
Selesai mandi, Tan langsung mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang kemudian handuk itu dipakainya untuk menutupi bagian pinggang sampai lutut.
Dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan setengah telanjang. Ada jubah handuk di kamar mandi tersebut, tapi Tan merasa lebih nyaman melakukan seperti biasanya di rumah.
Rasa ngantuk langsung menyerang dirinya karena efek dari mandi air hangat. Meskipun begitu, dia harus menahannya karena dia harus sholat Isya.
Tan telah melewatkan sholat ashar dan Maghrib karena tidak menemukan rest area saat mendekati Kota Jakarta. Jadi dia tidak ingin melewatkan sholat Isya.
Dia segera menuju ke kamar mandi lagi setelah menggunakan pakaian seperti biasanya, yakni celana training hitam dengan garis merah putih emas secara vertikal dan kaos polos warna hitam. Meskipun Tan membawa jenis celana lainya, dia masih lebih nyaman menggunakan celana training.
10 menit kemudian Tan telah selesai dengan sholat Isya serta dzikir dan doanya. Dia melihat jam melalui ponsel pintarnya, tertera jam setengah sebelas malam dan dia merasa lapar.
Tan segera menelpon resepsionis melalui telpon yang ada ruang pertama untuk menanyakan apakah restoran hotel tersebut masih beroperasi.
"Selamat malam, dengan saya, Nurman bagian resepsionis hotel Milenial Sirih, ada yang bisa saya bantu?" Sapa petugas resepsionis yang bernama Nurman tersebut.
"Aku ingin tanya, apa restoran hotel ini masih beroperasi?" Tanya Tan.
"Oh mohon maaf, tuan, restoran Sirih telah tutup sejak jam sepuluh malam tadi ... " Ujar Nurman dengan ramah dan membuat Tan merasa kecewa karena dia tidak bisa makan malam.
Dia ingin keluar untuk mencari restoran atau cafe atau tempat makan yang masih buka, tapi saat ini dia berada di Jakarta dan tidak tahu mau mencari dimana. Selain itu jalan lalulintas Jakarta terlalu ribet, tidak segampang jalan lalulintas di Yogyakarta. Jalan pergi dan jalan pulang bisa berbeda jalannya.
"Tapi untuk tamu yang menginap di hotel kami, pelayanan masih bisa dilakukan sampai jam 12 malam, tapi makanannya akan diantar ke kamar, tidak bisa dimakan di restoran, tuan." Lanjut Nurman yang membuat Tan merasa lega.
"Syukurlah, kalau begitu apa saja menunya?" Tanya Tan.
"Tuan, bisa lihat buku menu yang ada di samping telpon atau di dalam laci." Jawab Nurman.
"Tunggu sebentar, hmmm ... Aku pesan nasi goreng istimewa, tongseng kambing, chicken cream soup, dan orange smooth." Ujar Tan yang memesan banyak makanan.
"Baik, pesanan tuan akan segera diantar ke kamar tuan, bisa tuan beritahu pada saya, nomor kamar tuan?" Tanya Nurman.
"401." jawab Tan dengan singkat.
Nurman langsung data pemesanan tersebut ke sistem operasi restoran yang akan langsung ditindaklanjuti oleh pihak restoran.
Setelah itu, pembicaraan langsung berakhir dan Tan langsung kembali ke kamarnya, berbaring di atas tempat tidur yang empuk dengan AC terus menerus mengeluarkan udara sejuk.
Dalam posisi berbaring itu dia mengirimkan pesan WhatsApp ke Sonya, adik sepupunya, anak perempuan satu-satunya bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto yang akan memasuki masa ABG SMA.
"Assalamualaikum, kamu belum tidurkan Soya?" Tanya Tan pada Sonya dengan panggilan Soya karena itu simpel dan singkat daripada Sonya.
Dia menatap ponselnya, menunggu balasan dari Sonya. Lima menit, belum juga ada balasan dan centang pesannya belum berubah warna biru yang berarti pesannya belum dibaca atau dibuka.
