My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Kebersamaan



Waktu terus berjalan, seperti air yang mengalir. Kini Aleta tengah di sibukkan oleh kelakuan Kaisar Fictor, laki-laki itu seenaknya saja membeli sepatu untuknya. Jika dia tidak memilih maka hasilnya Kaisar Fictor membeli semua. Ia ingin menolak saat Kaisar Fictor mengajaknya ke Kota, namun ibunya malah mendukungnya karena Kaisar Fictor. Benar, seorang penguasa tidak bisa di tolak dan harus mengiyakannya.


"Paman sudah cukup, kita tidak perlu membeli semuanya," ujar Aleta. Sebelum memasuki toko Kaisar Fictor menyuruh mengubah nama panggilannya agar semua orang tahu, bahwa dirinya adalah seorang Kaisar.


"Hey, ini masih sedikit Aleta. Oh, ayolah... "


"Paman Nona sangat perhatian, dia tampan sekali."


Baiklah, katakan di tampan dan aku jengah.


Kaisar Fictor semakin bangga pada dirinya, haya beberapa orang saja yang mengenalinya. Separuh matanya di tutupi dengan topeng sehingga banyak orang yang tidak akan mengenalinya.


"Apa nyonya tidak merasa curiga dengan wajahnya?" tanya Aleta dengan polos.


"Tidak, meskipun akan ada luka, tapi saya yakin wajahnya sangat tampan."


Tambah senang pula,hidungnya semakin panjang, kedua telinganya bermekaran seakan tidak akan layup.


Kesatria Gio tak mengkedipkan matanya, bahkan telinganya sudah ia tutup serapat mungkin.


Nona Aleta, aku berdoa semoga kamu tahu kegilaan Kaisar Fictor pada mu.


"Paman biasa saja," Aleta turun dari kursinya. "Aleta mau pulang, Aleta sudah lelah paman."


Dengan senyuman cerah di wajahnya, Kaisar Fictor menggenggam tangan Aleta kecil dan tak lupa dia menyuruh Kesatria Gio mengurus semuanya.


"Sudah, saya lelah Baginda. Begini saja, apa yang Baginda sukai, aku akan menyukainya. Baginda tidak perlu mengajak saya ke kota, cukup Baginda kirimkan saja. Maka saya dengan senang hati akan menerimanya."


Benar, apa yang aku sukai, Aleta akan menyukai dan apa yang tidak aku sukai, Aleta tidak akan menyukainya dan sebaliknya.


"Kamu janji, apa yang aku sukai kamu akan menyukainya?" tanya Kaisar Fictor dengan ide liciknya.


"Benar." Jawab Aleta dengan mantap. Dia sudah lelah melihat dan mendengarkan semua kegilaan Kaisar Fictor.


"Baiklah, kamu harus tepati janjinya. Aku akan menagihnya saat dewasa, jadi kamu jangan mengingkarinya," ujar Kaisar Fictor dengan serius.


"Aku tidak akan mengingkarinya, ibu bilang janji adalah hutang. Kenapa Baginda ingin menagihnya saat saya dewasa?" tanya Aleta. Seharusnya Kaisar Fictor meminta sekarang tidak perlu menunggu dia dewasa pikirnya.


"Karena kamu akan mengerti saat itu, Aleta. Apapun yang terjadi kamu harus menepatinya."


"Kita makan, bagaimana?"


Aleta mengelus perutnya, dia memang lapar dan butuh asupan. Cacing di perutnya kepanasan dan berkoar-koar.


"Baiklah, Baginda."


Tak terasa sore telah menyapa, Aleta dan Kaisar Fictor menghabiskan waktu bersama. Niat hati, Aleta ingin pulang,akan tetapi, melihat kegigihan Kaisar Fictor yang ingin sepuasnya menghabiskan waktu bersmaanya. Dia pun menurutinya, hingga menjelang sore keduanya pulang ke kediaman Violeta. Sesampainya di sana, Aleta dan Kaisar Fictor turun tepat di halaman luas itu. Keduanya begitu lelah, wajah kusut Aleta terlihat jelas, tetapi tidak dengan Kaisar Fictor meskipun lelah, bibirnya terus tersenyum.


"Baginda."


Violeta menyambut Kaisar Fictor dan Aleta tepat di ambang pintu setelah pelayan Mia mengatakan Aleta dan Kaisar Fictor telah sampai.


"Ibu, oh maaf maksudnya.. Duchess,saya tidak bisa berbincang-bincang lebih lama karena ada urusan mendesak," ujar Kaisar Fictor. Dia sudah membayangkan pekerjaannya yang menumpuk gara-gara menunda karena ingin bersama Aleta.


"Baiklah, Baginda. terima kasih karena waktunya dan hadiahnya."


"Iya Duchess.. "


Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Violeta, Kaisar Fictor berpamitan pulang, dan kinilah tinggal Aleta, Alfred dan Violeta.


"Bu, kapan ayah akan pulang?"


Seketika Violeta dan Alfred menoleh pada Aleta.


"Jangan membicarakan yang tidak-tidak." Seru Alfred kesal. Dia langsung meninggalkan Aleta dan Violeta yang berada di luar.


"Aleta, ibu tidak tahu."


"Maaf, Bu."


Violeta tersenyum, "Kamu tidak salah, Ibu paham kamu sangat merindukan Ayah mu.Ibu tidak melarang mu untuk bersamanya."


"Terima kasih, Bu. Aleta menyayangi mu."


"Ayo masuk!" kedua wanita itu memasuki pintu dan menghabiskan waktu bersama.