MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Kaya Raya Belum Tentu Miliader



Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa, bulan Mei sudah berganti menjadi bulan Juni. Tan terus melakukan trading seperti biasanya, sesuai jadwal kerjanya, selama 12 hari.



Akibat melakukan trading secara terus menerus tanpa henti, uang terus mengalir seperti air sungai yang mengalir deras dari hulu ke hilir.



Saat ini uang di rekening telah mencapai 600. 236.321 rupiah. Bisa dikatakan dirinya telah menjadi orang kaya raya tapi belum menjadi miliarder, karena uangnya belum mencapai satu miliar.



Meskipun begitu, Tan yakin beberapa hari lagi dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu bila dia dapat terus mempertahankan keuntungan sebesar 30 juta dalam satu hari.



Dengan penglihatan ajaibnya itu, bukan tidak mungkin dia bisa terus mendapatkan keuntungan sebesar 30 juta dalam satu hari.



Para trader normal akan melakukan perhitungan dan perencanaan yang cukup kompleks untuk mendapatkan keuntungan pada tradingnya.



Namun Tan tidak perlu melakukan hal seperti itu, dia hanya menjadikan pengelihatan ajaibnya sebagai patokan dasar untuk melakukan trading.



Tentu saja dia juga membutuhkan perencanaan dan perhitungan yang baik agar bisa mendapatkan keuntungan 30 juta setiap harinya.



Penglihatan 24 jam hanyalah sebuah gambaran yang mungkin akan terjadi di waktu 24 jam kemudian. Tidak menutup kemungkinan adanya perubahan yang terjadi pada masa depan dalam waktu 24 jam tersebut.



Oleh karena itu, Tan tidak selalu bergantung dengan penglihatan tersebut. Dia juga melakukan riset dan belajar tentang menjadi trader sukses dari beberapa buku, baik cetak maupun online.



Dengan dirinya belajar, dia bisa tetap melakukan trading seperti biasanya, bila sewaktu-waktu penglihatan ajaibnya diambil lagi oleh Allah. Meskipun tanpa penglihatan ajaibnya itu, keuntungan yang diperoleh tentu saja tidak sebesar saat menggunakan penglihatan ajaib.



Dia juga tidak akan melakukan tindakan spekulatif dalam trading karena itu sama saja dia sedang melakukan judi.



Dikarenakan dirinya memiliki uang yang lebih dari kata cukup di rekeningnya, Tan setiap bangun pagi selalu tersenyum sumringah dan bahagia.



Tidak seperti sebelumnya, saat dirinya kekurangan uang dan terjerat hutang, bangun paginya selalu dengan wajah lesu, tidak ada semangatnya sama sekali untuk menjalankan aktivitas pada hari tersebut.



"Sekarang aku sudah punya uang yang lebih dari kata cukup untuk bertahan hidup, tapi apa yang harus aku lakukan dengan uang sebanyak itu?" Tanya Tan pada dirinya.



Saat ini, dirinya sedang duduk santai, bermalas-malasan di atas sofa depan tv yang menampilkan acara berita siang hari.



Dia tidak melakukan trading karena hari ini adalah hari Minggu, hari libur untuknya.



Dalam keadaan bermalas-malasan itu, dia melihat sekeliling tempat dia berada yang mana rumah peninggalan orang tuanya itu memiliki kerusakan di berbagai tempat.



Cat tembok telah terkelupas, bagian dapur mengalami kebocoran pada atapnya sehingga asbes yang menutupi atap dapur hancur karena terus menerus basah akibat terkena air hujan.



Selain itu pada kamar lamanya yang berada di lantai dua juga mengalami kebocoran akibat lapisan anti bocor yang ada di lantai rooftop sudah terkelupas.



"Rumah ini perlu renovasi." Kata Tan pada dirinya sendiri.



Dia langsung mencari jasa renovasi rumah yang ada di kotanya melalui aplikasi pencarian web di ponsel pintarnya.



Ada begitu banyak yang muncul saat dia menulis kata kunci jasa renovasi rumah di aplikasi pencarian tersebut.



