MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Pergi ke Jakarta



Waktu berjalan begitu cepat sampai tidak terasa bulan Juni telah berakhir dan berganti menjadi bulan Juli.


Tan masih terus melakukan trading setiap harinya sesuai dengan hari jam kerjanya. Dia sangat disiplin dengan apa yang telah dia tetapkan tersebut, sehingga uang di rekeningnya terus menggembung sangat besar sampai Tan tidak tahu kapan uang di rekeningnya akan mengalami kebocoran atau meletus.


Saat ini uang di rekening Tan sudah memasuki angka 100 miliar rupiah dan itu akan terus bertambah selama pengeluaran pribadinya hanya sekitar 500-800 ribu perbulan.


Dia sebenarnya tidak melakukan itu untuk berhemat, tapi memang dia tidak memiliki sifat serakah dalam membeli sesuatu. Uangnya, benar-benar hanya digunakan untuk hal-hal yang memang dia perlukan atau memang memiliki tujuan yang pasti tentang alasan dia harus mengeluarkan uang tersebut.


Dia tidak akan pernah sembarangan membeli barang yang dia tidak perlukan atau tidak memiliki alasan yang jelas karena hal itu sama saja dengan perilaku boros yang dilarang dalam ajaran agamanya.


Tan juga sudah banyak mengeluarkan uang untuk melakukan kegiatan amal, seperti menyumbangkan untuk pembangunan mesjid, sumbangan pada anak-anak yatim piatu, bahkan menjadi orang tua asuh dalam hal pendidikan pada beberapa anak yatim-piatu sampai mereka mendapatkan pendidikan tertinggi, setidaknya minimal mendapatkan gelar sarjana.


Meskipun begitu, uang Tan masih saja terus bertambah setiap harinya. Pengeluarannya tidak pernah bisa seimbang dengan pemasukan yang dia dapatkan dari trading dan investasi saham.


"Oke, sepertinya ini sudah semuanya." Kata Tan yang melihat bagasi mobilnya yang berisi dua koper berukuran 24 inchi yang baru dia beli kemarin hari, satu berisi pakaiannya untuk 1-2 Minggu dan satu lagi berisi pakaian oleh-oleh khas Yogyakarta.


Selain dua koper itu, ada juga makanan dan cemilan khas Yogyakarta, seperti bakpia panggang, bakpia kukus, yangko atau mochi Jawa, keripik belut, peyek tumpuk dan gudeg kaleng.


Melihat tidak ada yang kurang atau barang terlupakan, Tan menutup pintu bagasi mobil tersebut dan kemudian memastikan semua jendela, pintu rumah dan pintu pagar dalam keadaan terkunci.


Dia juga tidak lupa mencabut saluran gas kompor yang terhubung ke tabung gas agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat dia meninggalkan rumahnya dalam waktu lama.


Tan juga mematikan aliran listrik utama rumahnya sebagai tindakan pencegahan agar tidak terjadi korsleting atau arus pendek yang menyebabkan terjadinya percikan api yang bisa membakar rumahnya saat dirinya tidak ada.


Meskipun dia mematikan aliran listrik utama rumahnya, lampu terasnya yang menempel di dinding menghadap keluar akan tetap menyala secara otomatis saat gelap karena lampu tersebut tidak menggunakan saluran listrik rumahnya tapi menggunakan baterai yang dapat di charger dengan energi matahari.


Dia juga membeli barang tersebut untuk menghemat listrik rumahnya karena tidak perlu menghidupkan lampu utama yang ada di teras.


Setelah memastikan semuanya aman, Tan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Dia bersiap untuk menuju ke tempat rumah kerabatnya yang berada di Jakarta, yakni bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto.


Dia tidak memberitahu bu'lek Asmuni kalau dirinya akan datang kerumahnya. Ini dia lakukan untuk memberikan kejutan pada salah satu kerabat yang masih peduli dengan dirinya.


Selain itu ini akan menjadi perjalanan pertama Tan menggunakan kendaraan pribadinya untuk jarak yang cukup jauh. Dia sudah mendapatkan STNK, BPKB dan plat nomor resmi mobilnya beberapa hari yang lalu sehingga dia berani untuk membawa mobilnya keluar kota.