"Apa dia sudah tidur?" Pikir Tan.
Beberapa menit kemudian, balasan dari Sonya tiba. "Waalaikumussalam, belum, Napa? Tumben kirim pesan wa ke Soya, ada angin apa ney, bang Tan?" Tanya Sonya.
"Tidak ada angin apa-apa, hanya mas tiba-tiba teringat Soya dan merasa kangen aja sama kamu, hahaha, kata Bu'de, kamu selalu tanya kapan mas datang ke rumah?" Canda Tan.
"Bang Tan kepalanya terbentur pohon semangka? Atau lagi cium lem abon? Ngomongnya ngaco, kapan Soya bilang kayak gitu sama nyak?" Tanya Sonya yang gak terima dengan perkataan Tan.
"Lah, bu'lek Asmuni sendiri yang bilang ke bang Tan seperti itu, katanya, bang Tan kapan datang ke rumah, Sonya udah kangen dan ingin main dengan bang Tan, gitu bu'lek bilang ke aku." Jelas Tan sambil menahan tawa karena dia sedikit melebih-lebihkan.
"Ngaco, gak pernah ya, Soya ngomong kayak gitu dan tidak akan pernah seumur hidup! Titik! ... jadi ada apa ney? Langsung to the points aja, gak usah basa-basi lagi, Soya mau lanjutin nonton Drakor." Tanya Sonya yang ingin langsung to the points tidak ada lagi basa-basi.
"CK, kamu ini, nonton Drakor terus, belajar napa, biar jadi pintar, bukan jadi bucin." Jawab Tan yang menasehati Sonya.
"Belajar cukup di sekolah aja, masa 24 jam belajar terus menerus, bisa meledak otak ney, bang Tan tahu gak kalau banyak belajar itu bukan tambah pintar tapi tambah stress yang berakhir dengan bunuh diri, bang Tan mau Soya bunuh diri karena kebanyakan belajar?" Jelas Sonya yang membuat Tan terkejut.
"Soya sedang stress saat ini? Ingat bunuh diri itu dosanya lebih besar dari pembunuhan, dan jangan sampai Soya punya pikiran seperti itu, kasihan bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto." Ujar Tan yang menasehati.
"Ya gak lah! Soya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, seumur hidup! Titik! Cuma bercanda aja tadi, bang Tan serius amat, dah lah, bang Tan mau ngomong apa Ney? Kalau gak penting, Soya abaikan pesan bang Tan, ganggu nonton Drakor aja bang Tan ini." Kata Soya yang mulai agak kesal.
Tan hanya tertawa melihat pesan itu, dan mengirim pesan, "Ya, ya, terus aja jadi bucin karena Drakor ... Soya masih libur? Besok ada acara apa tidak?" Tanya Tan.
"Biarin jadi bucin, daripada jadi stress karena banyak belajar, weee!" Ujar Sonya dengan mengirim emoticon mata berkedip satu sambil mengeluarkan lidah.
"Soya masih libur sampai tanggal 11 Juli, besok gak ada acara, napa?" Tanya Soya yang penasaran.
"Kalau begitu, besok jam 8, Soya pergi ke hotel Milenial Sirih, bang Tan sedang nginap disini." Jawab Tan.
"Serius! Bang Tan di Jakarta sekarang? Sejak kapan? Kenapa gak langsung ke rumah, nyak dan babe tahu bang Tan di Jakarta?" Tanya Sonya bertubi-tubi.
"Jangan bilang bu'lek dan Pakde, bang Tan ingin memberikan kejutan, baru tadi Magrib bang Tan sampai, karena sudah malam, bang Tan putuskan besok aja ke rumah, makanya kamu besok ke hotel Milenial Sirih pagi, bantu bang Tan bawa oleh-oleh untuk kalian ini." Jelas Tan.
Tan tertawa lagi melihat pesan itu. Dia membayangkan bagaimana reaksi Sonya saat melihat rekeningnya. "Pasti dia akan sangat kaget dan tidak bisa berkata-kata."
