My Ex Mr Duke

My Ex Mr Duke
Penolakan dari seorang anak



Makan malam kali ini berjalan nikmat, kini Duke Arland telah merasakan seorang suami yang di layani. Violeta menyiapkan semua makanan Duke, menawarkan apa yang Duke mau. Seolah Duke Arland merasakan sesuatu yang berbeda, namun dia senang. Dulu, Violeta tidak pernah menyiapkan makan malam, termasuk menawarkannya. Baru kali ini dia melihat wanita bangsawan memasak dan menawarkan atau menaruh makanan di atas piring untuk suaminya. Biasanya masalah seperti itu, hanyalah pelayan yang melakukannya, tapi tidak bisa di pungkiri. Dia sangat suka dengan perubahan itu.


"Duke, ada apa? kenapa melihat ku seperti itu?"


"Tidak ada, aku merasa Duchess mengalami banyak perubahan." Tutur Duke Arland.


Violeta hanya menjawab senyuman. Kedua matanya beralih melihat Alfred,Aleta dan Aronz. Ketiga anaknya memakan dengan lahap.


"Alfred, bagaimana kalau ayah menawarkan agar kamu belajar tentang bisnis ayah? suatu saat nanti kamu akan menjadi seorang Duke."


"Tidak perlu, sudah ada Aronz!"


Duke Arland menghela nafas, apapun yang ia katakan.Alfred selalu membawa-bawa Aronz ke dalam percakapannya.


"Alfred, kamu anak tertua. Sudah tugas mu menggantikan diriku."


"Dan aku tidak mau,Apa Duke sudah lelah memberikan ku makan atau tumpangan di rumah ini?"


Duke Arland tersenyum di atas pisau yang mengiris hatinya. Ia lebih memilih bertempur di medan perang dari pada harus terus mencoba meluluhkan hatinya.


"Alfred!" Violeta ingin menegur, namun tangannya di genggam oleh tangan Duke Arland dan menggeleng pelan. Seakan mengatakan, biarkan saja.


"Kakak, aku tidak cocok dengan posisi itu. Kakak lebih cocok."


"Dari dulu kamu sudah didik di sini dan posisi itu lebih cocok untuk mu." Sarkas Alfred.


Duke Arland berusaha bersikap sabar atas perlakuan Alfred pada Aronz. Di sini dirinyalah yang salah, bukan Aronz. Jadi Aronz tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Alfred jangan seperti itu, Aronz saudara mu."


Alfred berhenti, ibunya memang memiliki hati lembut, jadi dia dengan mudahnya memaafkan kesalahan seseorang yang sudah membahayakan nyawanya, termasuk ibunya.


Alfred pun beranjak pergi, ***** makannya hilang seketika. Dia tidak memperdulikan Violeta yang memanggil namanya.


"Ada apa dengan anak itu? kenapa dia sangat sulit di nasehati."


"Bu, jangan terlalu memaksa kakak. Biarkan kakak memenuhi keinginannya, dan ayah, maaf. Tolong pahami kakak, aku sebagai adiknya sangat memahami perasaan kakak. Dia sudah banyak menerima penghinaan dan penghinaan, ibunya di hina dan juga dia. Bahkan kakak tidak segan main tangan. Kami sangat kebal dengan penghinaan para bangsawan dan teman-teman kami. Tidak heran jika banyak anak-anak bangsawan yang tidak mau berteman dengan kami. Biarkan Kakak menerima ayah sesuai keinginan hatinya. Untuk Aronz, maaf, tolong mengerti perasaan kakak, tidak mudah menerimanya. Bersaudara dengan seorang anak dari hubungan lain dari ayahnya."


Aleta menyusul Alfred, sebenarnya dia tidak mau mengucapkan semuanya, tapi dia tidak ingin Duke dan Aronz menekan Alfred. Ia yakin, suatu saat nanti kakaknya akan menerima semuanya. Jika mengingat semuanya, ia tidak ingin menerimanya. Menyayangi seorang adik dari hubungan gelapnya, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak menerima Aronz, semuanya tidak akan terulang kembali.


Aleta mengetuk pintu kamar Alfred, sekarang dia tidur sudah berpisah dan kamarnya pun berdampingan.


"Kakak." Aleta mendapati sang kakak yang berdiri di jendela kamarnya. Menatap langit-langit malam yang bertaburan bintang. "Maaf, apa kakak baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja," ujar Alfred. Dia mengelus kepala Aleta dengan sayang.


"Oh, benarkah. Bagaimana kalau sebelum tidur kita main ular tangga," ujar Aleta. Sudah lama dia tidak bermain ular tangga. Permainan yang aneh dan semua itu ibunya lah yang memberikannya. Permainan itu hanya keduanya yang tahu, tidak ada orang lain lagi.


Sedangkan Violeta, dia merangkul kedua bahu Aronz yang duduk di sampingnya.Menggenggam tangan kanan Aronz, ingin menguatkan hatinya. Dia selalu membelai wajah Aronz yang terus di aliri oleh air matanya. Aronz semakin mengeratkan genggamannya ke tangan Violeta. Perkataan ayahnya sangat menusuk. Ia bingung harus melakukan apa, Duke Arland sangat menutup semua tindakan ibunya.


"Ayah, ibu melakukan kejahatan. Tidak masalah jika ibu di hukum di penjara di kediaman Duke, aku pasrah, asalkan semua itu bisa menyadarkan ibu."


"Tapi jangan berharap ayah akan membebaskan ibu mu, meskipun dia berubah. Sudah untung aku tidak memenggalnya karena permintaan Violeta dan mengingat mu. Aku memikirkan perasaan mu," ujar Duke Arland. Dia mempertegas setiap ucapannya.


Aronz semakin tergugu, tidak menyangka, Duke akan mengambil keputusan secepat itu.


"Ayah sudah mengerahkan semua pengawal untuk mencari ibu mu. Semoga saja, secepatnya di temukan agar ibu mu tak membuat ulah."


"Bu,"


Violeta memeluk Aronz dan mengecup kepalanya."Sudah sayang, maaf kali ini Ibu tidak bisa berbuat apa-apa."


"Mia!"


"Saya nyonya," pelayan Mia menghampiri majikannya. "Bawa Aronz ke kamarnya." perintahnya. Ia akan membiarkan Aronz berfikir jernih dan menenangkan hatinya.


Aronz menurut, dia di bawa oleh pelayan Mia keluar dari kamar Violeta.


"Vio." Duke Arland yang sudah tidak tahan, langsung duduk berjongkok di depan Violeta. "Aku sangat lelah." Duke Arland membaringkan kepalanya di atas paha Violeta. Tangan Violeta terulur mengelus kepala Duke Arland.