
Azrina mengeluarkan semua keluh kesahnya tentang pacarnya yang telah mengkhianati cintanya, waktunya dan bahkan uangnya selama 3 tahun.
Dia pernah beberapa kali membelikan hadiah barang mahal seperti jam, jaket, sepatu dan barang mahal lainnya sebagai hadiah untuk pacarnya itu.
Akan tetapi pacarnya sangat jarang memberikan hadiah padanya, palingan hadiah yang diberikan oleh pacarnya itu hanyalah sebuah bunga, boneka, dan coklat yang dijual di minimarket.
Meskipun begitu, Azrina tidak mempermasalahkan hal itu karena dia segitu cintanya dengan pacarnya itu dan percaya kalau pacarnya akan tetap setia padanya sampai malaikat pencabut nyawa mendatangi salah satu dari mereka berdua.
Dia tidak akan merasa sangat frustasi seperti saat ini bila saja selingkuhan pacarnya itu perempuan yang tidak dia kenal.
Akan tetapi kenyataannya menampar kedua pipinya sampai membuat dia tidak percaya hal itu akan terjadi padanya.
Pacarnya telah menjalin hubungan kekasih selama tiga bulan dengan sahabatnya dan itu semua mereka lakukan dengan sangat sempurna sampai Azrina tidak menyadari akan hal tersebut
"Aku baru menyadari saat ini, ternyata aku telah dibutakan oleh yang namanya cinta, aku tidak menyadari kalau mereka berdua bermain di belakang aku." Ucap Azrina dengan penuh kekecewaan pada pacar dan sahabatnya itu.
"Di depan aku mereka memperlihatkan sebuah akting yang cukup sempurna, bahkan akting yang mereka lakukan itu mungkin bisa memenangkan sebuah penghargaan aktor dan aktris terbaik di kancah internasional." Jelas Azrina dengan nada sinis.
Tan masih hanya diam tanpa bersuara sedikitpun, mendengar cerita Azrina dengan sangat baik.
"Bapak tahu, lebih parahnya lagi pacarku itu ... bapak pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan ini ... " Ujar Azrina dengan penuh kemarahan.
Tan memberikan ekspresi seperti orang yang penasaran.
"Sahabatku itu memberitahu kalau dia telah mengandung anak dari pacarku itu dan pada saat itu juga pacarku tidak percaya dan menuduh sahabatku berbohong, dia juga menuduh sahabatku melakukan \*\*\* dengan pria lain hanya untuk tidak mempercayai kalau kandungan di dalam tubuh sahabatku adalah anaknya, selain itu juga pacarku itu langsung menyuruh sahabatku untuk menggugurkannya, bukankah pria itu sangat brengsek dan bajingan!?" Tanya Azrina.
Tan menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan perkataan perempuan yang ada dihadapannya.
"Bagaimana bisa, seorang pria bisa bersikap tidak bertanggung jawab atas perilakunya yang telah dia buat, seharusnya kalau dia punya otak untuk berpikir, dia sudah tahu akan akibatnya akan hal yang telah dia lakukan itu." Pikir Tan dengan perasaan marah atas tidak bertanggung jawabnya mantan pacarnya Azrina itu.
"Tapi-" perkataan Azrina terpotong karena seorang pelayan pria membawa pesanan pizza.
Pelayan itu meletakkan pizza yang sudah terpotong beberapa bagian dalam bentuk segitiga di tengah-tengah meja.
Setelah pelayan itu pergi, Azrina melanjutkan pembicaraannya lagi. Tapi sebelumnya dia mempersilahkan Tan untuk menyantap hidangan pizza terlebih dahulu.
Tan hanya menganggukkan kepalanya, tapi dia tidak menyentuh pizza tersebut karena Azrina belum menyentuhnya juga.
"Tapi dengan semua ini, aku menyadari kalau diriku selama ini sangat bodoh sampai bisa dipermainkan oleh dua orang yang aku sayangi, bukankah gitu, pak?" Tanya Azrina secara tiba-tiba.