"Semoga tidak ada masalah dalam perjalanan ini." Gumam Tan yang menghidupkan mesin, menurunkan rem tangan, dan mengubah tuas transmisi ke huruf D dari huruf P agar mobil tersebut bisa jalan.


Perjalanan dari kota Yogyakarta ke Jakarta membutuhkan waktu sekitar delapan setengah jam bila melewati jalan tol jalur Utara.


Oleh karena itu dia Tan juga sudah menyiapkan kartu e-money yang dia beli di mini market seharga 52 ribu rupiah dan langsung di top up 1 juta rupiah agar tidak perlu mengisi ulang lagi selama perjalanan.


Tan tidak tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan selama perjalanan tersebut, tapi dia juga tidak merasa khawatir akan kekurangan uang karena di rekeningnya ada 100 miliar rupiah lebih dan dia membawa 10 juta tunai untuk pegangannya selama perjalanan.


Jam demi jam berlalu dengan cepat, tanpa terasa, Tan sudah berada di kota Jakarta yang tidak dia ketahui daerah mana dia berada saat ini.


Dia masih terjebak di jalan tol dalam kota karena macet. Dia tahu kalau kota Jakarta terkenal dengan kepadatan akan kendaraan selain dengan kepadatan penduduknya di lahan kota yang sempit.


Buruknya lagi, pria introvert itu sampai di kota kota Jakarta di saat jam pulang kantor sehingga jalanan penuh dengan kendaraan bermotor, meskipun dia di jalan tol yang seharusnya bebas dari kemacetan, dia tetap saja terjebak dalam kemacetan tersebut.


Tan sudah mengemudikan mobilnya selama 9 jam dengan berhenti sebanyak 5 kali di rest area tol. Seharusnya, dia sudah berada di titik lokasi tujuan yang ada di layar head unit yang tertanam di dasboard mobilnya tersebut, dua jam yang lalu.


Akan tetapi karena kemacetan ini membuat dia tidak sampai-sampai di lokasi tujuan.


"Bila tahu gini, aku naik kereta api atau pesawat ... Tapi akan merepotkan membawa barang sebanyak ini." Pikir Tan yang teringat kalau dirinya membawa banyak barang oleh-oleh untuk keluarga bu'lek Asmuni.


Tan terus mengikuti jalur peta yang ada di layar kecil di dashboard mobilnya itu dan beberapa meter lagi dia harus keluar dari jalan tol dalam kota tersebut.


Dia langsung mengambil kesempatan untuk pindah ke jalur kiri agar bisa keluar dari jalan tol tersebut.


Meskipun ini adalah perjalanan jarak jauh pertamanya dan belum ada satu bulan sejak dia bisa mengemudi mobil, dia melalukan semuanya dengan lancar dan santai.


Tan merasa bersyukur karena tidak ada masalah yang menimpanya selama perjalanan kecuali terjebak macet.


Dia selalu teringat dengan ucapan dari instrukturnya kalau pikiran harus tenang, tetap fokus dan jaga kondisi tubuh tetap sehat selama mengemudi mobil agar tidak terjadi kecelakaan.


Meskipun dia sudah keluar dari jalan tol, tapi tetap saja kemacetan masih harus dihadapinya, bahkan lebih parah karena kendaraan yang memakai jalan tidak hanya kendaraan roda empat atau lebih, tapi juga ada kendaraan bermotor roda dua yang menambah ruwetnya jalan tersebut.


"Aku memang harus lebih ekstra hati-hati disini." Ujar Tan yang sangat fokus pada jalan. Matanya tidak pernah lepas untuk melihat kaca spion kanan, kirinya dan spion dalam mobil.


Pengendara kendaraan bermotor di Jakarta lebih mengerikan daripada pengendara di kota Yogyakarta. Pengendara di kota Jakarta selalu dikejar oleh waktu dan tidak ada kesabaran sehingga mereka tidak peduli dengan sekitarnya selama mereka bisa sampai di tujuannya. Bahkan melanggar lalu lintas pun mereka tidak peduli.


