
Mendengar nama Tan disebutkan oleh MC, kedua orang tua Saras terkejut. Mereka mengarahkan pandangannya ke anak perempuan yang terlihat biasa bahkan menantu mereka juga bersikap biasa seperti tidak ada hal yang membuat mereka khawatir seperti yang dirasakan oleh mereka berdua.
"Sayang, apa Saras mengundang pria pecundang itu?" Tanya ibu Saras pada suaminya.
"Sepertinya begitu, kalau tidak, bagaimana bisa pria yang gak punya masa depan itu datang kesini, tamu yang bisa datang hanya yang memiliki undangan saja." Jawab ayah Saras.
"Dan sepertinya menantu kita juga mengetahuinya, dia terlihat biasa aja atau karena dia tidak tahu kalau mantan pacar anak kita datang?" Lanjut ayah Saras.
Ibu Saras menganggukkan kepalanya dan dia mulai berpikiran negatif tentang Tan.
"Sayang bagaimana kalau pria pecundang itu membuat keributan, membuat acara ini menjadi berantakan karena tidak menerima anak perempuan kita menikah Harry bukan dia?" Tanya ibu Saras.
Dengan ekspresi seram dan serius, ayah Saras menjawab, "Kalau dia berani berbuat seperti itu, akan aku patahkan kaki dan tangannya biar dia lumpuh selamanya."
Ibu Saras yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dan masih merasa khawatir. Dia berdoa agar hal tersebut tidak terjadi.
Tan berjalan menuju ke pelaminan dan dalam waktu itu juga, banyak tatapan para tamu undangan yang terpana oleh wajah dan penampilan Tan. Para perempuan yang masih muda, baik sudah memiliki pasangan, sudah menikah, ataupun sendirian berharap kalau Tan menjadi pasangannya.
Begitu juga dengan perempuan yang sudah hampir mendekati 40 tahun yang masih sendirian, berharap kalau Tan adalah suaminya.
Tan berjalan dengan penuh percaya diri meskipun rasa gugup menyerang terus menerus dirinya agar kepercayaan dirinya menghilang.
Dia harus membangkitkan percaya diri dan berjalan dengan mantap menuju ke pelaminan sebagai bentuk kebahagiaannya atas pernikahan Saras dan Harry.
"Sayang, apa itu pria pecundang itu atau orang lain yang kebetulan namanya sama?" Tanya ibu Saras yang terkejut dengan penampilan Tan sangat berubah dari apa yang mereka lihat selama ini.
Dia merasa ragu saat melihat Tan dan berpikir kalau pria yang dilihatnya bukanlah Tan.
"Tentu saja itu orang lain yang memiliki nama yang sama dengan pria miskin dan tidak punya masa depan itu, tidak mungkin mantan pacar Saras memiliki penampilan seperti pria itu." Kata ayah Saras dengan penuh yakin.
Dia merasa penampilan dari pria yang dianggap memiliki nama yang sama dengan Tan terlihat lebih keren dan kaya daripada menantunya.
"Bila dia yang menjadi menantu aku, mungkin hidupku akan dipenuhi dengan kebahagiaan." Pikir ayah Saras.
Akan tetapi dia langsung membuang pikirannya itu karena menantunya saat ini sudah teruji kualitasnya sebagai menantu sedangkan pria yang terlihat keren dan kaya itu belum teruji apa dia memang banyak uang seperti menantunya atau tidak.
Tan menaiki pelaminan dan menyapa pada ayah dan ibu Saras sebelum menghampiri pengantin.
"Selamat pagi om, Tante, selamat atas pernikahan Saras." Ujar Tan dengan sopan dan tersenyum.
Ibu Saras dan ayah Saras tertegun mendengar sapaan Tan yang terdengar sangat akrab.
"Apa kamu teman Saras? kita pernah bertemu nak?" Tanya ibu Saras dengan suara lembut dan sopan.
Tan tersenyum sejenak dan berkata, "ya, saya teman Saras, tentu saja saya dan Tante pernah bertemu, saat saya selalu ingin pergi keluar dengan Saras, saya pasti minta ijin dulu sama Om atau Tante."
