
"Semuanya ... 141.183.120 rupiah, sudah termasuk PPN 11%, tuan." ujar petugas kasir yang menghitung total ponsel dan laptop yang dibeli oleh tan dengan suara gemetar.
Petugas kasir itu adalah kapten gerai tersebut dan selama dia bekerja di tempat itu baru kali ini ada penjualan yang mencapai 100 juta lebih dalam satu kali transaksi.
Mendengar total harga yang mencapai 100 juta lebih, membuat para pegawai gerai lainnya, pengunjung gerai dan Sonya terkejut dengan total harga tersebut.
"Astaga betapa kayanya pria itu?"
"Kamu akan kaget bila aku memperlihatkan uang yang ada di rekening aku." Pikir Tan yang menjawab komentar tersebut.
"Dia membeli barang sampai 100 juta, berapa uang yang dimilikinya?"
"Ada sekitar 168.633.748 miliar rupiah lebih terakhir aku lihat." Pikir Tan.
"Lihat raut wajahnya yang terlihat biasa saja meskipun total pembeliannya mencapai 100 juta, pasti uang direkeningnya ada 500 juta-1 miliar lebih, aku yakin itu!"
"Tidak, kamu salah bukan 1 miliar, tapi 100 miliar lebih." Jawab Tan dalam pikirannya.
"Apa dia generasi pertama dari keluarga konglomerat? Aku ingin tahu nama keluarganya?"
"Kamu salah lagi, aku bukan dari keluarga konglomerat, almarhum ayah aku hanya seorang pensiunan pegawai rendah di Bank Sentral Indonesia dan aku tidak ada nama keluarga dalam nama aku." Pikir Tan.
Para pengunjung gerai itu berkomentar banyak hal secara bisik-bisik maupun dengan suara normal.
Sonya merasa semakin bangga mendengar orang-orang memberikan komentar yang bagus pada kakak sepupunya itu.
Bahkan komentar itu mulai terdengar aneh oleh Tan. Membuat dia harus mengernyitkan dahinya.
"Bila dilihat-lihat, dia juga tampan, apa dia punya pacar atau istri, tidak masalah bagi aku bila menjadi orang kedua atau wanita simpanannya, aku tidak akan merasa menyesal bila menjadi menjadi wanita simpanannya."
"Maaf, aku tidak memiliki keinginan untuk menjadikan kamu sebagai pendamping hidup aku bahkan menjadikan kamu simpanan tidak pernah terpikirkan." Jawab Tan dalam pikirannya.
"Apa pria itu membeli untuk gadis itu? Dia masih terlihat sangat muda, apa gadis itu sugar baby pria itu? Betapa beruntungnya kalau benar."
"Mengapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Apa aku terlihat seperti pria cabul?" Pikir Tan yang merasa kesal karena mendengar komentar seperti itu.
"Tidak mungkin! Kalau benar akan aku panggil polisi dan KPAI agar dia dihajar oleh para narapidana."
"Tenang saja, aku pria terhormat dan taat pada perintah agama dan negara, tidak mungkin aku menyerang gadis dibawah umur, bahkan yang sudah dewasa aja aku tidak berani." Pikir Tan.
"Sial aku iri! Kenapa aku tidak bisa menjadi orang kaya sampai sekarang!"
"Rajin beribadah, banyak berdoa dan berusaha terus, jangan hanya mengeluh aja kerjanya." Jawab Tan dalam pikirannya.
Tan membeli satu ponsel brand Somay untuk dirinya, dua ponsel brand Sangsung untuk bu'lek dan Pakdenya, lalu satu ponsel dan laptop brand Aplee untuk adik sepupunya, Sonya.
"Kami bisa memberikan diskon 15% karena tuan sudah membeli produk dari gerai kami dan bila tuan membayar secara kredit dari perusahaan kredit yang bekerja sama dengan kami, tuan akan mendapatkan potongan harga 10%." Jelas kapten gerai tersebut dengan senyuman yang sangat ramah.
Sebenarnya tidak ada promo diskon yang ditawarkan oleh pihak M-box, tapi karena ini adalah penjualan yang mencapai 100 juta lebih dalam satu transaksi dan juga sudah melebihi target penjualan bulanan yang ditentukan oleh perusahaan, yakni 80 juta pada gerai M-BOX plaza Indonesia, dia memberikan kebijakan diskon seperti itu.
