MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Membeli Pakaian Branded



Dalam perjalanan menyelusuri jalan kota Yogyakarta di malam hari menuju ke rumah orang tua Saras, tidak ada percakapan yang terjadi antara Tan dan Saras.



Tapi Tan menyadari kalau Saras terus menerus menatapnya sejak dia masuk ke dalam mobilnya.



"Ya, aku belajar mengemudi Minggu kemarin dan baru mendapatkan SIM nya beberapa hari yang lalu, mobil ini milik aku, tidak menyewa, aku beli sendiri secara tunai, lagian untuk apa aku menyewa mobil, itu buang-buang uang saja." Jelas Tan.



"Kamu membelinya secara tunai? Bagaimana dengan hutang kamu? Apa kamu berhutang lagi untuk membeli mobil?" Tanya Saras dengan ekspresi kaget.



"Aku tidak bodoh, Saras, tidak mungkin aku membeli mobil dengan berhutang lagi dan hutang aku sudah lunas semua, aku telah menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang bisa membuat aku bisa membeli mobil tanpa mengurangi kebutuhan hidup aku." Jawab Saras.



Saras berpikir sejenak tentang pekerjaan yang dimaksud oleh Tan. Dia berpikir berbagai pekerjaan yang menghasilkan gaji tinggi, namun bila dicocokkan dengan sifat Tan yang introvert, itu tidak mungkin dilakukan Tan.



"Sejak kapan kamu melakukan pekerjaan ini?" Tanya Saras yang penuh menyelidik.



"Sejak aku berpisah dengan kamu, aku tentu harus berubah dan harus mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup aku sehari-hari." Jawab Tan.



Saras berpikir sejenak dan masih belum menemukan pekerjaan yang dilakukan oleh Tan. "Pekerjaan apa yang bisa menghasilkan banyak uang hanya dalam waktu cepat sampai bisa membeli mobil SUV mewah seperti ini secara tunai tanpa mengurangi kebutuhan hidupnya?" Tanya Saras dalam dirinya.



Dia kemudian berpikir sebuah pekerjaan ilegal seperti kurir atau pedagang obat terlarang.



"Kamu tidak melakukan pekerjaan yang melanggar hukum kan?" Tanya Saras untuk memastikan.



"Tentu saja tidak, aku tidak sebodoh dan segila itu sampai ingin melakukan pekerjaan yang melanggar hukum." Tegas Tan, membantah tuduhan Saras.



"Baguslah, Tapi pekerjaan apa yang kamu lakukan sampai bisa membeli mobil ini secara tunai? Berapa harga mobil ini?" Tanya Saras.



Tan tidak langsung memberikan jawaban. Dia berpikir sejenak untuk memberitahu atau tidak memberitahu pada Saras tentang pekerjaannya.



Setelah dipikir-pikir, tidak ada kerugian apapun bila Tan memberitahu pekerjaannya pada mantan pacarnya itu.



"Aku melakukan investasi jangka pendek, trading dan investasi jangka panjang, membeli beberapa saham perusahaan, kebetulan investasi yang aku lakukan membuahkan hasil yang sangat bagus" jawab Tan. "Dan mobil ini seharga 1,32 miliar." Lanjutnya.



Saras terkejut mendengar harga mobil yang dibeli oleh Tan dan dia membayar secara tunai. "Apa investasi saham dan trading itu semudah itu dilakukan dan mendapatkan keuntungan banyak?"



Saras sedikit mengerti tentang trading karena sahabatnya yang dikenalnya sejak kuliah, bekerja di bidang trading pada perusahaan keuangan yang bergerak di bidang investasi trading. Sahabatnya itu telah menjadi trader sejak bekerja di perusahaan itu.



Sahabatnya itu pernah mengajak dirinya untuk berinvestasi di perusahaan itu dengan iming-iming keuntungan besar. Akan tetapi Saras menolaknya karena dia tidak terlalu yakin dengan investasi semacam itu.



Bila memang mendapatkan keuntungan banyak dengan mudah, kenapa sahabatnya itu tidak menjadi miliarder? Masih bekerja sebagai trader di perusahaan tersebut.