Mendengar itu membuat ayah dan ibu Saras terkejut. Mereka tidak menyangka kalau pria yang sedang berdiri di hadapan mereka adalah mantan pacar anak perempuannya yang dianggap sebagai pria pecundang, miskin dan tidak punya masa depan.
"Kamu benar-benar Tanaka, mantan pacar Saras?" Tanya ibu Saras untuk memastikan.
Tan menganggukkan kepalanya dan itu membuat ibu Saras ingin pingsan karena sudah berpikir sangat negatif tentang Tan. Dalam pikirannya muncul bayangan kalau Tan akan membuat kekacauan di pesta pernikahan Saras.
"Mau apa kamu kesini? Apa kamu ingin menghancurkan pernikahan Saras? Awas aja kalo berani!" Kata ayah Saras dengan ekspresi seram dan serius menatap Tan.
Mendengar itu tentu saja Tan terkejut dan menghela nafas. Dia berkata, "Saya datang kesini karena di undang oleh Saras dan juga tidak ada keinginan untuk membuat keributan, saya dan Saras sudah berpisah dengan baik jadi tidak ada yang tersakiti, saya hanya ingin mengucapkan selamat padanya dan ikut merayakan kebahagiaan atas pernikahan ini, Om." Jelas Tan.
Dia segera berjalan menuju ke pengantin, tidak menunggu respon dari ayah Saras karena waktu yang diberikan hanya lima menit untuk berada di pelaminan.
"Tan, kamu datang, terima kasih." Ujar Saras dengan ekspresi senang.
Tan menganggukkan kepalanya, "Tentu saja aku datang, kamu yang mengundang aku, tidak mungkin aku tidak datang, selamat atas pernikahan kamu, Saras, Harry, semoga kalian bisa menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah." Kata Tan sambil bersalaman dengan Harry.
"Tentu, tapi kamu terlihat sangat berbeda dengan pertama kali kita bertemu, apa ini penampilan asli kamu?" Tanya Harry yang terkejut dengan penampilan Tan yang sangat keren.
Harry berpikir Tan adalah tokoh utamanya dalam acara pernikahannya, bukan dirinya atau Saras.
Sebenarnya Saras juga terkejut dengan penampilan Tan yang sangat berubah dari yang dia ketahui. Bahkan saat wisuda saja dia tidak berpenampilan keren dan menakjubkan seperti saat ini.
Saras berpikir kalau pria yang didepannya bukanlah Tan yang dia kenal tapi orang lain yang memiliki nama yang sama dengan mantan pacarnya itu.
"Tidak, ini hanya penampilan khusus untuk acara pernikahan kalian berdua, aku merasa akan menghina kalian berdua bila aku pergi dengan penampilan asli aku." Jelas Tan.
"Dengan penampilan seperti ini bukankah itu sebenarnya menghina atau mengejek aku, sial! kenapa dia terlihat keren hanya menggunakan pakaian formal dengan rambut pendek seperti itu?" Pikir Harry.
Bila Tan datang dengan penampilan biasanya dia tidak akan merasa gusar karena dirinya masih menjadi tokoh utama dalam acara pernikahannya.
Tan segera mengambil posisi untuk berfoto dengan pasangan pengantin. Dia berdiri di samping Harry. Namun suami Saras itu meminta Tan untuk berdiri di samping Saras agar terlihat bagus.
Sebenarnya Harry, hanya tidak ingin Tan yang berpenampilan keren berada disampingnya agar orang-orang yang melihat tidak membandingkan dirinya dengan Tan.
Tan sedikit ragu berdiri di samping Saras karena bagaimanapun tidak sopan dekat dengan istri pria lain meskipun dirinya dan Saras saling kenal dan bahkan pernah menjalin cinta kasih.
Tapi karena waktunya semakin sedikit dan itu atas permintaan Harry sendiri sebagai suami Saras, Tan menurutinya.
Dia segera berdiri di samping Saras dengan menjaga jarak beberapa centi dan bergaya natural, tidak senyum terlalu berlebihan atau cemberut, ekspresi datar.
Setelah berfoto, Tan turun dari pelaminan itu dengan memberikan selamat sekali lagi pada Saras dan Harry atas pernikahannya. Dia juga bersikap sopan pada kedua orang tua Harry.
Meskipun begitu bila ada tamu yang baru datang atau sudah datang tapi tidak ada di list buku tamu awal bisa langsung menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat dan berfoto.