Memilah-milah website jasa renovasi rumah yang muncul di aplikasi pencarian, Tan mencari kontraktor rumah yang memiliki kredibilitas bagus dan terbukti kinerjanya.



Masalah harga, Tan tidak terlalu memikirkannya karena saat ini dia memiliki uang yang cukup untuk membayar lunas saat itu juga.



Uang direkeningnya ada 600 juta lebih, jadi tidak mungkin dia tidak bisa membayar jasa renovasi itu.



Selain itu, Tan juga mencari tukang bukan untuk membangun rumah, tapi hanya untuk renovasi rumahnya.



Setelah menemukan jasa renovasi rumah yang memiliki kredibilitas dan kinerja yang bagus berdasarkan penilaian dari klien, Tan memutuskan untuk pergi ke kantor jasa tersebut esok harinya.



Usai itu, Tan kembali bermalas-malasan di atas sofa sampai hari malam pun tiba. Sebuah aktivitas yang sangat biasa bagi pria introvert akut.



Setelah selesai melaksanakan sholat Magrib yang kemudian dilanjutkan sholat Isya dengan jeda beberapa menit, Tan memutuskan untuk makan malam diluar. Meskipun isi kulkasnya penuh dengan bahan mentah yang bisa diolah menjadi makanan.



Tapi dia memilih makan di luar karena ingin mencoba makan di restoran hotel bintang lima.



Selama ini, dirinya belum pernah mencoba makan di restoran hotel bintang lima, sehingga dia penasaran bagaimana rasanya makan di restoran yang sangat mewah itu.



Dia mencari restoran hotel bintang lima melalui aplikasi pencarian dan muncul beberapa website yang memberikan informasi tentang restoran hotel bintang lima di kota Yogyakarta.



Dari sekian restoran hotel bintang lima yang direkomendasikan ada yang dekat dengan rumahnya sehingga dia memutuskan untuk pergi ke restoran hotel bintang lima tersebut.



Tan langsung berjalan ke lemari pakaiannya untuk berganti pakaian yang lebih sesuai dengan restoran hotel bintang lima daripada dengan pakaian yang dia gunakan saat ini, yakni celana training panjang dan kaos polos abu-abu.



Saat melihat pakaian yang ada di lemarinya, kebanyakan pakaian set training.



"Sepertinya aku harus membeli pakaian semi formal atau tren saat ini, setidaknya satu." Pikir Tan saat melihat isi lemari pakaiannya itu.



Dia kemudian memutuskan untuk mengganti celana trainingnya dengan celana jeans hitam yang sudah agak luntur warnanya sehingga terlihat seperti abu-abu.



Sedangkan pada tubuh atasnya, Tan melapisi kaos polos yang dikenakannya dengan jaket hoodie polos warna merah.



Bercermin untuk melihat penampilannya setelah berganti pakaian, Tan tampak puas dengan apa yang dikenakannya.



Dia langsung pergi keluar kamar menuju pintu samping rumahnya untuk keluar rumahnya, sambil memesan sebuah taksi online melalui aplikasi di ponsel pintarnya.



"Lebih baik naik taksi online daripada naik motor yang harus mencari tempat parkir di sana, lagipula memangnya ada tempat parkir motor di hotel bintang lima?" Kata Tan pada dirinya sendiri.



Saat berada di teras samping, dia langsung memakai sepatu sneaker kw yang dia beli di pinggir jalan karena sedang obral saat masih menjadi mahasiswa tingkat akhir.



Sepatu sneaker kw itu masih awet sampai sekarang karena Tan hampir tidak memakainya lagi sejak dia mendapatkan gelar sarjana hukum, meskipun saat ini warnanya sudah agak pudar meskipun jarang dipakai. Memperlihatkan bukti bahwa sepatu sneaker itu memang kualitas kw.



Menyingkirkan debu yang menempel di sepatunya itu dan kemudian memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu sneaker itu sesuai dengan tempatnya, kiri dengan kiri dan kanan dengan kanan.



Memakai sepatu tanpa menggunakan kaos kaki membuat kakinya terasa tidak nyaman. Namun karena sudah telanjur dipakai, dia malas melepaskannya lagi untuk masuk ke dalam rumah, mengambil kaos kaki.



