
Kedua mata Alfred melirik pergerakan Duke Arland. Ia jengah melihat sang ayah yang terus mencuri pandang.
"Bu, aku sudah selesai."
Semua orang menatap Alfred, roti yang di makan pun tinggal separuh.
"Alfred, sarapan mu belum di habiskan sayang."
"Aku sudah kenyang Bu, aku pergi latihan dulu."
"Oh baiklah, nanti Ibu akan melihat mu."
Violeta kembali melanjutkan memakan sarapannya di ikuti yang lain. Sedangkan Duke Arland, ia memilih mengejar Alfred. Mungkin dengan latihan bersama Alfred akan luluh.
Ia harus bisa mengambil hati Alfred sedikit demi sedikit yaitu dengan cara mereka menghabiskan waktu bersama.
"Aku selesai, aku pamit Duchess."
Violet ingin menegur, roti berisi selai itu juga tidak habis. Namun mengingat kekesalannya, ia mengurungkan niatnya.
"Bu, apa ayah tidur di depan pintu? Aku melihat sendiri ayah memejamkan matanya," ujar Aleta. Ia ingin menanyakan perihal kecurigaannya itu.
Huk
Violeta tersedak, seribu kepercayaan pun, ia tidak akan percaya pada Duke Arland. "Aleta, ibu tidak tahu jika ada ayah mu. Mungkin saja, ayah mu ketiduran di sana."
"Oh, baiklah."
Sedangkan Alfred.
Laki-laki itu mengayunkan pedangnya dengan lihai. Sorot matanya tajam menusuk, dia mengayunkan dengan emosi yang kembali membara, lintasan ingatan masa lalu yang mengucilkan hidupnya berjalan di otaknya. Setiap perkataan dan cemohan, dia mengayunkan pedang itu dengan cepat dan berteriak.
Argh
Alfred berlutut dan menancapkan ujung pedang itu ke tanah, ia benci sekali dengan ingatan itu. Ingin sekali ia menguras otaknya.
Alfred meremas pegangan pedang itu, keringat di dahinya jatuh ke tanah dan mengalir di kedua pipinya.
Argh
Alfred berdiri, dia mengayunkan pedang itu sampai Ujung pedang menancap di pembatas arena latihan.
"Hahaha, aku membencinya, tapi aku menyayanginya."
"Ini lucu sekali."
"Alfred!"
Laki-laki yang sedang mengayunkan pedangnya seketika menghentikan tangannya. Dia melirik sekilas, ia sudah bisa menebak siapa yang datang, suara, wangi tubuhnya dan suaranya. Ia sangat hafal.
"Alfred!"
Duke Arland mendekat, dia memegang sebuah pedang di tangan kanannya. Berusaha mengumpulkan sebuah keberanian untuk bermain dengan putra pertamanya. "Boleh Ayah bergabung?"
Alfred terdiam, tidak ada salahnya ia menyetujui dengan begitu, ia bisa menuntaskan amarahnya.
Duke Arland menghadang, kedua matanya tersimpan sejuta rindu, sedangkan di mata Alfred tersimpan sebuah kebencian yang menggunung.
trang
"Lepaskan semua amarah mu Alfred. Jangan di pendam,"
"Tentu saja, lawan aku."
Duke Arland mengangguk, bukan berarti ia menyetujui perkataan Alfred, namun ia hanya ingin meladeni kemarahannya, berpura-pura melawan, tetapi membiarkan kemauan Alfred.
trang
*Aku membenci mu, aku membenci mu
tras*
Darah segar keluar dari lengan kanan Duke Arland. Tidak ada kesakitan di lengannya. Ia terus meladeni ayunan pedang dari Alfred.
Alfred pun yang di kuasi oleh amarah. Ia tidak memperdulikan darah itu. Seakan kedua matanya tertutup oleh kabut hitam.
Sedangkan yang tak jauh dari sana, terlihat Sepasang mata tengah mengamati pertarungan itu.
"Baginda, Baginda." Kesatria Gio berdiri tegap di belakang Kaisar Fictor. "Ada kabar yang tidak menguntungkan Baginda." Imbuhnya lagi. Kini hidupnya harus beralih profesi menjadi seorang detektif di kediaman Duke. Untung saja, Kesatria Lio menceritakan keadaan kediaman Duke. Sehingga ia dengan mudah mendapatkan informasi.
"Ada apa?" tanya Kaisar Fictor. Baru saja dia sampai dan menanyakan Duke. Sehingga memilih bertemu lebih dulu dengan Duke. Karena kerinduannya pada sosok anak kecil itu, akhirnya memilih bertamu di kediaman Duke.
"Ternyata, Duke Arland dan Duchess Violeta tidak berdamai, e maksudnya ada masalah Baginda. Tuan muda Alfred belum sepenuhnya menerima kehadiran Duke dan .. "
"Gawat!"
"Apanya yang gawat Baginda? tanya Kesatria Lio. Dia bingung sendiri, sepertinya perkataannya tidak ada yang serius.
"Dasar bodoh, aku sudah dekat dengan Duke. Bagaimana kalau hubungan keduanya merenggang, aku tidak memiliki pendukung."
"Hah?"
"Hanya Duke yang bisa meyakinkan Duchess menerima ku. Secara langsung aku kan seorang Kaisar, tampan dan punya segalanya."
Kembali memulai
"Aku harus mencari cara dan membantu Duke."
"Jangan Baginda." Sigap Kesatria Gio. Ia tidak mau Duke Arland menjadi seseorang yang tidak waras. Mana bisa ia meladeni dua orang yang akan mencabut nyawanya kapan saja.
"Kenapa? apa kamu meragukan kemampuan ku."
Sepenuhnya betul Baginda, tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku harus bagaimana? jangan memberikan ide yang tidak-tidak Baginda.
"Tidak Baginda." Jawab Kesatria Gio menunduk lesu.
#Hay kak, author percepat alurnya yaa... Sebentar lagi akan tamat.