Bagaimanapun dia adalah pemimpin M-box di plaza Indonesia dan perusahaan memberikan kewenangan pada setiap pemimpin gerai untuk membuat kebijakan yang bisa mendorong penjualan.
Hal itulah yang dilakukan oleh kapten gerai M-BOX yang berada di plaza Indonesia. Dia memberikan potongan harga pada Tan sebagai bentuk apresiasi karena sudah membeli produk di gerai yang dipimpinnya sampai 100 juta lebih.
"Aku terima diskon 10% tapi aku tidak membayar secara kredit, aku memiliki uang untuk membayar secara tunai." Ujar Tan.
Kapten itu hanya menganggukkan kepalanya dan tidak memaksa Tan untuk membeli secara kredit. Meskipun dia akan mendapatkan komisi karena menawarkan pembelian secara kredit dari perusahaan keuangan yang bekerja sama dengan perusahaan M-box.
Tetap saja tugas utamanya adalah mengejar target penjualan bulanan, gerainya, bukan target penjualan perusahaan keuangan itu.
Kapten itu tidak ingin Tan berubah pikiran dan menjadi tersinggung karena dirinya memaksa membeli secara kredit. Lagipula dia sudah mendengar dengan tegas pelanggannya akan membeli secara tunai.
"Baik, total harga dengan diskon 10%, jadinya ... 127.064.808 rupiah tuan." Ujar kapten gerai itu dengan penuh keramahan dan sopan tanpa menghilangkan senyum sumringahnya.
"Meskipun sudah aku masukkan diskon 10%, tetap saja masih 100 juta, hahaha, aku akan membuat iri para kapten lainnya saat rapat bulanan di pusat." Pikir kapten itu.
"Oke, bisa bayar dengan debit bank NI?" Tanya Tan.
"Tentu bisa, tuan, tapi akan dikenakan biaya tambahan sebesar 15 ribu tuan karena kami memakai mesin pembayaran Bank universal." ujar kapten itu dengan semangat.
"tidak masalah, lakukan dengan cepat." Ujar Tan tegas dan singkat.
Biaya tambahan sebesar itu tidak mempengaruhi dirinya sama sekali. Dia dengan mudahnya membeli barang sampai 127.064.808 rupiah juta, tambahan 15.000 rupiah hanyalah angka kecil baginya. Bisa dianggap itu dengan mengeluarkan 150 rupiah.
Kapten itu dengan cepat melakukan proses pembayaran melalui mesin pembayaran bank universal, sedangkan para pegawai lainnya menaruh empat earphone wireless yang merupakan hadiah setiap pembelian ponsel brand apapun ke dalam tas belanja dengan logo M-BOX.
Sedangkan laptop dimasukkan ke dalam tas laptop yang juga merupakan hadiah dari gerai setiap pembelian laptop brand apapun itu.
Tan memasukkan password kartu debitnya saat mesin pembayaran bank itu diserahkan oleh kapten gerai M-BOX plaza Indonesia itu.
Orang-orang yang berada di gerai tersebut terpaku pada proses pembayaran tersebut karena mereka belum pernah melihat ada orang yang membayar sampai 100 juta lebih untuk sekali transaksi, apalagi secara tunai.
Banyak pihak laki-laki yang berada di gerai itu mengharapkan pembayaran tersebut gagal karena ternyata uang yang ada di rekeningnya tidak mencukupi untuk melakukan transaksi tersebut.
Bila itu terjadi, maka mereka bisa menghina dan mencemooh Tan dengan perasaan gembira.
Sedangkan SPG yang melayani pertama kali juga berharap transaksi tersebut mengalami kegagalan karena bila berhasil dia akan sangat menyesal selama sebulan.
Dia tidak menyangka kalau Tan akan membeli produk yang mereka jual sampai menyentuh angka 100 juta. Bila saja dia tahu dan meremehkan Tan karena bertanya brand Somay, dia tidak akan menyerahkannya pada juniornya.
Akan tetapi harapan mereka tidak terkabul karena mesin pembayaran bank universal itu mengeluarkan struk, menandakan pembayaran telah berhasil dilakukan.