Dia lebih baik membeli saham beberapa perusahaan yang aman untuk investasi jangka panjangnya daripada berinvestasi di bidang trading yang ada kemungkinan kerugian lebih besar daripada membeli saham perusahaan untuk jangka panjang.



Mobil yang dibeli oleh Tan memang tidak semahal milik tunangannya yang mencapai hampir 4 miliar, akan tetapi tunangannya itu membeli secara kredit sedangkan Tan membeli secara tunai meskipun harganya 1,32 miliar, tetap saja itu miliar, bukan ratusan ribu atau jutaan.



"Dengan itu saja membuktikan kalau Tan memiliki uang banyak dari trading." Pikir Saras.



Sebuah pikiran buruk muncul dalam dirinya. "Seandainya aku bertahan sedikit lebih lama, mungkin aku bisa menikmati kekayaan yang dimiliki Tan, apa aku telah melakukan sebuah kesalahan pada keputusan yang aku ambil?" Tanya Saras dalam pikirannya.



Saras tidak perlu bertanya tentang pendapatan keuntungan yang diperoleh Tan selama melakukan trading karena dengan membeli mobil seharga 1,32 miliar secara tunai saja sudah membuktikan bahwa dia mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari tradingnya.



Selagi Saras hanyut dalam pikirannya mengenai harta kekayaan yang dimiliki Tan, mobil yang dikemudikan oleh Tan sudah sampai di depan rumah orang tua Saras yang berada di dalam salah satu perumahan yang ada di kabupaten Bantul.



"Apa kamu mau masuk untuk minum-minum teh sekalian bertemu dengan papa dan mama? Kamu sudah lama tidak bertemu dengan mereka kan?" Ajak Saras.



Tan menolaknya secara halus, bagaimanapun ini sudah malam dan juga kurang etis bertamu malam-malam apalagi di rumah perempuan yang beberapa lagi akan melangsungkan pernikahan.



Meskipun di rumah ada orang tua sekalipun tetap saja Tan merasa kurang etis melakukannya. Dia mengantar Saras, yang sudah bertunangan saja sudah merupakan perbuatan kurang etis.



"Semoga saja para tetangganya tidak melakukan ghibah tentang Saras karena hal ini." Pikir Tan.



Saras keluar dari mobil Tan dengan perasaan yang sedikit kacau dalam pikirannya.



"Sampaikan salam aku untuk Om dan Tante," kata Tan pada Saras yang berdiri di luar mobil melalui jendela kursi penumpang depan.



Saras hanya menganggukkan kepalanya dan Tan tanpa berkata apapun lagi, dia menjalankan mobilnya sambil menutup kaca jendela kursi penumpang depan dengan tombol yang ada dasboard pintu pengemudi.



Sementara itu Saras masih termenung melihat mobil Tan yang semakin menjauh dan kemudian menghilang karena berbelok.



"Apa aku benar-benar melakukan kesalahan?" Pikir Saras. "Tidak, Tan mungkin berhasil mendapatkan keuntungan dari trading tapi itu tidak bisa menjamin apakah hal itu akan terus berhasil, Harry memiliki gaji setiap bulannya dan itu lebih stabil daripada mendapatkan uang dari trading." Kata Saras yang menyakinkan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan.



Sementara itu Tan mengendarai mobil barunya itu dengan santai, menyusuri jalan malam kota Yogyakarta menuju ke sebuah makanan fast food, yakni MDonald untuk membeli Hamburger, paket ayam, dan beberapa cemilan.



Perutnya masih tersisa banyak ruang, bahkan tidak sampai sepertiga dari kapasitas lambungnya yang terisi.



Dia tidak tahu kalau Saras memikirkan tentang keputusannya salah atau tidak berpisah dengan dirinya, malah Tan tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk memikirkan hal tersebut.



Dia hanya menjalani apapun yang ada di masa depannya, baginya masa lalu, biarlah menjadi kenangan untuk dirinya entah itu kenangan bagus atau jelek.



Tan berpikir Saras dengan dirinya sudah berpisah dengan baik jadi tidak ada yang harus dipikirkan lagi tentang hal tersebut.



Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa hari pernikahan Saras dan Harry akan berlangsung esok hari, namun Tan baru menyadari bahwa dia tidak memiliki pakaian yang layak untuk menghadiri pesta pernikahan.




Dia akan menghadiri pesta pernikahan yang begitu formal jadi dia harus memiliki pakaian yang layak untuk hal tersebut.



Oleh karena itu, dia pergi ke plaza Magurukmo yang merupakan satu bagian dengan perusahaan yang mengelola hotel royal Magurukmo.



Tan pergi ke plaza tersebut dengan menggunakan mobil daripada dengan motornya karena dia sudah merasa lebih nyaman menggunakan mobil untuk jarak lebih dari 2 km dari rumahnya.



Selain itu dia juga berencana untuk membeli beberapa pakaian baru selain jenis set training dan kaos. Saat ini dia memiliki uang untuk membeli barang-barang itu.



Bila dia masih sama seperti dulu, masih memiliki hutang dan tidak ada pemasukan, tentu dia tidak ada kepikiran untuk mengisi lemarinya dengan pakaian baru dan berbeda dengan apa yang dimilikinya saat ini.



Sesampai di salah satu mall terbesar dan termewah di Yogyakarta itu, Tan segera berjalan meninggalkan area parkir bawah tanah dengan menaiki sebuah lift.



Dia harus menunggu dengan satu pasangan yang akan menggunakan lift tersebut. Pasangan itu memakai pakaian dan aksesoris yang terbilang cukup mewah yang Tan merasa harga barang yang mereka gunakan itu memiliki harga minimal satu juta.



"Sayang coba lihat dia, memakai set training untuk berjalan-jalan di mall mewah seperti plaza Magurukmo, bukankah dia terlalu percaya diri?" Bisik seseorang wanita pada pasangan.



Keberadaan pasangan itu tidak terlalu jauh dari Tan dan dia masih bisa mendengar percakapan mereka karena hanya ada mereka bertiga yang menunggu pintu lift terbuka.



Tan memang memakai pakaian set training dan sandal jepit. Jaket Hoodie dan celana jeans-nya yang hanya berjumlah satu sedang dalam proses pengeringan oleh sinar matahari setelah di cuci sebelum berangkat ke plaza Magurukmo.



"Dia hanya orang miskin, abaikan saja, pengelola plaza ini terlalu baik membiarkan orang seperti dirinya bisa masuk ke plaza mewah ini."



Meskipun pasangan itu berbicara dengan penuh kesombongan dan penghinaan tentang Tan, pria itu hanya mengabaikan pasangan tersebut, menganggap pasangan itu hanya lalat yang terbang di dekatnya.



Selama pasangan lalat itu tidak melakukan kontak fisik dengannya, dia akan terus mengabaikan pasangan lalat itu.



"Tapi kenapa dia disini, bukankah disini area parkir mobil, apa dia datang kesini dengan mengendarai mobil?" Tanya lalat betina.



"Hahaha, meskipun dia mengendarai mobil kesini, palingan mobilnya sebuah pickup, memang apalagi mobil yang pantas untuk dia kendarai selain mobil jenis itu?" Jawab lalat jantan yang tertawa menghina.



Lalat betina itu juga tertawa dan merasa sedikit bodoh karena sudah berpikiran jenis mobil yang dikendarai oleh Tan adalah jenis mobil mewah seperti mobil pasangannya, Tota Fortune seharga 500 juta.



Meskipun mobil pasangannya itu masih dalam tunggakan kredit. Namun hal itu sudah hal biasa. Berapa orang yang bisa membeli mobil secara tunai, hanya konglomerat seperti pemilik BPS, Gudang bakau, Sempurna, Jaya group dan para pemilik perusahaan besar lainnya.



Hanya para konglomerat itu yang bisa membeli mobil mewah secara tunai karena bagaimanapun harta tahunan mereka tidak lagi jutaan atau miliaran tapi sudah triliunan. Hampir menyamai anggaran daerah atau anggaran negara.