Meskipun Tan berkata seperti itu, tapi dia tidak akan memperlihatkan yang yang ada di rekeningnya. Cukup bagi Sonya, pa'lik dan bu'denya tahu kalau dirinya tidak akan mengalami masalah keuangan lagi untuk waktu yang lama.
"Bang Tan sudah mendapatkan pekerjaan, tidak pengangguran lagi, jadi bisa pergi ke Jakarta untuk liburan dan menginap di hotel." Jelas Tan.
"Benarkah? Soya juga dengar dari Nyak kemarin bilang ke babe kalau bang Tan sudah punya pekerjaan dan hutang bang Tan sudah lunas semua, jadi benar bang Tan sudah punya pekerjaan, Soya pikir itu hanya alasan bang Tan aja biar nyak gak khawatir sama bang Tan." Kata Sonya.
Tan melihat pesan itu hanya bisa mengucapkan terima kasih dan mendoakan terbaik pada keluarga Bu'denya. Bagaimanapun keluarga bu'lek Asmuni adalah salah satu kerabat yang masih peduli terhadapnya disaat dalam keadaan susah.
"Jadi bang Tan tunggu Soya di hotel Milenial besok, ingat jangan bilang ke pa'lik dan Bu'de." Kata Tan.
"Siap 86 sir!" Kata Sonya.
Setelah itu Tan tidak lagi mengirim pesan ke Sonya agar dia bisa lanjut nonton drakornya yang entah apa judul dan ceritanya.
Beberapa menit kemudian, suara bel presidential suite berbunyi. Tan segera beranjak dari tempat tidurnya itu, berjalan menuju ke pintu utama presidential suite tersebut.
Dia melihat melalui lubang kecil di pintu dan melihat seorang pegawai restoran hotel ada di sana. Dengan cepat Tan membuka pintu tersebut yang tidak perlu menggunakan kartu elektronik karena pintu dapat dibuka secara langsung dari dalam, meskipun dalam keadaan terkunci.
"Apa tuan memesan makanan?" Tanya pegawai restoran itu.
Tan menganggukkan kepalanya dan kemudian membiarkan pegawai itu masuk dengan trolley makanan. Dia kemudian meletakkan makanan dan minuman yang ada di trolley ke meja makan.
"Semuanya, 723.500 rupiah sudah termasuk PPN 11% dan service charge 12%, tuan, kalau bisa bayar dengan uang pas saja tuan." Ujar pegawai itu setelah selesai memindahkan makanan dan minuman ke atas meja makan.
Tan memberikan uang 100 ribu sebanyak delapan lembar dan tidak perlu kembalian. Selain itu juga melakukan seperti biasa, tidak lupa dengan uang tip 500 ribu untuk pegawai restoran itu karena dia sudah mengerjakan tugasnya dengan baik, membawa makanan sampai ke kamarnya.
"Terima kasih tuan, terima kasih banyak." Ujar pegawai itu dengan penuh kegembiraan karena mendapatkan uang tip 500 ribu.
Dia belum pernah mendapatkan tamu hotel atau restoran yang dengan mudahnya memberikan tip sebanyak 500 ribu selama dia berkerja di restoran hotel Milenial Sirih, 2 tahun lamanya.
Setelah pegawai restoran itu pergi dengan senyum sumringah karena mendapatkan uang tip yang cukup besar, Tan segera menyantap makanan yang ada di atas meja makan tersebut.
Dia menyelesaikan makan malamnya itu, kurang dari 8 menit dan tidak ada yang tersisa. Semuanya dihabiskan sampai pegawai restoran yang bertugas mencuci tidak perlu bersusah-susah payah mencuci piring bekas makanan Tan.
"Sudah jam setengah 12 malam, tunggu beberapa menit dan lalu tidur." Gumam Tan yang langsung duduk di sofa depan tv LED berukuran 32 inchi.
Dia melihat salah satu saluran TV berbayar yang berasal dari negara Korea Selatan.