"Ya Tuhan, dia benar-benar berhasil membayar."
"Ini sudah teruji kalau dia adalah pria yang berasal dari keluarga konglomerat."
"Sial aku sangat iri padanya, kenapa aku tidak dilahirkan di keluarga konglomerat?"
"Pembayaran telah berhasil dilakukan, terima kasih sudah membeli di M-box plaza Indonesia, kami tunggu kunjungan tuan selanjutnya." Ujar kapten gerai M-BOX itu dengan bersikap sopan dan ramah.
Dia mengembalikan kartu debit bersama dengan struk belanja, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan sebagai bentuk penghormatan pada Tan yang telah membeli produk di gerainya sampai 100 juta.
Tindakan itu juga diikuti oleh SPG muda yang tersenyum sumringah karena sudah memikirkan akan mendapatkan komisi besar saat gajian nanti.
Tan menganggukkan kepalanya dan sebelum mengembalikan dompetnya ke saku samping celananya, dia mengeluarkan uang 500 ribu untuk diserahkan pada SPG muda sebagai uang tip seperti biasanya.
Tentu saja hal itu membuat SPG muda dan orang-orang yang ada di gerai itu, termasuk Sonya yang sudah memakai ransel laptop dan tangan kanannya menggenggam tas belanja langsung terkejut.
"Astaga, dia memberikan uang 500 ribu pada pegawai itu?"
"Seberapa kaya sebenarnya pria itu?"
"Aku benar-benar ingin menjadi pacarnya, apa dia mau kasih aku nomor kontaknya?"
"Hei! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu saat kamu sedang pergi bersama aku?"
"Upss! Sorry ... Aku tidak sengaja mengeluarkan ucapan dalam pikiranku!"
"Sial, aku sangat iri!!!"
Mengabaikan komentar itu, SPG muda itu masih belum mengambil uang 500 ribu yang disodorkan oleh Tan. Dia merasa ragu-ragu untuk menerimanya. Melihat ke arah kapten gerai terlebih dahulu, untuk apa yang harus dia lakukan.
Kapten gerai itu langsung memberikan kode untuk menerima uang tip tersebut karena tidak ada aturan pegawai dilarang menerima uang tip. Selain itu dia juga tidak mau memberikan kesan yang buruk pada Tan bila dirinya melarang pemberian uang tip tersebut.
"Terima kasih tuan, silahkan berkunjung di gerai kami lagi tuan." Ujar SPG muda itu yang menerima uang tip 500 ribu dengan perasaan senang dan gembira dalam dirinya.
Sementara SPG senior yang mengabaikan Tan tadi semakin menyesali perbuatannya dan ingin memilikinya kekuatan membalikkan waktu sehingga dia tidak memperlakukan kesalahannya tersebut.
Tan hanya menganggukkan kepalanya dan dia langsung pergi meninggalkan gerai tersebut dengan Sonya yang mengikutinya dari belakang.
Dia sudah menarik perhatian banyak orang dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Akan tetapi dia dicegat oleh seorang perempuan cantik yang berpakaian seksi, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang hot dan juga semerbak wangi parfum yang membuat para pria menyukai harumnya.
Para pria yang melihat perempuan itu akan langsung merasa senang karena didatangi. Namun tidak bagi Tan, wangi parfum yang tercium dari perempuan cantik seksi itu hampir sama seperti gas beracun baginya. Itu terlalu kuat dan membuat merasa semakin tidak nyaman.
"Halo ganteng, apa kamu punya waktu malam ini? Aku ingin mengajak kamu untuk makan malam dan kemudian bersenang-senang." Ujar perempuan cantik seksi itu dengan suara menggoda iman para pria.
Para laki-laki yang berada di sana langsung merasa iri, bahkan yang bersama dengan pasangannya juga memperlihatkan ekspresi wajah iri pada Tan.
"Cih, apa bagusnya perempuan itu, dia hanya memakai pakaian seksi, memakai parfum mahal dan memakai makeup tebal saja, aku juga bisa seperti dirinya bila berpenampilan seperti itu." Ujar para perempuan yang ada di gerai itu dalam pikirannya.