Setelah berjibaku dengan kemacetan selama lebih dari lima jam lebih, Tan akhirnya sampai di titik lokasi tujuannya yakni sebuah hotel yang berada dekat dengan rumah keluarga bu'lekAsmuni berada di kampung Bali, yakni hotel Milenial Sirih.


Dia memutuskan untuk menginap di hotel tersebut daripada langsung menuju ke rumah bu'lekkarena jalan tempat rumah Bu'denya cukup sempit dan sangat ribet jalurnya. Selain itu tidak ada tempat parkir untuk mobilnya.


Dia akan meminta bantuan pada pegawai hotel tersebut untuk membawa barangnya ke kamar hotel yang telah dia pesan melalui secara online melalui aplikasi bernama Gogo saat berhenti di rest area tol yang terakhir.


Tan segera masuk kel lobby hotel tersebut dan langsung menuju ke counter resepsionis untuk check in.


"Selamat malam dan selamat datang di hotel Milenial Sirih, ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya petugas resepsionis pria, bernama Alexander Lemos.


"Aku mau check in atas nama Tanaka Saputra, aku udah pesan melalui aplikasi Gogo." Ujar Tan yang kemudian menunjukan bukti pemesanan dari aplikasi tersebut.


Alex melihat sejenak ponsel pintar Tan tanpa menyentuh dan kemudian dia berkata, "Mohon tunggu sebentar, tuan, akan kami periksa terlebih dahulu."


Alex segera memeriksa pemesanan tersebut di dalam sistem hotel tersebut dan pemesanan Tan memang sudah masuk.


"Baik, sudah kami konfirmasi pemesanan tuan sudah masuk ke sistem kami dengan nama pemesan atas nama tuan Tanaka Saputra, menginap selama dua Minggu dari tanggal 4 Juli 2022 sampai tanggal 18 Juli 2022, kamar yang tuan Tanaka pesan adalah kamar ... presidential suite ... seharga 4 juta per hari, total semuanya ... 56 juta rupiah ... pembayaran lunas melalui aplikasi Gogo, apakah benar, tuan Tanaka?" Tanya Alex untuk mengkonfirmasi lagi data yang masuk ke sistem operasi hotel Milenial Sirih.


Dia sedikit terkejut dengan data tersebut karena sangat jarang ada tamu hotel yang menginap di kamar presidential suite lebih dari dua hari, tapi sekarang ada yang menginap selama dua Minggu.


"Apa pria ini seorang pengusaha sukses atau generasi ke dua keluarga konglomerat?" Pikir Alex.


Tan menganggukkan kepalanya, Alex kemudian meminta kartu indentitas Tan untuk dimasukan ke dalam sistem operasi hotel sebagai pendataan tamu hotel yang menginap.


Tan memberikannya E-KTP nya pada Alex yang kemudian mencocokkan data di layar komputernya dengan data di E-KTP. Setelah terverifikasi sama, dia melakukan foto copy E-KTP tersebut sebelum diberikan kembali pada Tan sedangkan foto copy E-KTP Tan tetap bersamanya.


"Baik, ini kartu elektronik presidential suite room, nomor 401, apa tuan Tanaka memiliki barang bawaan? Bellboy kami akan membantu membawa barang bawaan tuan Tanaka sampai ke kamar tuan." Ujar Alex.


Tan segera memberitahu kalau dia memang membawa barang dan masih berada di mobil.


Alex segera memanggil pegawai Hotel yang bekerja sebagai belboy untuk mengeluarkan barang bawaan dari mobil Tan dan membawanya ke kamar presidential suite room yang telah di pesan oleh Tan.


Petugas Bellboy itu segera mengikuti Tan ke tempat parkir untuk mengeluarkan barang bawaan tersebut. Dia tidak bisa membawa trolley barang bawaan tamu karena trolley itu hanya bisa digunakan di dalam hotel sehingga Bellboy itu harus membawa terlebih dahulu barang bawaan Tan ke lobby hotel dan kemudian menggunakan trolley sampai ke kamar yang dipesan Tan di hotel tersebut.