Tan menonton drakor yang tidak sedang tayang di saluran tersebut. Dia menonton Drakor karena Soya terus memberitahunya kalau dirinya sedang menonton drakor dan Tan mengganggunya.
"Apa yang menarik dari drakor ini? Bukankah sama aja seperti sinetron?" Gumam Tan.
Setelah sepuluh menit berlalu, dia masih belum mendapatkan sesuatu yang menarik dalam drakor itu dan menganggap kalau drakor dan sinetron tidak terlalu banyak perbedaan, hanya akting pemerannya, pengambilan gambar dan jalan ceritanya aja yang sedikit bagus daripada sinetron.
Tan memutuskan untuk mematikan TV LED tersebut dan pergi ke tempat tidurnya untuk beristirahat karena dia melihat jam di ponsel pintarnya sudah hampir pukul 12 malam.
Keesokan harinya, Tan bangun seperti biasa dengan suara alarm berbunyi di ponsel pintarnya tepat pukul 4 dini hari. Dalam hotel, suara adzan tidak terlalu terdengar sehingga dia memasang alarm agar bisa bangun dan sholat subuh.
Setelah sholat subuh serta dzikir dan berdoa, Tan melakukan peregangan otot di depan jendela kamar hotel Milenial Sirih, menatap langit yang perlahan-lahan menjadi terang.
Dia melakukan peregangan otot selama 15 menit yang kemudian langsung mandi dengan air hangat. Biasanya dia akan mandi saat matahari sudah mulai kelihatan agar tidak terlalu dingin saat mandi, tapi karena ada air hangat dia bisa langsung mandi paginya lebih awal.
Selesai mandi dan memakai pakaian yang dipakainya semalam, dia segera menuju ke sofa untuk menonton acara drakor lagi sambil menunggu waktu sarapan pagi hotel itu tiba, jam 7 pagi dan saat ini masih jam 06.22 WIB, masih ada 38 menit lagi.
Tan menonton acara drakor lagi karena dia ingin mendapatkan kenikmatan dari nonton drakor yang semalam tidak dia dapatkan. Saat ini drakor yang tayang bertema sejarah Korea Selatan saat masih menjadi sebuah kerajaan yang bernama Joseon.
Sampai jam tujuh pagi tiba, Tan tidak mendapatkan kenikmatan dalam menonton drakor dan dia berpikir, "Sepertinya aku dengan drakor tidak memiliki kecocokan sama sekali."
Tan segera menantikan TV, mengambil menaruh ponsel pintarnya ke saku celana training dan segera keluar dari ruangan presidential suite tersebut untuk menuju ke restoran agar dia bisa menyantap sarapan pagi gratisnya.
Sesampai di restoran yang masih lumayan sepi itu, Tan segera menuju counter pendataan tamu hotel yang menginap untuk menunjukkan kunci elektroniknya agar bisa mendapatkan sarapan pagi gratisnya.
Sarapan pagi yang ada di restoran hotel tersebut di buat dalam bentuk prasmanan. Para tamu hotel bisa mengambil sendiri makanan yang diinginkan dan jumlah porsi sesuai keinginan para tamu hotel.
Tan segera menuju ke meja prasmanan, mengambil nasi kuning yang bersebalahan dengan nasi goreng. Sedangkan Lauk yang diambilnya, tentu saja penuh dengan daging, seperti bistik sapi, sate ayam, udang pedas manis, ayam goreng, dan bistik ayam.
Selain dengan lauk penuh daging itu, dia juga mengambil lauk lainnya seperti sayuran bening, cah kangkung, telur dadar dan bakwan jagung. Dengan Lauk sebanyak itu dia menggunakan dua piring dan satu mangkuk kecil untuk sayuran beningnya.
Porsi makannya memang selalu sebanyak itu dan dia bisa menghabiskan semuanya. Meskipun sebanyak itu, lambungnya tidak penuh, masih ada ruang untuk diisi lagi, tapi Tan tidak akan melakukannya karena dia sudah memperhitungkan dengan porsi sebanyak itu tidak akan membuat dirinya kenyang tapi hampir terasa kenyang.