Tan sebenarnya ingin pulang setelah acara intinya sudah selesai, namun karena lambungnya sudah berbunyi, dia mengurungkan niatnya untuk pulang.
Dia harus mengisi lambungnya dulu baru setelah itu dia pulang.
Keluarga yang duduk semeja dengan Tan telah menghilang entah kemana setelah acara inti ditutup oleh MC.
Tan tidak terlalu memikirkan mereka karena keluarga itu bukan keluarga Tan dan dia juga tidak mengenal mereka.
"Enaknya makan apa dulu?" Pikir Tan sambil melihat-lihat meja yang berisi makanan utama, pencuci mulut, dan cemilan.
Dia segera menuju ke meja hidangan prasmanan untuk mengambil makanan utama sebagai menu pertamanya.
Dalam prasmanan tersebut terdapat dua macam nasi, yakni nasi uduk dan nasi goreng. Tan mengambil nasi goreng dengan lauk dua rendang sapi, dua tusuk sate ayam, dua sendok udang pedas manis dan kerupuk putih. Sedangkan minumnya, es lemon teh.
Dia segera berjalan menuju ke tempat duduknya meskipun tidak ada kewajiban untuk duduk ditempat yang telah ditentukan untuk saat ini. Para tamu undangan bisa duduk di manapun yang mereka inginkan.
Tan memilih tempat duduk semula karena tempat itu di pojok, jauh dari meja prasmanan jadi sangat jarang ada yang makan di tempat tersebut.
"Eh? Ternyata ada orang yang sudah menempati kursi di meja itu."
Tan terkejut karena ada dua orang yang menempati dua kursi yang ada di meja tersebut. Dua orang itu adalah perempuan yang sedang sup buah dan es krim.
Tan ingin mengurungkan niatnya untuk duduk di sana, tapi setelah melihat satu meja digunakan 3-6 orang untuk menyantap makanan yang mereka ambil, Tan tetap berjalan menuju ke meja pojok tersebut karena meja itu hanya digunakan oleh dua orang saja.
"Permisi, boleh aku duduk disini?" Tanya Tan meskipun tempat duduk yang dipilihnya adalah tempat duduk awalnya. Sedangkan dua wanita itu duduk dengan jarak satu kursi kosong dari kursinya.
Dua perempuan itu berhenti menyantap es krim dan sup buah, menatap Tan dan seorang perempuan berwajah sangat cantik, manis, penuh dengan karisma pada tatapannya.
Sedangkan perempuan satunya lagi memang terlihat cantik tapi hanya cantik biasa secara umum saja, kalah dengan perempuan cantik dan berkarisma di sebelahnya.
Sedangkan perempuan yang Dudi bersebelahan dengan perempuan cantik itu menatap Tan dengan pandangan tajam dan menyiratkan agar Tan untuk duduk di kursi lain.
Sangat disayangkan, Tan tidak menyadari hal itu karena dia segera duduk di kursi awalnya dan hanya sibuk dengan makanannya tidak ada keinginan untuk mengajak bicara basa-basi dengan dua perempuan itu.
Bukan karena sombong atau bergaya sok cool, tapi dia sangat gugup bila berbicara dengan lawan jenis sehingga tidak tahu topik apa yang bisa dibicarakan.
Dua perempuan itu melihat tumpukan makanan yang ada di piring Tan yang hampir menjadi sebuah gunung. Mereka berdua terkejut dengan porsi yang diambil oleh Tan.
"Hmp! Penampilannya keren dan seperti eksekutif muda, ternyata pria udik." Pikir perempuan yang bersebelahan dengan perempuan cantik berkarisma.
Mereka berdua hanya duduk dengan menyibukkan makanan mereka masing-masing. Tidak ada satupun yang berbicara.
Perempuan cantik berkarisma itu sudah selesai dengan sup buahnya, meskipun masih banyak yang tersisa.
Dia juga tidak ada keinginan untuk mengambil makanan lainnya dan ingin beristirahat di dalam kamar hotel Peace yang sudah dipesannya selama satu hari.
Tapi dia melihat sekretaris pribadinya masih belum selesai dengan es krimnya sehingga dia membiarkan sekretarisnya itu menghabiskan terlebih dahulu tanpa memberitahu kalau dirinya sudah selesai.