Butuh 20 menit untuk sampai ke kamar presidential suite room yang berada di lantai 15 dengan nomor kamar 401. Tan segera membuka pintu kamar tersebut dengan menempelkan kartu elektronik yang ada di atas gagang pintu.


Pintu yang terkunci itu langsung terbuka dan Tan menekan gagang pintu ke bawah, lalu mendorongnya ke depan. Lampu ruangan tersebut belum hidup dan hari juga sudah malam sehingga dia hanya melihat kegelapan di ruangan tersebut.


Tan mencoba untuk menghidupkan lampu melalui stop kontak yang dekat dengan pintu utama ruangan tersebut. Tapi setelah di tekan beberapa kali lampunya tidak hidup.


"Kenapa tidak hidup? Apa rusak atau bohlamnya putus? Masa iya? Ruangan seharga 4 juta per hari bohlam lampunya putus, sangat memalukan sekali." Pikir Tan.


Bellboy yang berada di belakang Tan segera memberitahu Tan untuk meletakkan kartu elektronik itu ke dalam tempat tersedia sebagai alat penyalur listrik ruangan.


Tan mengikuti perkataan Bellboy itu yang setelah dia taruh kartu elektronik ke tempat yang disebutkan oleh pegawai hotel itu, lampu ruangan tersebut langsung menyala.


"Astaga malu sekali aku berpikiran kalau lampu ruangan presidential suite room putus, ternyata harus ada pemicunya untuk menghidupkan listriknya dan kartu elektronik itu adalah pemicunya." Pikir Tan.


Dia sangat mengagumi kemajuan teknologi tersebut karena terakhir kalinya dia menginap di hotel, belum ada teknologi seperti itu. Dia bisa langsung menghidupkan lampu saat itu juga


Bellboy itu segera meletakkan barang bawaan Tan di samping sofa ruang tamu presidential suite tersebut. Setelah meletakkan semuanya, Tan segera memberikan tip seperti biasanya pada Bellboy tersebut.


"Waaa ... Terima kasih tuan, terima kasih banyak." Kata Bellboy itu dengan sangat senang karena dia mendapatkan tip 500 ribu.


Tan menganggukkan kepalanya dan setelah kepergian Bellboy itu, Tan memperhatikan kamar presidential suite tersebut yang memiliki dua ruang utama. Ruang pertama merupakan ruang gabungan seperti tempat menerima tamu, bersantai, dan makan. Ruang kedua adalah tempat tidur dan ruang kamar mandi.


Tan baru pertama kalinya menginap di hotel dengan kamar presidential suite. Terakhir di menginap di hotel hanya berada di kamar standard atau kamar biasa yang cuma ada dua ruangan, tempat tidur dan kamar mandi.


Dia segera masuk ke dalam kamar tempat tidurnya untuk merasakan rasanya tempat tidur kamar presidential suite.


"Woooow, ini sangat nyaman, bahkan lebih nyaman dari tempat tidur di rumah." Gumam Tan.


Setelah berguling-guling di atas tempat tidur, dia segera bangkit dan membawa koper pakaiannya ke dalam kamar tidur. Dia membuka koper tersebut untuk mengambil handuknya karena ingin mandi.


Meskipun pihak hotel sudah menyediakan handuk di setiap ruangan, tapi tetap saja Tan lebih nyaman menggunakan handuknya daripada handuk hotel.


Dia segera menuju ke kamar mandi yang cukup luas, lebih luas daripada kamar mandi rumahnya.


Sangat disayangkan tidak ada bathtub di kamar mandi tersebut.


"Padahal aku berharap adanya bathtub agar bisa berendam dengan air yang penuh dengan busa seperti dalam film-film." Gumam Tan dengan ekspresi kecewa.


Tan harus menggunakan shower untuk membersihkan dan membuat tubuhnya terasa segar dan rileks. Dia menggabungkan air panas dan dingin sehingga air yang keluar adalah air hangat.