Beberapa menit kemudian, taksi online yang telah dipesannya berhenti di depan rumahnya. Tan langsung keluar dengan sebelumnya memastikan telah mengunci pintu rumah dan lalu pintu pagar kecil.




"Ke Hotel Royal Magurukmo, mas?" Tanya supir taksi online itu saat Tan sudah masuk dan duduk di kursi penumpang bagian tengah.



"Ya, pak, sesuai aplikasi." Jawab Tan dengan singkat.



Selama perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi, Tan hanya menikmati pemandangan yang ada diluar mobil dan supir taksi online itu fokus kemudi dan jalan.



Perjalanan dari rumah Tan menuju ke hotel bintang lima hanya berlangsung sekitar 1,5-2 jam. Sedikit lebih lama dari seharusnya karena jalan menuju ke hotel bintang lima itu sedang dalam macet.



"Masuk atau tidak mas?" Tanya supir taksi online itu saat hampir dekat dengan hotel bintang lima itu.



"Masuk aja pak." Jawab Tan.



Mobil itu pun masuk dan berhenti di depan lobby luar hotel bintang lima Royal Magurukmo. Tan memberikan selembar 100 ribu pada supir taksi online itu.



"Tidak ada uang pas atau lebih kecil lagi mas?" Tanya supir taksi online itu yang melihat 100 ribu terlalu besar untuk diterimanya sedangkan biaya yang tercantum di aplikasi hanya 38000 ditambah dengan biaya masuk/parkir hotel 5000, jadi totalnya 43000 rupiah.



"Ambil aja pak semua, anggap saja tip buat bapak." Ujar Tan yang langsung keluar dari mobil tersebut tanpa perlu membuka pintu, karena petugas hotel yang berada di lobby sudah membuka pintu mobil tersebut sebagai bentuk pelayanan hotel tersebut.



"Wah, terima kasih mas." Kata supir taksi online itu dengan senyum sumringah karena mendapatkan tip yang banyak.



Meskipun dia sudah berada di depan lobby bagian luar hotel bintang lima itu, Tan tidak tahu harus menuju ke arah mana untuk ke restoran hotel tersebut.



Dia pun memberanikan diri untuk bertanya pada petugas hotel berseragam hitam yang ada di dekatnya.



"Permisi, numpang tanya, restoran hotel ini ada dimana ya?" Tanya Tan pada salah satu petugas hotel tersebut.



Petugas hotel itu langsung memberikan arahan pada Tan yang cukup singkat, padat dan jelas.



Mengikuti petunjuk dari petugas hotel itu, Tan berjalan memasuki lobby hotel dan langsung mengambil arah kiri, tempat restoran hotel itu berada.



Lobby hotel bintang lima itu terlihat mewah namun masih memperlihatkan nuansa budaya Jawa.



Tidak butuh waktu lama untuk Tan sampai di restoran hotel bintang lima yang bernama sama dengan nama hotel bintang lima itu.



Dia langsung memasuki restoran itu dengan melewati sebuah gerbang kayu ukir wayang yang menjadi pemisah antara ruangan restoran dengan ruangan lainnya di lobby hotel tersebut.



Dua pegawai restoran bergender perempuan stand by di dekat gerbang restoran untuk menyambut pengunjung restoran yang datang.



Namun salah satu diantara mereka berdua, saat melihat Tan yang berpakaian sangat biasa, sama seperti pakaian yang digunakan oleh pria yang pergi ke minimarket, perempuan itu langsung mencemooh dalam dirinya dan memberikan tatapan merendahkan pada Tan.



Pengunjung restoran di hotel bintang lima biasanya adalah para pengusaha kaya atau pekerja yang memiliki jabatan eksekutif di perusahaannya yang datang untuk menyantap makanan atau sekedar bersantai dengan klien atau rekan kerja mereka sambil membicarakan tentang bisnis atau bersama keluarga atau juga dengan kekasihnya.



Sangat jarang ada pria seperti Tan yang datang ke restoran tersebut, apalagi saat malam hari.