Selagi menunggu sekretarisnya selesai dengan es krim tersebut, dia mengalihkan pandangannya ke sekitar sampai akhirnya jatuh pada Tan yang sedang menyantap nasi goreng dengan penuh lauk tersebut.
Dia menatap Tan sejenak dan sedikit merasa aneh pada Tan. Biasanya para pria akan mendekati dirinya dan mengajak mengobrol sambil melontarkan pujian dan gombalan untuknya.
Dia juga berpikiran sama saat Tan meminta ijin untuk semeja dengannya. Perempuan itu tidak pernah menolak orang yang bersikap sopan, jadi dia mempersilakan Tan untuk duduk dan kursi yang ada di ballroom hotel ini juga bukan miliknya jadi siapapun bisa memakainya tanpa perlu ijin darinya.
Dia telah menunggu Tan untuk berbicara dengannya pertama kali saat sudah duduk, tapi yang ditunggu-tunggu tidak datang juga. Bahkan perempuan itu melihat Tan hanya sibuk dengan makanannya.
"Porsi makanan kamu banyak sekali, pak, apa kamu dapat menghabiskan semua itu?" Tanya perempuan cantik berkarisma itu yang untuk pertama kalinya dia yang membuka obrolan pertama selain dalam kondisi tertentu seperti bertemu dengan klien atau mitra bisnis.
Tan terkejut dengan perempuan cantik berkarisma itu mengajak bicara padanya. Sekertaris perempuan cantik berkarisma itu juga terkejut dengan bosnya itu membuka obrolan pertama selain dalam keadaan bertemu klien atau mitra bisnis.
Tan menelan makanannya terlebih dahulu dan kemudian menjawab. "Hahaha, begitukah? Aku belum sempat sarapan pagi, jadi ini sekalian aku gabung dengan makan siang." Ujar Tan dengan ramah.
"Hmmm~ ah ya, perkenalkan aku ... " Perempuan cantik berkarisma itu berhenti sejenak dan memberikan tanda pada sekretarisnya yang langsung membuka tas tangannya dan mengeluarkan selembar kertas untuk diberikan pada bosnya itu.
"Ayunindya Batari Jayantaka, direktur pemasaran dan pengembangan perusahaan Jaya group." Ujar Ayunindya sambil memberikan kartu namanya yang tertulis nama panjangnya, gelar pendidikannya, jabatan nama perusahaan, serta alamat, dan nomor kontak bisnis. Bukan nomor kontak pribadi.
Tan menerima kartu nama Ayunindya dan saat mendengar nama perempuan itu, dia merasa akrab dan pernah mendengarnya di suatu tempat.
"Aku Tanaka Saputra ... Penga ... bekerja di bidang investasi saham dan trading, maaf, aku tidak memiliki kartu nama, senang berkenalan denganmu, mbak Ayunindya." Jawab Tan yang sempat ingin mengatakan pengangguran, tapi langsung diganti sebagai investor.
Dia sudah tidak lagi menjadi pengangguran tapi menjadi seorang investor.
"Apa nama perusahaan investasi tempat pak Tanaka bekerja? Mungkin aku bisa berinvestasi melalui perusahaan tempat pak Tanaka bekerja." Tanya Ayunindya.
Tan menggelengkan kepalanya, "aku tidak berinvestasi atas nama perusahaan investasi manapun, tapi aku berinvestasi dengan atas nama aku sendiri." Jawab Tan dengan singkat.
Ayunindya menganggukkan kepalanya dan dia langsung merekam nama Tan dan wajahnya dalam ingatannya karena bisa sewaktu-waktu perempuan itu menawarkan Tan untuk berinvestasi di perusahaan Jaya group.
Berdasarkan pengamatannya secara luar pada Tan, Ayunindya berpikir kalau Tan adalah investor ritel yang sukses.
Tidak ada investor yang gagal atau amatir mau membeli pakaian dan aksesoris branded yang harganya mencapai jutaan rupiah.
Bila ada investor seperti itu maka, bisa dikatakan investor itu adalah orang bodoh dan tidak bisa diajak kerjasama. Tapi Tan tidak terlihat seperti itu dalam penglihatan Ayunindya.