Tan terkejut saat dia ditanya secara tiba-tiba. Dia berpikir sejenak untuk memberikan jawaban yang bagus dan pas.
Selama berpacaran dengan mantan pacarnya, Saras, Tan telah belajar begitu banyak tentang wanita. Saat seorang wanita bertanya maka disitulah seorang pria harus berpikir selayaknya seorang wanita yang jawaban rasional tidak akan dapat mereka terima.
"Tidak, kak Azrina tidak bodoh, hanya saja saat itu, kakak belum mengetahuinya ... bodoh itu hanya untuk orang yang mengulangi kesalahan yang sama terus menerus atau jatuh ke lubang yang sama berkali-kali." Jelas Tan yang memberikan jawaban yang menurutnya tidak menyinggung dan juga sangat rasional.
"Begitu ya ... Jadi aku tidak bodoh?" Tanya Azrina sekali lagi.
Dia merasa sedikit senang dengan jawaban yang diberikan oleh Tan.
Tan menganggukkan kepalanya, "Ya, selama kak Azrina dapat mengambil pelajaran dari apa yang terjadi saat ini dan tidak melakukan kesalahan yang sama, maka kak Azrina tidak bodoh, tapi aku yakin kak Azrina tidak akan seperti itu." Jelas Tan.
"Kenapa bapak yakin sekali kalau aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama di masa depan nantinya?" Tanya Azrina yang penasaran.
"Apa kak Azrina menganggap diri sendiri sebagai orang bodoh?" Tanya Tan yang memberikan pertanyaan balik sebagai jawaban.
Perempuan itu langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak!"
"Nah, itu sudah dijawab sendiri, kalau orangnya sendiri tidak menganggap dirinya sebagai orang bodoh, maka dia tidak bodoh terlepas bagaimana pandangan orang terhadap apa yang dihadapi oleh kak Azrina saat ini, selama kak Azrina tidak melakukan kesalahan yang sama terus menerus maka kak Azrina bukan orang bodoh." Jelas Tan.
Azrina memberikan senyuman yang cukup menawan. Dia merasa senang kalau pria asing yang secara tiba-tiba diajak untuk mendengarkan curhatan memberikan jawaban yang cukup bijaksana.
Tidak menyinggung perasaan ataupun berempati secara berlebihan.
"Jadi menurut bapak-" ucapan Azrina terpotong oleh Tan.
"Tolong jangan panggil saya dengan pak atau bapak, saya masih bisa dikatakan muda, masih berumur 30an." Ucap Tan yang mulai merasa risih dengan panggilan bapak atau pak.
"Oh, maaf pa ... Mas, aku tidak tahu, mohon maaf, kalau gitu, mas juga jangan panggil aku dengan kakak, panggil aja Azrina atau Rina." Ucap Azrina.
Tan menganggukkan kepalanya. "Oke, Azrina juga bisa panggil aku dengan Tanaka atau Tan."
Azrina menganggukkan kepalanya dan kemudian bertanya. "Jadi menurut mas Tanaka, apa yang harus aku lakukan untuk mereka berdua?"
"Hmm ... Itu pertanyaan yang cukup susah untuk dijawab karena itu tergantung apa yang benar-benar diinginkan orang yang bertanya." Jawab Tan.
"Tapi sebagai orang luar, aku hanya bisa memberikan jawaban seperti ini, maafkan atas perbuatan yang mereka lakukan padamu, karena orang yang memaafkan kesalahan orang lain itu bisa membuat perasaan menjadi sangat lega dan damai daripada tidak melakukannya." Jelas Tan.
"Bila kamu ingin melanjutkan hubungan dengan mereka maka kamu harus memaafkan mereka berdua dan untuk pacarmu itu, minta dia untuk bertanggung jawab atas perbuatannya pada sahabat kamu itu, tapi dengan itu ... ," lanjut Tan yang menatap Azrina dengan perasaan tidak enak.