Bila pagi hari kebanyakan yang datang adalah para tamu hotel yang menginap karena mendapatkan pelayanan gratis sarapan pagi. Siang dan malam hari adalah jam pengunjung para eksekutif atau pengusaha sukses atau keluarga kaya raya.



"Rita, kamu aja yang layani dia, aku ogah melayani orang biasa seperti dia." Kata perempuan yang bernama Mery.



"Jangan seperti itu, bu manajer Romlah mengatakan pada kita, agar tidak membedakan-bedakan tamu yang datang ke restoran ini." Kata Rita.



Namun perkataan Rita itu diacuhkan oleh Mery dan dia bahkan mendorong Rita maju untuk menyambut dan melayani Tan.



Rita berbalik sejenak melihat rekan kerjanya itu dengan tatapan kesal karena didorong dan setelah itu langsung menyambut kedatangan Tan dengan ramah.



"Selamat datang di restoran royal Magurukmo, ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya Rita dengan sopan dan ramah sesuai dengan SOP restoran itu.



"A ... Aku ingin makan malam disini." Jawab Tan dengan gugup karena lawan bicaranya perempuan.



"Makan malam disini, emang kamu bisa bayar? Harga makanan dan minuman disini aja yang paling murah 60 ribu, belum lagi PPN dan service charge, minimal untuk makan disini biaya yang harus dikeluarkan 200 ribu." Kata Mery dalam dirinya sambil menatap hina pada Tan dibalik ekspresi wajah datarnya.



"Baik, apa tuan hanya datang sendirian?" Tanya Rita.



Pria introvert itu menganggukkan kepalanya.



"Silahkan ikuti saya, tuan." Pinta Rita yang berjalan menuju ke meja yang akan digunakan oleh Tan untuk makan malamnya.



Tan melihat pengunjung yang datang ke restoran tersebut kebanyakan berpakaian high class. Para pria memakai jas, kemeja, dan pakaian lainya yang semuanya diproduksi oleh brand terkenal, seperti H&M, The Executive, Balenciaga, Hugo Boss, Giorgio Armani, dan lainnya.



Selain itu juga, aksesoris yang mereka gunakan seperti jam tangan dan kacamata juga terlihat mewah, elegan dan branded.



Sedangkan untuk perempuan, mereka memakai pakaian yang yang cukup mewah, elegan dan tentu saja branded dengan aksesoris seperti perhiasan, tas, kacamata, jam tangan, dan lainnya yang memiliki nilai puluhan-ratusan juta rupiah.



Tidak ada yang berpakaian seperti Tan di restoran itu, yakni celana jeans kw yang sudah agak luntur warnanya, jaket Hoodie pinggir jalan dan sepatu sneaker kw.



Tan merasa insecure setelah melihat pakaian yang digunakan oleh para pengunjung restoran itu.



Sebelumnya, dia beranggapan bahwa pengunjung restoran hotel bintang lima sama seperti pengunjung restoran pada umumnya dengan berpakaian tidak terlalu mewah dan mahal seperti yang dia lihat saat ini.



Beberapa pengunjung melihat Tan dan kemudian membicarakan dirinya sambil tertawa dan memberikan tatapan mengejek.



"Silahkan duduk disini, tuan" pinta Rita yang kemudian memberikan buku menu restoran itu pada Tan yang sudah duduk di kursi yang ada di meja khusus dua orang.



Tan melihat menu makanan memiliki beberapa nama yang cukup asing dan aneh bagi Tan, seperti spaghetti Aglio E Olio. Dalam keterangan bahasa Indonesia, itu hanya mie spaghetti biasa yang disirami dengan minyak olive dan taburan bawang putih.



Lalu ada truffle fries yang tidak lain adalah kentang goreng hanya saja minyaknya adalah truffle.



"Itu nama minyaknya atau nama merk-nya?" Tanya Tan dalam pikirannya.



Dia melihat semua menu yang ada di restoran tersebut terlebih dahulu, lalu kemudian mulai memesan makanan yang ada di menu tersebut pada Rita yang mulai mencatat pesanan Tan.