entahlah Ayah, aku sangat senang bertemu dengan Baginda."


"Apa Aleta menyukai Baginda?"


Seandainya ada Kesatria Gio, sudah pasti dia tertawa terbahak-bahak mendengarkan sang majikan di bilang aneh.


"Hem, ya sudahlah. Kamu juga akan berpamitan dengan Kaisar, apa lagi waktunya sudah tidak sempat lagi. Ayah akan membawa mu dan ibu mu kembali."


"Iya Ayah."


Bocah berusia enam tahun itu merasa berat jika harus meninggalkan kediamannya, ibunya merintis usaha di sini dan ia di lahirkan di sini. Pasti ia akan merindukan setiap tempat dan kenangannya. Apa lagi dengan Kaisar Fictor. Entah dia bisa bertemu atau tidak.


Tak terasa kereta kuda itu, telah sampai di istana. Kesatria Gio memerintahkan kedua pelayan untuk menemani Aleta sedangkan Duke Arland dan yang lainnya menuju ruangan bawah tanah.


Sesampainya di ruang bawah tanah. Duke Arland melihat Kaisar Fictor yang berdiri di luar. "Baginda." Sapa Duke Arland.


"Wah, ayah mertua." Gumam Kaisar Fictor. Dia pun memeluk Duke Arland dan menepuk punggungnya. "Saya sudah menunggu A… Duke," ujarnya ramah. Hampir saja, mulutnya memanggil sebutan ayah.


Jika Baginda tahu, nona Aleta ada di sini..


"Dimana dia?"


Glek


Wah, ayah mertua ku mulai mengeluarkan aurnya. Cocok dengan ku batinnya.


"Anggap saja aku tidak melihat apa-apa." Gumam Kesatria Gio.


"Masuklah, A.. Duke. Mereka sedang menunggu Duke."


Kaisar Fictor pun mengikuti langkah Duke Arland, namun Kesatria Gio menghentikannya. "Baginda."


"Ada apa? Jangan mengganggu ku. Aku harus mendekatkan diri pada ayah mertua," ujar Kaisar Fictor di ambang kekesalannya.


"Berita yang saya berikan lebih baik dan sangat bagus, saya yakin Baginda akan menyukainya dan melupakan kekesalan Baginda."


"Awas saja jika berita mu jelek, aku akan membuat wajah mu jelek. Hingga semua wanita tidak akan mengenali mu."


Untung Kaisar, kalau bukan…


"Cepat katakan aku tidak memiliki waktu."


"Nona Aleta ada di sini, tadi dia mengikuti Duke. Sepertinya dia merindukan Baginda, cepatlah temui nona Aleta dan nona….


Kesatria Gio malah melongo, belum selesai dia berbicara, namun orang yang di ajak bicara malah kabur seperti angin yang langsung menghilang.


Uh, 


Kesatria Gio menggaruk lehernya, ia tidak sabar menumpaskan semua kekesalannya pada dua tawanan itu.