Para pria beranggapan kalau Tan akan menerima ajakan tersebut. Laki-laki mana yang tidak mau menerima ajakan perempuan cantik dan seksi seperti perempuan itu untuk makan malam dan kemudian bersenang-senang dalam arti dewasa.
Sementara itu, Sonya yang berada di belakang Tan, tidak menyukai perempuan yang hampir sama seperti pelacur yang menggoda pria yang baik seperti kakak sepupunya menuju ke jalan kesesatan.
Dia ingin maju ke depan untuk menghalau Tan agar tidak terjebak godaan tersebut. Bagaimanapun Tan adalah laki-laki dan seorang laki-laki kebanyakan terjebak rayuan seperti itu.
Dia tidak ingin kakak sepupunya berada di jalan kesesatan.
Akan tetapi, sebelum dia maju, Tan sudah berkata, "Maaf, aku tidak menyukai makan bersama dengan orang yang tidak aku kenal, tapi terima kasih atas ajakan."
Mendengar penolakan itu membuat Sonya dan para perempuan senang.
Para perempuan merasa senang karena melihat perempuan seksi itu ditolak langsung oleh Tan dan membuat mereka semakin kagum karena Tan berbeda dengan para pria pada umumnya.
Sedangkan Sonya merasa lega karena kakak sepupunya tidak tergoda rayuan wanita yang berkelakuan pelacur itu.
Sementara itu, perempuan dan para pria terkejut mendengar penolakan secara langsung oleh Tan.
"Apa dia seorang pria?"
"Bagaimana bisa dia menolak ajakan wanita cantik dan seksi itu?"
"Jangan-jangan dia gay? Karena tidak mungkin ada pria yang bisa menolak ajakan wanita cantik seksi dan memiliki tubuh yang sangat hot."
"Kalau saja aku yang di ajaknya, tentu tanpa pikir panjang menerima, kapan lagi aku bisa pergi dengan wanita seperti itu."
Perempuan cantik seksi itu juga berpikiran kalau Tan mengalami kelainan seksual alias gay. Selama ini tidak ada pria yang menolak ajakannya bahkan para pria banyak yang mengejar-ngejarnya hanya untuk sekedar berkenalan atau mengajak makan malam yang kemudian bersenang-senang selayaknya orang dewasa.
"Aku sudah merendahkan diri aku untuk mengajak kamu keluar dan bersenang-senang, tapi kamu menolaknya, apa kamu pria normal?" Pikir perempuan cantik itu dengan penuh kekesalan dalam dirinya.
"Permisi, aku harus pergi." Ujar Tan yang menyadarkan perempuan cantik seksi itu.
"Tunggu, kalau gitu bisakah aku ikut menemani kamu berjalan-jalan di mall ini?" Tanya perempuan cantik itu yang tidak ingin melepaskan Tan begitu saja.
Dia harus mendapatkan Tan dan kemudian bersenang-senang dengannya sampai pada waktu dirinya akan meninggalkan Tan begitu saja.
"Dia akan bertekuk lutut di kaki aku dan tidak mau meninggalkan aku setelah dia merasakannya betapa hebatnya aku dalam permainan dewasa di atas ranjang." Pikir perempuan cantik itu.
Akan tetapi dia harus menelan rasa kecewanya karena Tan menolaknya secara tegas.
"Maaf, aku akan langsung pulang dan juga aku benar-benar tidak merasa nyaman berjalan dengan orang yang tidak aku kenal." Ujar Tan yang langsung pergi meninggalkan perempuan cantik itu.
Sonya yang mengikutinya dari belakang memberikan ejekan pada perempuan cantik seksi itu dengan menjulurkan lidahnya.
"Kamu pikir kakak sepupu aku sama seperti para pria hidung belang? Kamu tidak pantas berdampingan dengan bang Tan." Ujar Sonya yang kemudian lari mengejar Tan dengan perasaan senang.
"Hmpp!" Perempuan cantik itu mendengus dengan penuh kekesalan karena baru kali ini dia dipermalukan, apalagi di muka umum.
Dia pun pergi meninggalkan gerai itu tanpa memperdulikan para pria yang mencoba menghiburnya dan ingin berkenalan dengannya.