Azrina menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya untuk tetap berhubungan dengan mereka, aku tidak bisa melakukan dalam waktu dekat ini, aku merasa sangat kecewa dengan mereka, tapi untuk memaafkan perbuatan mereka itu, mungkin bisa aku lakukan dan untuk pria brengsek itu ... Dia memang harus bertanggung jawab!" Ucap Azrina dengan tegas.
Tan menganggukkan kepalanya, dia tidak memaksakan Azrina untuk mengikuti sarannya. Tan hanya memberikan jawaban yang bisa dia berikan dan itu akan menjadi Azrina yang memutuskannya.
Mereka kemudian mengobrol ke hal-hal yang lebih santai sambil menyantap pizza dan seperti biasa Azrina yang lebih banyak bicara daripada Tan.
Saat pizza yang di atas meja sudah habis, mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Azrina ingin membayar semua pesanan tersebut, tapi Tan menolaknya. Dia ingin membayar menu yang dia pesan saja.
Perempuan itu masih memaksa, tapi Tan masih bersikukuh pada pendiriannya, membayar sendiri atas pesanannya.
Mendapatkan penolakan yang kuat, Azrina menyerah sehingga mereka membayar pesanan masing-masing.
"Terima kasih sudah mau memberikan waktunya untuk menemani dan mendengarkan curhatan aku, mas Tanaka." Ujar Azrina saat berada di luar kafe Luna De Luna
"Tidak masalah, bila apa yang aku lakukan ini dapat meringankan masalah kamu, aku merasa senang dan bersyukur bisa membantu." Ucap Tan dengan penuh ketulusan.
Tan hanya tersenyum dan kemudian memberikan helm ojolnya pada perempuan itu.
"Tidak usah, aku bisa jalan kaki, tidak jauh juga dari sini dan juga ... "
Azrina mengambil selembar uang 100 ribu dari dalam tas selempangnya.
"Ini 100 ribu untuk bayaran yang telah aku janjikan sebelumnya." Ujar Azrina sambil menyodorkan selembar uang kertas 100 ribu pada Tan.
"Tidak perlu, simpan saja uangnya, aku memang sudah berniat untuk membantu kamu dengan ikhlas." Ujar Tan yang menolak.
Azrina masih ngotot untuk Tan menerima uang tersebut, tapi Tan lebih ngotot lagi untuk menolaknya karena dia sudah berniat untuk membantu tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Dia terus menyodorkan helm itu pada Azrina dan berkata, "Biarkan aku membantu kamu sekali lagi."
Azrina melihat ekspresi wajah Tan yang tidak menerima penolakan.
"Hahhh~ baiklah."
Dia hanya bisa menyerah, menerima helm ojol itu untuk dipakai di kepalanya.
Tanpa menunggu waktu yang lama lagi, perempuan itu naik ke motor matic Tan, duduk di bagian jok belakang Tan.
Merasa penumpangnya sudah siap untuk berangkat, Tan segera melajukan motornya menuju ke tempat kediaman Azrina yang tidak jauh dari kafe tersebut.
"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih sudah mau menuruti keegoisan aku, mas Tanaka." Ucap Azrina yang turun dari motor dan tidak lupa menyerahkan helm ojol pada Tan.
"Ya, sama-sama, kalau gitu aku permisi dulu." Ucap Tan yang ingin pergi.
"Ah, tunggu sebentar." Cegah Azrina.
Tan kembali menoleh ke arah perempuan itu.
"Bolehkah aku menyimpan nomor mas Tanaka?" Pinta Azrina dengan ragu-ragu.
Tan menganggukkan kepalanya. "Tentu, tidak masalah." Ucap Tan dengan santainya.
"Terima kasih, apa mas Tanaka ada WA?" Tanya Azrina lagi.
"Ya, ada, nomornya sama dengan nomor yang terhubung di aplikasi ojol itu." Jawab Tan masih bersikap santai.
"Oke, jadi bolehlah aku kirim pesan WA ke mas Tanaka sewaktu-waktu?" Tanya Azrina.