Seandainya saja mereka tahu kalau Tan memiliki pemasukan setiap harinya 30-50 juta dari trading yang tidak pernah mengalami kegagalan. Bila dihitung perbulan maka ada sekitar 5 miliar pemasukannya Tan.



Belum ada pekerjaan formal atau non formal yang bisa menghasilkan 5 miliar/bulan selain Tan. Meskipun ada trader yang mungkin bisa menghasilkan 5 miliar/bulan tapi itu hanya sekali dua kali saja tidak setiap bulannya.



Perempuan itu akan langsung menggali lubang dan menguburkan dirinya di lubang itu karena merasa malu atas pikirannya pada Tan yang dianggap sebagai pria miskin.



Pintu lift telah terbuka dan tidak ada orang di dalam lift tersebut sehingga Tan langsung masuk bersama dengan pasangan itu. Tan berdiri di pojok kanan dan pasangan itu berdiri di belakang pojok kiri, berusaha menjauh dari Tan.



Pria itu tetap mengabaikannya dan menekan tombol lantai satu karena berdasarkan papan informasi yang tertempel di atas pintu lift memberitahu keberadaan lokasi gerai fashion di plaza tersebut.



Sementara itu, pasangan yang menggunakan lift bersama dengan Tan belum menekan tombol lantai yang mereka tuju karena lantai yang mereka tuju adalah lantai satu juga.



Selama di dalam lift, pasangan itu tanpa henti terus menerus membicarakan tentang Tan dalam hal negatif. Meskipun begitu Tan masih bisa bersikap sabar atas penghinaan mereka karena dia tidak ingin mendapatkan masalah atau keributan dengan orang lain.



"Tidak ada untungnya mencari keributan dengan mereka, terus saja menghina aku, dengan penghinaan itu derajat aku akan naik, pahala akan diberikan 2x lipat dan dosa-dosa aku akan dihapuskan oleh Allah SWT." Pikir Tan.



Hanya beberapa menit, lift berhenti di lantai satu dan pintu lift segera terbuka. Mereka bertiga segera keluar dengan Tan pertama kalinya keluar.



Tan berjalan-jalan menyusuri lorong di lantai satu sambil melihat-lihat gerai pakaian yang menjual pakaian formal atau semi formal.



Setelah melewati beberapa gerai pakaian, dia berhenti di sebuah gerai pakaian dengan brand the eksklusif.



Tan tahu kalau brand itu sangat terkenal di kancah internasional sehingga dia langsung berjalan menuju ke brand tersebut.



"Sayang, dia ternyata juga pergi ke gerai pakaian the eksklusif, apa dia mampu membeli pakaian di sana?" Tanya lalat betina.



"Hahaha, tidak mungkin, harga brand itu sangat mahal, harga paling murah dari brand itu aja 35 ribu dan itu hanya sepasang kaos kaki." Jawab lalat jantan.



Selain dirinya, ternyata tanpa Tan sadari pasangan lalat juga menuju ke gerai pakaian tersebut dan pasangan lalat itu semakin menghina Tan dari belakang.



Tan memasuki gerai pakaian branded tersebut dan seorang pegawai gerai berjenis kelamin perempuan melihat kedatangan Tan.



Dia awalnya ingin menyapa Tan dan melayaninya, tapi saat melihat pakaian Tan, dia langsung berubah pikiran dan beralih ke pasangan lalat yang memakai pakaian mewah.



Tan tidak menyadari hal itu dan dia dengan santai masuk ke dalam gerai pakaian branded itu. Pria itu melihat pakaian berupa kemeja yang digantung di gerai tersebut.



Gerai pakaian branded itu tidak banyak dikunjungi oleh pengunjung plaza sehingga banyak pegawai yang bekerja di gerai itu memiliki waktu yang kosong.



Akan tetapi tidak ada satupun yang datang menghampiri Tan untuk melayaninya karena mereka melihat pakaian yang digunakan oleh Tan, tidak terlihat seperti orang yang memiliki uang untuk bisa membeli pakaian di gerai pakaian branded itu.



Meskipun begitu, tidak semua pegawai yang ada di gerai itu memiliki sikap diskriminasi dan berpikiran buruk pada pengunjung yang datang ke gerai tempat kerja mereka.