"Tentu saja boleh, tidak ada yang melarangnya, tapi aku beritahu saja padamu terlebih dahulu, aku jarang buka WA, jadi mohon maaf bila balasannya cukup lama." Jelas Tan.
Azrina menganggukkan kepalanya dan kemudian dia melihat Tan pergi meninggalkan dirinya.
Tan pergi menuju ke lokasi tempat biasa dia menunggu orderan di tempat biasa dia ngetem saat di kota baru.
Saat sampai di lokasi, dia melihat rekan ojol yang dia kenal sudah ada di tempat itu yang juga sedang menunggu orderan.
"Wiii, kayaknya gacor ney?" Sahut Amer saat Tan berhenti di pinggir trotoar dan memarkirkan motornya di tempat itu.
"Gacor apaan, aku baru pecah 3, itupun dari pagi, jam setengah 7." Ucap Tan.
"Bagaimana denganmu, pasti sudah pecah lebih dari sepuluh saat ini?" Tanya Tan.
"Gak juga, aku baru pecah 9" jawab Amer. "Hari ini sedikit sepi, jedanya kebanyakan lebih dari 2 jam." Lanjutnya.
Ucapan Amer itu juga di dukung oleh Faisal dan Wantoro, mereka berdua juga merasakan orderan lagi sepi. Faisal baru saja pecah 6 dan Wantoro 9.
Tan langsung bergabung dengan mereka bertiga, meskipun dia hanya mendengarkan obrolan mereka bertiga sambil fokus pada layar ponsel pintarnya yang menampilkan trading forex.
Dia sudah membeli beberapa forex yang harganya akan naik tinggi nantinya.
Selagi Tan fokus pada layar ponsel sambil tetap mendengarkan obrolan tiga rekan ojolnya itu, tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telepon dari aplikasi WA.
Dia hanya melihat nomor, tidak ada nama yang berarti nomor itu belum tersimpan di list kontaknya.
Sebenarnya, Tan tidak akan menerima panggilan telepon yang tidak terdaftar dalam list kontaknya, tapi dia teringat akan costumernya, Azrina.
"Mungkinkah ini nomor perempuan itu?" Pikir Tan.
Selagi Tan berpikir, tiba-tiba Faisal bertanya, "Kenapa tidak dijawab telpon itu, bang?"
Pada saat itu juga panggilan telepon WA itu berakhir.
"Mau juga di- "ucapan Tan terpotong karena dia mendapatkan panggilan telepon WA dari nomor yang sama lagi.
"Assalamualaikum, halo?" Ujar Tan yang menerima panggilan telepon WA tersebut.
"Halo, mas Tanaka, ini aku, Azrina, ini nomorku, tolong disimpan ya?" Pinta Azrina.
"Ok, aku akan menyimpannya." Jawab Tan dengan singkat.
"Mas Tanaka, sekali lagi terima kasih sudah mau mendengarkan curhatan aku ... kalau lain kali aku butuh bantuan mas, bisa?" Tanya Azrina.
"Tidak masalah, selama aku bisa membantu, akan aku bantu." Jawab Tan.
Azrina tersenyum senang mendengarnya dan kemudian dia mengakhiri panggilan itu dengan sedikit basa basi sebelumnya.
Setelah itu, Tan kembali melihat trading forex nya yang sudah hampir di angka yang diinginkan sehingga dia langsung menjual di harga yang sesuai dengan apa yang dilihatnya dengan penglihatan supernya itu.
Selagi Tan sedang asyik dengan trading forexnya, satu persatu rekan ojolnya mendapatkan orderan dan meninggalkan Tan sendirian di tempat itu yang belum juga mendapatkan orderan.
Meskipun begitu, dia tidak gelisah ataupun ngeluh melihat rekan ojolnya pergi meninggalkan dirinya karena orderan yang mereka terima karena Tan mengojol juga hanya untuk menghabiskan waktu hariannya daripada berada di rumah terus menerus sepanjang hari.